Setan Penjilat

 Oleh : Ade Hismawati

 

Jam menunjukan pukul setengah satu malam. Hari Kamis sudah berganti menjadi hari Jum'at. Aku naik ke atas kasur sambil menggengam ponselku. Berniat untuk segera tertidur dengan alih-alih besok aku harus bangun pagi dan melakukan Pelajaran Jarak Jauh.

Suasana kamar begitu sepi. Telingaku terada berdengung sangking sepinya kamar ini. Semua orang pasti sudah tertidur di dalam kamar mereka masing-masing, aku akan segera menyusul mimpi indahku malam ini. Sebelum tidur kusetel alarm agar tidak kesiangan untuk melaksanakan salat subuh, setelah menyetel alarm aku membaca doa tidur dan mulai memejamkan mata.

Pandanganku gelap saat memejamkan mata, terlebih lampu kamar memang selalu aku matikan saat tidur mengingat salah satu sunnah yang Rosul ajarkan pada umatnya. Perlahan aku memasuki alam bawah sadar. Tapi kali ini berbeda, aku terpejam dan merasakan bahwa mimpi itu segera mengambil alih tidurku tapi aku masih dalam keadaan sadar dan merasakan jika ada seseorang yang naik ke atas kasur.

Aku membuka mata. Dan aku terlonjak kaget saat aku bisa melihat tubuhku yang sedang pulas tertidur di atas kasur, sedangkan jiwaku sedang berdiri di belakang pintu sambil menatap bingung tubuh ku yang dibalut selimut.

Meneguk saliva dengan kasar, aku terus berdoa memohon pada Tuhan jika ini hanya sebuah mimpi. Jiwaku pergi dari tubuh, bukan 'kah itu dinamakan kematian? Apakah aku sudah mati? Tidak! Tidak mungkin!

Aku memejamkan mataku dalam. Ku rasakan keningku basah dan sedikit dingin. Dalam hati aku terus mengucap asma-Nya agar dilindungi dari masalah apapun yang sedang aku alami.

Dengan jantung yang berdebar, keringat yang membanjiri kening, serta tangan yang gemetar aku mendekat pada tubuhku yang masih tertidur dengan nyenyak dengan hembusan napas yang sangat teratur.

Sebenarnya ini apa?! Mimpi atau aku memang sudah mati? Baru beberapa menit yang lalu aku selesai mengerjakan tugas, menyetel alarm dan berniat untuk tidur. Apakah malaikat pencabut nyawa sudah menjemput dan mencabut nyawaku saat aku ingin tertidur?

Perlahan aku mendekat. Terlihat disebelah kiri tubuhku terdapat tubuh lain yang tertidur dengan damai pula. Aku kenal siapa dia, aku tahu, dia adalah orang yang aku rindukan setelah kepergiannya setahun yang lalu.

Mamah ... malam ini dia tidur bersamaku di atas kasur yang sama.

Air mataku lolos begitu saja tidak bisa menahan rasa rindu yang benar-benar menghantam hati untuk segera ditebus. Perlahan aku semakin mendekat, suara langkah kaki-ku terdengar begitu jelas karena keadaan sekitar memang sangat sunyi.

Nampaknya, Mamah memang sudah menungguku sejak lama. Ingin membalas rindu pula. Perlahan wanita cantik yang sudah tidak muda itu terusik, matanya perlahan terbuka dan tersenyum hangat melirik tubuhku yang tertidur disampingnya. Kini, aku yang berdiri di depan tubuhku dan Mamah yang sedang tersenyum hanya mampu diam membisu.

Mamah mengangkat kakinya menaiki tubuhku yang masih tertidur. Awalnya aku kira Mamah ingin memelukku, namun aku salah. Pemandangan yang sangat menjijikan dan sangat tidak aku ingin lihat terjadi begitu saja. Terlihat begitu jelas, ditangkap begitu baik oleh otak yang terus menerus berfikir tidak percaya bahwa hal itu terjadi.

Dia. Wanita cantik yang sangat aku rindukan berubah menjadi wanita mengerikan. Duduk di atas tubuhku dengan mata merah menyala. Baju putih penuh bercak kecokelatan dan darah, rambut ikal acak-acakan, dan jangan lupakan kuku panjang yang berwarna hitam dan seperti luka bakar yang sangat tidak sopan sudah membelai wajahku begitu pelan.

Debar jantungku terasa begitu cepat. Sontak aku mundur hingga terasa tubuh bagian belakangku menyentuh tembok. Aku, menutup kedua mulutku menahan untuk tidak teriak saat itu juga kala melihat hantu mengerikan itu menjulurkan lidahnya hingga menyentuh perutku. Lendir berwarna merah keluar dari mulutnya membuat tubuhku yang masih tertidur itu penuh dengan cairan menjijikan itu.

Tubuhku runtuh ke lantai dengan semua rasa takut yang aku alami. Melihat hantu itu menjilat wajahku yang masih tertidur dengan sangat nikmat, kukunya terus membelai wajah bahkan mengeluarkan tanganku yang semula tertutup oleh selimut untuk ia genggam.

 

Mamah ...

Aku benar-benar menangis. Aku ingin menjerit. Sosok yang aku rindukan selama ini berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan. Tidak! Itu bukan Mamah. Itu hanya hantu yang berusaha mengambil alih perhatianku dengan merubah wujudnya menjadi Mamah.

"Pergi! Jangan pernah sentuh tubuhku!" teriakku pada sosok itu.

Seperti tuli, sosok hantu yang sibuk menjilati wajahku tidak melakukan apapun. Dia tidak mendengar aku berteriak.

"Pergi!" teriakku lagi, kali ini lebih keras. Namun, sekeras apapun aku berteriak sosok mengerikan itu tidak kunjung menengok ke arah ku yang sedang memeluk lututku di atas lantai yang begitu dingin.

Surah pendek bahkan Ayat Kursi yang aku baca tidak berpengaruh apapun dengan sosok itu. Bagaimana ini? Apakah aku harus lari dan meninggalkan tubuhku atau aku tetap ada disini menyaksikan tubuhku yang sedang dijilati oleh sosok itu?

"Kakak! Tolongin Adek!" teriakku meminta tolong. Namun, semua orang seakan tidak mendengar ucapan ku sama sekali.

"Bangun! Buruan bangun!" Aku kembali berteriak. Semoga tubuhku yang sedang tertidur itu mampu mendengar suaraku, namun tidak. Tubuhku masih damai terlelap dalam tidurnya bersamaan dengan lendir yang menghiasi wajah serta bagian perut.

Sosok itu. Mata merah menyala, lidah panjang menjulur ke bawah, kuku panjang, dan wajah hitam seperti retak yang terus mengluarkan darah. Dua taring panjang yang tumbuh di gigi atas benar-benar tidak bisa aku lupakan bagaimana sosok menyeramkan itu.

Napasku kembali memburu. Debar jantungku semakin cepat. Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Air mata terus saja mengalir sambil melihat sosok itu mengangkat kuku panjangnya ke udara. Dalam hitungan detik kuku itu menancap wajahku hingga darah segar mengalir dengan deras.

Lirihan dari mulut sosok itu terdengar jelas dalam telingaku. Dia benar-benar menginginkan aku ikut dengannya dan menemaninya menuju neraka.

 

"Kau telah mati dan akan terus abadi bersamaku di neraka." Itu kata dia. Diiringi suara tertawa yang membuat telingaku seakan ingin pecah.

“Jangan!" teriakku membuka mata.

Kuhapus keringat yang membasahi kening. Mimpi tadi seperti nyata. Dengan gemetar aku menyalakan lampu kamar, sekitar kamar masih baik-baik saja tidak ada yang berubah. Kejadian mengerikan tadi murni bunga tidur semata, tidak ada yang perlu ditakuti sebab hakikatnya manusia lebih tinggi derajatnya dibanding setan.

Dalam hati terus saja aku ber-istighfar, menyebut nama-Nya yang menjadi penguasa langit, bumi, serta seluruh misteri yang ada di dunia ini. Aku bersyukur masih diberi kesadaran setelah mengalami hal seburuk itu.

Semoga, hal buruk seperti ini tidak akan terulang lagi.

0 Komentar