Ruang ICU

 

Mengalami rasa ketakutan yang luar biasa, tapi gak bisa ngapa-ngapain. Jangankan untuk lari, untuk menutup mata dengan kedua tangan atau menarik selimut untuk menghindar dari 'mereka' itu sangat sulit. Aku mengalaminya dan itu karena semua alat medis  yang ada di tubuhku.

Ini hari ke empat saat aku tersadar dari koma, rasanya jauh lebih sulit dari pada saat tertidur panjang. Satu-satunya yang bisa aku lakukan saat melalui semua ini hanyalah menangis tanpa suara. Tapi semua itu bisa aku hadapi karena kabar yang membahagiakan dari dokter soal kandunganku. Iya aku sedang mengandung saat mengalami koma untuk yang ke dua kalinya.

"Alhamdulillah, kandungannya baik-baik saja bu, masuk usia 4 bulan dan anak ibu laki-laki. Selamat ya."

Ucap dokter yang saat itu habis memeriksa kandunganku dengan alat usgnya. Mendengar itu tentu saja aku bahagia, tapi aku hanya bisa menunjukkannya dengan meneteskan  air mataku.

****ICU***

"Bipp..."

 "Bipp..."

Suara mesin infus mulai fokus terdengar, dari aku membuka mata sampai menutup mata lalu membuka mata lagi. Suaranya sangat jelas. Ruang ICU memang selalu terlihat sepi, bahkan sebagai pasien, aku tidak pernah bisa membedakan mana pagi, siang, sore ataupun malam. Semua terlihat sama, ke abu-abu an dan bergerak lebih lambat.

Jika suara mesin-mesin medis  itu tak berbunyi pasti ruangan ini sepinya  kurang lebih seperti di kuburan dan pastinya tidak mengasyikan, karena percayalah buat kami, khususnya aku suara  mesin itu sangat  menghibur disaat aku terkurung dalam raga seperti ini dan benar-benar merasa kesepian. Setidaknya suara itu lebih menghibur ketimbang suara cakaran di dinding atau suara tangisan perempuan yang entah ada dimana.

"Waktunya makan ya bu." Ucap petugas yang datang  mengantarkan susu untukku.

Aku hanya mengedipkan mataku. Sebelum dia berlalu pergi, pertanda aku mengiyakan ucapannya. Terbaring dengan selang dimana-mana lumayan pegel, rasanya aku sudah tak sabar ingin terlepas dari semua ini. Sungguh ini luar biasa melelahkan.

Bahkan untuk menengok ke kanan kiri saja sulit buatku. Aku juga hanya sesekali merasakan gerakan pada kandunganku. Ada rasa khawatir tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu seorang  perawat pria datang menghampiriku.

"Ayo bu makan dulu ya, pelan-pelan aja." ucapnya sambil mengambil segelas susu hangat dan menuangkannya kedalam selang, selang yang terhubung ke hidung menuju ke tenggorokanku. Aku memang hanya meminum susu sebagai pengganti makananku

Rasanya benar-benar gak enak, tapi mau gimana, aku gak ada daya cuma bisa pasrah dan menikmati saat air susu itu masuk menelusuri selang ke tenggorokanku. Dan saat moments itu berlangsung, lagi-lagi sosok itu hadir tiba-tiba dan berdiri di sampingku, tepatnya di samping kami.

Dengan matanya yang melotot, wajah pucat pasi, pria tua itu terlihat sangat lelah, dia hanya berdiri, diam menatapku. Karena kemunculannya yang tiba-tiba, tentu saja aku kaget dan tersedak, semua air susu yang masuk tadi kembali keluar dan membasahi seluruh wajahku.

Jika sudah begitu perawat dengan sigap menenangkanku, karena saat itu terjadi aku panik luar biasa, dan sakitnya juga luar biasa. Seandainya tidak ada besi sepanjang jari telunjuk    yang mengganjal di dalam mulutku, aku pasti sudah berteriak menolak untuk makan atau sedikit saja bisa menggerakkan tanganku, aku pasti sudah  memberitahukan ke perawat untuk tidak memberiku makan disaat sosok itu ada di antara kami.

Dan aku terus berusaha mencoba menyampaikan ke mereka, hingga satu hari tanganku berhasil menarik lengan baju salah satu para perawat itu. Tapi sayang perawat itu salah menangkap isyarat dari ku.

"Iya bu, kenapa? ibu yang tenang ya, memang gak enak. Sedikit lagi ya, susunya dihabiskan, kasian kandungan ibu, kalo ibu gak ada makan." 

Ucap perawat itu sambil menuang kembali sisa susu yang ada di gelas tadi. Sesekali perawat menghapus air mataku dan menyemangati ku agar aku kuat dan sabar. Uhh!! Usahaku sia-sia, kenapa semua  perawat  tidak memahami maksudku. Berulang kali aku harus melalui ini, tersedak saat makan, dengan kesakitan yang luar biasa. Dan aku hanya  bisa menangis, semua itu karena pria tua itu.

Entah kenapa dia selalu muncul di setiap jam makan ku tiba. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku. Apa dia lapar atau haus, karena setiap susu itu tumpah sosok itu menghilang entah kemana dan selalu seperti itu. Dan aku harus parno, menahan rasa takut dan sakit  karena ulahnya.

Beberapa hari setelah kejadian-kejadian itu, aku baru mengetahui  jika Pria tua itu adalah pasien yang bersampingan tempat tidur denganku yang   meninggal beberapa hari lalu. Dan pantas saja setelah jenazah pria itu di jemput oleh pihak keluarganya, aku tidak pernah lagi melihatnya  muncul secara tiba-tiba di jam makan ku.

'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'

Aku ingat aku sempat mengucap kalimat itu saat mengetahui bapak tua itu telah berpulang, meski aku tidak tau apa yang diinginkan almarhum, aku tetap mengiriminya Alfatihah. Dan terlepas dari semua itu tentu saja aku sedikit lega, setidaknya tidak ada lagi sosok pria tua yang muncul tiba-tiba menggangguku di jam makan, dan membuatku kesakitan.

Malam hari di hari ke tujuh, sekitar jam berapa aku kurang tau, aku bisa mengetahui itu saat tidak sengaja mendengar percakapan suster dengan rekan sekerjanya saat ada di dekatku. Suster hanya datang sesekali melihat kondisiku, begitu dia memastikan semua baik-baik saja, dia kembali ke ruangan lain.

Posisi tempat tidurku ada di tengah dan ada dua tempat tidur di kanan kiriku salah satunya bekas Almarhum bapak tua itu. Dan sekarang kosong dan disebelah kananku seorang wanita, aku mengetahui dia wanita karena biasa setiap pagi, dia berteriak histeris saat perawat memandikannya.

Dengan kondisi yang sekarang aku sudah ada  kemajuan, aku sudah bisa sedikit  menengok  dan membalikkan badanku ke kanan dan ke kiri, terasa sangat kaku sesekali aku gerakan kedua kakiku berharap itu membantu. Di jam-jam sepi begini adalah jam dimana aku menikmati rasa sakit yang ada di tubuhku.

Dan entah berapa kali aku melihat bayangan hitam dan putih lalu lalang di hadapanku. Meski aku yakin mereka bukan manusia, aku berusaha untuk berpura-pura tak melihatnya. Bahkan ada satu perempuan yang berdiri sedikit jauh dari posisi ku, dia berdiri disudut ruangan ini. Terlihat seperti seorang perawat dan dia hanya muncul disaat aku memejamkan kedua mataku.

 

Tiba-tiba ada suara gaduh ternyata ada pasien baru dalam keadaan kritis dan langsung dimasukan ke ruangan khusus yang berada tepat didepanku, kurang lebih tiga meter dari posisiku. Ruangan yang jendela pintunya serba kaca yang ditutupi tirai. Beberapa perawat dan dokter jaga, bergegas masuk kedalam ruangan beserta dua orang dari keluarga pasien tersebut.

Aku hanya mengamati dari kejauhan dan berdoa, semoga pasien itu selamat dari kritisnya, setelah berapa menit, perawat dan keluarga bergantian keluar masuk. Sepertinya keadaan pasien mulai stabil meski dalam keadaan koma.

Dan semua itu aku ketahui dari suamiku yang ke betulan tiba-tiba ikutan masuk dengan membawa tisu dan Pampers untukku sambil sesekali berbisik menceritakan soal pasien itu. Setelah itu keadaan kembali sepi, tak ada seorangpun yang boleh menunggui kami, mereka hanya boleh melihat kami sebentar saja dan di jam tertentu.

Entah apa yang membuat ku terus fokus pada ruangan di hadapanku, aku melihat bayangan hitam  besarnya dua kali lipat dari manusia, bayangan itu masuk menembus pintu jendela dan berhenti tepat di samping ranjang. Dan terlihat jelas duduk menyatu dengan dinding, jadi terlihat seperti bayangan di dinding.

Bayangan hitam itu duduk diam sedikit lebih lama  dan sesekali bersujud. Aku terus amati dan berpikir itu bayangan apa, aku coba pejamkan mata ku, mungkin aku sedang bermimpi atau halu ku saja, tapi bayangan hitam itu masih ada. Dan beberapa saat kemudian pasien kembali kritis, perawat dan dokter terlihat sangat serius, aku juga melihat dokter menggunakan alat detak jantung.

Beberapa kali, salah satu kerabat pasien keluar dari ruangan sambil menangis hingga akhirnya kabar kematian pasien terdengar. Dan itu adalah kematian kedua dari beberapa kematian sejak aku ada di ruangan ICU.

(End)

'Tidak kau temukan aku di manusia lain' adalah motto hidupnya bahwa setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain dengan begitu setiap orang harus tetap semangat menjalani hidupnya. Linn, perempuan yang lahir tanggal 2 februari yang berdomisili di Balikpapan adalah salah satunya, mencoba berbagi pengalaman-pengalamannya  melalui sebuah tulisan.

Balikpapan, 3 Januari 2021

0 Komentar