Peringatan hari kemerdekaan sudah berlalu, tetapi patung di depan rumah Ibu masih terpajang. Hiasan berbentuk anak kambing dan boneka anak kecil yang menuntunnya itu menjadi pusat perhatian sejak selesai dibuat oleh Paman Amin dan Herdi, suami adik bungsuku.
Dekorasi berupa bendera merah putih, rangkaian kertas
warna-warni, dan banyak lagi hiasan lainnya yang dibuat sekreatif mungkin sudah
dibereskan. Namun, ada keengganan menyingkirkan patung itu. Entah mengapa. Aku
pun segera pulang ke rumahku di kampung sebelah.
Terhitung seminggu setelah aku kembali, Ayah menelepon
mengabarkan kalau Ibu sakit. Aku pun datang lagi ke rumah Ibu, tetapi sekarang
patung itu sudah tak ada.
"Ayo, masuk," ajak Aisyah. Adik bungsuku itu sudah
menunggu kedatanganku di depan pintu rumah.
Aku yang baru turun dari motor segera mengikuti langkahnya.
Sebelum masuk, sekali lagi menoleh pada tempat bekas menaruh boneka dan patung
itu. Ada perasaan aneh yang tak bisa diungkapkan, bahkan sejak pertama kali
melihatnya melalui foto yang dikirim Aisyah pada aplikasi hijau.
Saat memasuki kamar Ibu, terlihat wanita yang telah
melahirkanku itu tergolek lemas. Aku mendekat, lalu duduk di sampingnya.
"Sakit apa, Bu? Kata Aisyah di telepon, tadi katanya
Ibu pingsan?" tanyaku khawatir.
"Entahlah, Nak. Ibu selalu merasa sakit kepala dan
panas dingin menjelang sore hari, sedangkan pagi dan siang tak apa-apa,"
jawabnya lemah.
Khawatir dengan kondisi Ibu, akhirnya aku menginap. Lagi
pula hari mulai gelap. Setelah makan malam bersama, aku turun ke lantai bawah
menuju kamar untuk istirahat. Bagian rumah yang ini sepi, berbeda dengan lantai
utama di atas. Sangat cocok untuk menenangkan pikiran di kala kacau.
Baru saja membaringkan badan pada kasur dan menutup mata,
tiba-tiba melihat sosok pria bertaring menyeringai di atasku. Refleks aku
bangun sambil berteriak. Apa itu tadi? Mana mungkin aku bisa melihat padahal
mata memejam?
Aku mengedarkan pandangan dengan napas tak beraturan dan
jantung berdetak kencang. Sosok tadi tidak ada, mungkin hanya halusinasi.
"Kak, ada apa?" tanya Aisyah panik, setengah
berteriak dari kamar sebelah. "Apa merasakan keanehan juga?"
lanjutnya.
Jadi, Aisyah juga merasakannya?
Aku segera berteriak dan memanggilnya keluar. Kemudian, kami
pun berkumpul bersama semua anggota keluarga di lantai atas. Ternyata bukan
hanya aku, semua orang di sini mengalami keanehan.
"Sebenarnya Ibu sudah sakit sejak malam sebelum
perayaan, tepat setelah membuat hiasan. Obat dari dokter tak mempan. Selain
itu, sakitnya juga pilih-pilih waktu. Makanya kami berinisiatif membawa Ibu
pada orang yang punya ilmu kebatinan. Katanya, Ibu kabadi, Kak," terang
Susi.
Ya, itu mungkin saja. Aku pernah mendengar bahwa beberapa
orang yang terkena kabadi, sakitnya itu parah menjelang sore sampai malam.
Kabadi adalah penyakit yang disebabkan makhluk lain, bisa karena mereka
terganggu atau mereka yang iseng mengganggu. Biasanya, setelah dilakukan
mediasi akan sembuh dengan sendirinya saat itu juga.
Daerah ini masih cukup kental kepercayaannya pada hal berbau
mistis yang dianggap mitos oleh sebagian orang di dunia.
"Kabadi dari mana?" tanyaku penasaran.
"Patung yang di depan rumah, kambing sama anak kecil
itu," jawab Aisyah.
Sebenarnya saat hiasan itu dibuat sudah ada yang menegur,
bahkan Yusuf-- suami dari Susi yang dikenal irit bicara itu juga ikut menegur.
"Jangan sembarangan bikin patung kalau tidak bisa
menyempurnakannya. Nanti jadi petaka, loh." Gugun berujar yang sama persis
dengan Yusuf. Namun, Om Amin dan Herdi tak mengindahkan dan menganggap hanya gurauan
semata.
"Patung kambing itu mati di siang hari, sedangkan
malamnya hidup, loh," ucap Yusuf semalam setelah patung itu dibuat.
Tepatnya pada hari perayaan. Penuturan yang dibalut senyum tipis itu pun
dianggap gurauan lagi.
Aku bergidik. Ada bayangan sekilas, mata patung kambing
menyala. Angin dingin meniup tengkuk.
Mereka kemudian menceritakan, setelah mengetahui bahwa
patung kambing itu dimasuki makhluk gaib mereka mencabut dan memindahkannya ke
samping rumah di bawah. Sementara boneka anak kecilnya belum.
Pada malamnya mereka mendengar suara entakkan kaki yang
berlari kencang menuruni undakan jalan di samping rumah Ibu. Namun, aneh karena
setelahnya tak mendengar suara derit pintu terbuka, baik pintu rumah Ibu maupun
rumah Om Amin di sebelahnya. Penghuni kedua rumah pun dilanda kebingungan.
"Aku pikir hanya aku yang mendengar, ternyata Om Amin
juga," ucap Susi. "Aneh, juga, sih. Semenjak saat itu, sudut rumah
yang ada patung itu menjadi sepi dan seram," lanjutnya.
"Kenapa tidak dibakar saja?" tanyaku pada Ibu.
"Iya. Pada malam itu Ibu bermimpi sedang lewat di
tempat pembangunan kolam baru di bukit sana. Bertemu anak kecil yang menuntun
kambing. Kambing itu ngikutin Ibu ke sini," jawabnya pelan.
Aku mangut-mangut. Firasatku mengatakan bahwa itu bukan mimpi
biasa yang sekadar bunga tidur. Dapat aku simpulkan, bahwa suara entakkan kaki
berlari itu adalah ....
"Ya, makhluk penghuni boneka anak kecil mencari patung
kambing," ucap Ibu. Persis seperti yang aku pikirkan. Jadi, ada dua
makhluk pada dua benda.
"Lalu, sekarang di mana kedua benda itu, Bu?"
"Patung kambing dan boneka anak kecil yang terbuat dari
gulungan kain itu sudah dibakar kemarin. Ibu pun sembuh. Tapi tadi sebelum
subuh, Ibu keluar mengambil kayu bakar dan melihat rok yang dipakaikan pada
patung kambing tersampir di sana. Saat itu juga merasa pusing dan tak sadarkan
diri," terang wanita yang berbaring lemah itu.
"Maaf, roknya masih bagus. Sayang kalau dibakar,"
tutur Herdi.
Kami menemui orang yang punya ilmu kebatinan, sekali lagi
untuk memastikan. Agar tak ada kesalahpahaman antar makhluk. Bagaimana pun
mereka juga pasti tak mau dituduh, andai itu tak benar.
"Bakar roknya, dia bersemayam di sana," tutur pria
yang kami temui.
Kami pun segera menyuruh orang untuk membakarnya.
"Saat ini sedang banyak makhluk halus yang berkeliaran.
Berhati-hatilah! Bukannya tanpa sebab, mereka telah kehilangan tempat tinggal
karena pembangunan kolam renang baru itu tanpa permisi. Termasuk yang kemarin
menghuni patung kambing dan boneka anak kecil di depan rumah ibumu. Apalagi
bentuk hiasan itu sangat mirip dengan wujud mereka," tuturnya panjang
lebar.
"Tapi, kenapa Ibu bisa sampai sakit?"
Orang yang ditanya hanya tersenyum terselubung, sampai
akhirnya dia menjelaskan penyakit kabadi. Ah, aku lupa. Bukankah penyakit itu
sudah sedikit kupahami? Ini karena terlalu panik.
Masih ada pertanyaan dalam benak, kenapa Ibu yang sakit?
Bukan Ibu yang mengganggu dan menghancurkan tempat tinggal mereka. Kenapa tidak
datang saja kepada pemilik proyek?
"Makhluk-makhluk gaib itu juga sama seperti manusia.
Ada yang baik dan jahat. Daripada mencari pelampiasan yang jauh, kenapa tidak
marah pada yang dekat saja. Begitulah."
Aku masih tak terima, kenapa harus menanggung kesalahan
orang lain. Eh, sudah dijelaskan, ya, bahwa mereka ada juga yang jahat.
"Jalan keluarnya sekarang adalah kita berdamai. Meminta
maaf dan saling mengislahkan walau kita tidak bersalah," lanjut orang
berilmu batin itu.
Setelah dilakukan mediasi, akhirnya Ibu sembuh dan
makhluk-makhluk gaib itu bersedia meninggalkan tempat ini. Tempat yang sama
sekali bukan milik mereka.
Ternyata mereka pun ada kesamaan dengan manusia. Ingin
dihormati pula. Mereka ada di mana-mana berbaur dengan kita dan hidup
berdampingan. Tak akan terjadi masalah dan tetap damai asal kita tak pelit kata
permisi walaupun tak melihatnya.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.