Pengalaman Di Kamar Kost


Kost pertamaku itu terletak di Jalan Cokonuri. Berada di salah satu jalan buntu, tepat di belakang rumah yang ditinggal oleh pemiliknya selama bertahun-tahun. Konon, rumah itu milik seorang perantau yang kini menetap di Malaysia. Sudah sering pemiliknya ingin menjual, tetapi tidak ada yang berani membeli. Beberapa orang mengaku sering melihat penampakan perempuan berpakaian putih di rumah kosong depan kost-ku itu.

Aku saat itu adalah mahasiswi baru di salah satu universitas negeri di Makassar. Letak kelasku di Jalan Pendidikan. Untuk ke kampus, aku berjalan kaki. Biasanya datang lebih awal agar tidak kepanasan saat matahari meninggi. Untuk pulang, biasanya aku baru pulang setelah Asar. Ada beberapa kajian islami yang sering aku ikuti di kampus.

Namun, aku tidak bertahan lama di rumah kost itu. Bukan karena rumah yang katanya berhantu berada tepat di rumah kost-kostan itu.

Malam itu aku hanya tinggal berdua bersama teman kost dan kakak yang merupakan teman sekamarku. Beberapa penghuni kost pulang karena memang liburan semester sudah tiba. Aku sendiri masih tinggal untuk menemani kakak yang bekerja.

Dari pintu belakang terdengar suara ribut. Seakan berusaha membuka kunci. Bulu-buluku meremang, membayangkan apa yang mungkin akan menimpa kami malam itu. Letak rumah yang terpencil, hingga tidak mungkin ada yang mendengar teriakan kami.

Anehnya, ada tiga ponsel di rumah itu, tetapi tidak satu pun yang bisa digunakan untuk menelepon. Sinyal ponsel hilang secara bersamaan. Padahal sebelumnya, aku masih bisa menggunakannya berkirim pesan dengan seorang teman.

Suara gedoran makin keras. Aku dan Santi--teman yang kamarnya berada di depan kamarku--memberanikan diri mendekat ke arah pintu. Jantungku saat itu berdetak sangat kencang. Seakan darahku mengalir sangat deras karena mesin pompanya bekerja lebih cepat dari biasanya. Dingin seketika mengerjap.

Tanganku menggenggam erat tangan Santi. Bersama keberanian yang tersisa secuil aku bertanya dengan suara bergetar, "Siapa di luar?"

Tidak ada jawaban. Justru suara gedoran makin keras lagi. Pintu dari kayu itu mungkin akan terlepas dari engsel jika terus di gedor.

Aku dan Santi mundur. Kami gemetaran. Namun, kami juga sadar bahwa apa pun yang akan menimpa kami malam itu, kami tidak mau menyerah.

Santi menyalakan senter ponselnya, lalu disorot ke arah luar. Nihil. Kami tidak bisa menjangkau apa pun selain kegelapan. Sementara itu, pintu masih terus digedor tiada henti.

Kakakku di kamar terus memutar ayat suci dari ponsel, sambil ikut melantunkannya. Hampir setengah jam kami dirundung rasa takut dan gemetaran. Tiba-tiba, ada pesan masuk di ponsel kakakku. Itu pesan dari sepupuku. Tidak tinggal diam, kakakku pun menelepon dan mengabarkan perihal pintu kost yang terus digedor.

Kami mondar-mandir kebingungan. Berlari keluar tentu bukan ide yang bagus. Jika yang menggedor pintu adalah perampok, maka kami tidak akan memiliki kesempatan untuk lari.  Rumah itu berada sekitar 200 meter jauhnya dari pemukiman warga.

"Mel, panaskan air!" suruh Santi yang entah untuk apa. Namun, tetap kuturuti.

"Kita siram saja kalo dia tidak mau pergi," jelas Santi sengaja berteriak.

Mungkin sekitar lima menit setelah teriakan Santi, gedoran di pintu menghilang. Entah capek atau takut pada ancaman. Jujur saja, itu bukan ancaman belaka. Seandainya orang atau makhluk apa pun yang ada di balik pintu terus menggedor, aku benar-benar akan menyiraminya dengan air mendidih.

Aku baru tenang setelah mendengar suara mobil mendekat ke arah rumah kost. Aku kenal suara mesin mobil itu. Tiba-tiba saja, ada suara ponsel dari arah belakang. Aku dan Santi sempat berpandangan. Akhirnya, kami menarik kesimpulan bahwa yang menggedor pintu belakang kami adalah manusia.

Namun, ada beberapa hal yang terus mengganggu benakku hingga kini; sinyal ponsel yang tiba-tiba hilang dan pintu yang hanya dikunci oleh kayu buatan tangan tidak berhasil dibuka oleh orang yang menggedor selama lebih dari setengah jam. Kalau tidak salah ingat, setiap pintu di rumah itu memang dipasangi selembar kertas berisi tulisan Arab gundul yang sama. Mungkin itu semacam azimat.

 

*.*.*.

 

Pengalamanku selama menempuh bangku kuliah tidak hanya malam itu. Selama hampir empat tahun kuliah di Makassar, aku empat kali berpindah kost. Kebanyakan karena ikut kakak.

Pengalaman kali ini saat aku di kost ke tiga, di Jalan Mappala. Saat itu aku sudah selesai KKN, dan sibuk mengerjakan proposal skripsi. Kakakku pun sudah pindah tugas di Pangkep. Penghuni kost lain pulang kampung karena liburan semester. Aku satu-satunya yang harus tinggal karena masih mengurus beberapa berkas kelengkapan untuk ujian proposal.

Malam itu mungkin sekitar jam 2 dini hari. Aku baru selesai mengerjakan revisi proposal. Tubuhku yang sangat lelah akhirnya berbaring di ranjang. Rasanya nyaman sekali. Posisiku miring ke kiri sambil memeluk guling. Tiba-tiba mataku tertuju pada pintu. Seketika mataku membulat kala melihat sosok perempuan berbaju putih. Rambutnya sangat panjang hingga menutupi kakinya yang tidak menapak di lantai.

Aku meremang, tetapi lelah masih menguasai. Aku pun memilih berbalik menatap tembok. Masa bodoh dengan apa yang kulihat tadi. Bukankah hal gaib itu memang nyata?

Aku tinggal sendiri di lantai dua rumah kost itu untuk waktu yang lama, dan terbilang cukup sering. Setelah dua bulan penampakan perempuan itu, aku melihatnya lagi, di tempat yang sama, di depan pintu. Anehnya, kisaran jamnya pun sama. Saat itu, aku terbangun dari tidurku. Saat melihat ke arah pintu, sosok itu tiba-tiba saja muncul. Mendadak dingin memenuhi, tetapi dinginnya berbeda dari angin kipas yang biasa menyentuh kulitku. Dingin yang seakan membekukan setiap bulu di kulitku.

Sosok itu hanya berdiri di sana. Rambut hitam dan panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Namun, seperti biasa, aku memilih untuk memejamkan mata seolah dia tidak ada. Aku tidak mau menarik perhatian dengan berteriak atau bersikap jelas bahwa aku melihatnya.

Bagiku, dunia yang aku tinggali dengannya berbeda. Jika aku bisa melihatnya, mungkin itu karena dia sedang ingin menampakkan diri. Selain itu, aku sewaktu SMA merupakan siswa yang kerap mengalami kesurupan. Mungkin karena kesurupan itu yang membuat batas duniaku dan dunianya kadang tampak. Selama tidak menggangu, tidak ada salahnya.

Sebagai muslim, aku diwajibkan untuk percaya keberadaan jin dan setan. Itu sebabnya, aku percaya pada hal mistis. Namun, hal itu tidak membuatku takut. Justru menambah keyakinan bahwa Tuhan telah menciptakan makhluk selain manusia.

Manusia memiliki dunia lain dengan perhitungan pasti. Makhluk astral mungkin juga memiliki dunia yang tidak jauh beda, tetapi mata manusia tidak cukup untuk melihat dunia mereka.

 

*. Selesai .*


0 Komentar