Kuwalat

 

"Bagaimana Yah  jadinya? mumpung murah," desakku ke suami meminta kepastian.

Bukan apa-apa aku mendesak suami untuk segera memutuskan kami mengontrak dimana. Pasalnya, waktu jatuh tempo rumah kontrakan  lama tinggal menghitung hari. Nasib kontraktor ya begini. Siap pindah jika rumah diminta pemiliknya. Dengan alasan akan dijual maka terpaksalah kami mencari kontrakan baru lagi. Padahal sudah mulai nyaman tinggal di situ walaupun ada kebiasaan bergosip ria. Yang penting nggak ikut-ikutan, bereslah.

 

Suami tidak segera menjawab. Begitulah watak suami. Tidak lekas panik dan tergesa-gesa ketika memutuskan sesuatu. Berbanding terbalik sama istrinya. Makanya ada sedikit rasa gemas ketika suami malah diam bahkan cenderung cuek. Haduh mau tinggal dimana ini?

 

Sebelumnya kami sudah berputar-putar mengelilingi beberapa desa untuk mencari kontrakan. Rata-rata harganya selangit bagi ukuran kami saat itu yang masih "babat" istilahnya. Apalagi kami juga harus membayar sewa toko yang dijadikan tempat servis komputer-printer punya suami. Jadi dobel sewa toko sama sewa rumah tinggal. Kalau mau digambarkan isi kepala kami mungkin seperti benang ruwet. Namun, suami tidak pernah menampakkan kegelisahan karena sulitnya ekonomi yang tengah dihadapi. Bahkan, tak pernah sekalipun kami merasakan kelaparan. Suami rutin memberi uang belanja tiap hari atau kalau istrinya tidak memasak dengan sigap membelikan masakan matang.

 

"Cari yang lain dulu ya. Atau ke rumah emak kalau nggak dapat rumah kontrakan," jawab suami.

 

"Nggak enak to Yah. Ada mbak dan adik  ipar di sana," kataku menyanggah.

 

"Lha terus bagaimana?"

 

Nada suami sudah agak meninggi. Aku diam menyadari diri ini yang salah mendesak suami. Entah, ada rasa keengganan suami untuk menempati rumah kontrakan itu. Padahal aku lihatnya baik-baik saja. Apa karena ke sananya pas siang hari ya?

 

Rumah itu milik adiknya seorang kawan yang sudah meninggal. Rumahnya berhadapan langsung dengan hamparan ladang tebu yang luas. Jadi begitu membuka pintu yang nampak  ladang tebu.

 

Rumah kontrakan ini terletak di paling belakang atau ujung gang. Rumah tetangga ada tapi pintunya menghadap ke jalan raya dan jalan gang. Samping kiri kanan tak ada rumah. Misal ada suatu kejadian buruk dan mengharuskan teriak, aku rasa tak ada yang mendengar teriakan tersebut. Karena rumah kontrakan itu lebih dekat ke ladang tebu daripada ke rumah tetangga.

 

Karena tak ada pilihan lain, suami terpaksa menyetujui tinggal di rumah kontrakan tersebut. Saat itu sewanya 1,5 juta per tahun. Rumah dengan ruang tamu, 2 kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Dindingnya masih berupa batako belum disemen dan dicat.

 

Hari pertama tinggal di rumah kontrakan sudah harus uji nyali. Suami yang mendadak ada pekerjaan dan ternyata lampu baru dipasang satu di ruang tamu. Ya Allah Ya Rabb. Karena baru pindahan, kami memang menggelar kasur di ruang tamu. Aku hanya berdua dengan bayi berusia 14 bulan dalam keadaan gelap kecuali di ruang tamu. Untungnya si bayi tidak rewel bahkan sudah tidur lepas maghrib. Aku merasa kesepian dan diliputi rasa takut. Apalagi suara tokek terdengar begitu nyaring.Tak lepas doa dan dzikir keluar dari mulut.

 

[Yah, pulang jam berapa?] tanyaku.

[Otw, beli lampu dulu] jawab suami.

 

Tak lama, hanya dalam hitungan menit ada deru motor berhenti. Fyuhh, lega. Belahan jiwaku sudah datang. Segera aku bukakan pintu menyambut kepulangannya. Dengan bergegas suami memasang lampu sementara sekenanya dulu karena besok masih mau minta tolong temannya untuk mengatur dan  memasang kabel-kabel saluran listrik.

 

*

Hari demi hari kami lewati. Lama-kelamaan kami sudah terbiasa tinggal di rumah itu. Kebiasaan merantau semasa masih bujang memudahkanku untuk beradaptasi dengan rumah baru. Kalau nggak cepat beradaptasi mau tinggal dimana? Hihihi ...  Anak dan keponakan pemilik rumah juga sering bermain dengan Niya si bayi usia  14 bulan.

 

Alhamdulilah beberapa minggu kemudian, ada adik temannya suami yang mau tinggal bersama kami dalam rangka sekolah. Eli namanya. Tentu saja aku senang mendapatkan teman. Setidaknya, saat suami pulang tengah malam ada temannya di rumah. Walaupun sudah terbiasa, tapi kalau malam tiba tak beranilah aku menatap gelapnya ladang tebu di depan rumah.

 

Suatu ketika di bulan Ramadan tahun 2014, ada acara buka bersama di salah satu rumah kawan pengajian. Aku diantar suami ke tempat buka bersama diselenggarakan. Sedangkan suami memilih berbuka  di warung kopi. Eli sendirian di rumah.

 

Ada perasaan nggak enak meninggalkan Eli sendirian di rumah. Bergegas setelah kelar sholat Maghrib aku minta suami menjemput. 

 

Begitu sampai rumah, Eli cerita tadi pas adzan Maghrib ada suara anak kecil memanggil nama anakku.

"Niya ... Niya ...  suaranya," ceritanya.

 

Eli juga bercerita, demi mendengar nama Niya disebut bergegas dibukanya pintu rumah. Bermaksud mau bilang ke anak tersebut Niya nggak ada di rumah. Ternyata begitu pintu rumah dibuka yang nampak semacam sekelebat  putih masuk menuju kamar mandi. Eli masih terpaku memilih diam di ruang tamu menanti kedatangan kami.

 

Ya Allah merinding mendengar ceritanya. Selama ini aku belum pernah melihat apapun selain tokek besar 2 biji yang sering ngumpet di pintu kamar Eli dan atap rumah. Juga tikus segede lengan yang dengan santainya berlari-lari di dapur. Harus dikuat-kuatkan karena setahun masih lama.

 

*

Kembali beberapa minggu kemudian kami pulang lepas Isya' karena baru dari rumah ibu. Eli sendirian di rumah. Biasanya dia baru sampai rumah mendekati Maghrib. Benar-benar anak sekolah dikuras tenaga dan pikirannya. Paling cepat Ashar sampai rumah.

 

Hari itu suasana sekitar rumah sudah gelap. Apalagi ladang tebu yang tanpa pencahayaan gelap  pekat tak nampak suatu apapun. Namun ketika sampai depan rumah agak kaget karena terang. Ternyata pencahayaan dari lampu teras dan pintu rumah terbuka lebar. Apa ada kakaknya Eli ya? Karena kakaknya Eli sering berkunjung.

 

Tak nampak sepeda motor terparkir di depan rumah. Bismillah coba masuk ke dalam dengan tak lupa mengucap salam. Suami masih memasukkan motor di "garasi" berdinding anyaman bambu yang terletak di belakang rumah. Rumah nampak sepi tak ada tanda-tanda kakak Eli. Kalau Eli sendirian, berani betul membuka pintu malam-malam.

 

Begitu masuk segera kutidurkan Niya karena sudah terlelap selama berkendara di motor tadi. Ketika sedikit menoleh ke belakang nampak ada sosok seperti Eli tinggi kurus memakai gamis hitam dengan rambut terurai berjalan dari kamar mandi menuju dapur. Pikirku, oh Eli lagi di kamar mandi tadi. Pantas salamku tidak dijawab.

 

Segera aku masuk kamar mandi untuk bersih diri tanpa menoleh ke kamar Eli. Setelah selesai bersih diri, aku sempatkan ke kamar Eli untuk bertanya kok pintu dibuka lebar malam-malam. Sewaktu melintasi kamar Eli aku langsung kaget. Pasalnya pintu kamar terbuka lebar dan itu bocah dalam keadaan terlentang tidur tanpa kerudung dengan dikelilingi kertas-kertas tugas sekolah. Padahal jeda waktu sosok seperti Eli nampak dengan aku melintas di kamar Eli hanyalah 5-10 menit. Dari posisi Eli tidur sepertinya dia sudah lama tertidur pulas. Segera aku tutup pintu kamarnya mengingat dia tidak memakai kerudung. Padahal Eli bukan mahram suami.

 

Esoknya aku tanyakan perihal pintu terbuka semalam ke Eli.

"Semalam aku ngantuk banget Mbak. Lepas sholat Maghrib langsung tepar," jelasnya.

 

"Lho pintu rumah terbuka lebar nggak ngerti berarti?" tanyaku selidik.

 

"Lho terbuka  Mbak? Ya Allah aku lupa nutup berarti. Semalam capek banget Mbak. Habis sholat Maghrib mau ngerjakan tugas malah ketiduran."

 

"Lain kali jangan diulangi ya. Pokok masuk rumah langsung ditutup pintunya. Takutnya kalau ada orang jahat masuk rumah. Kalau yang diambil barang atau uang masih tidak apa. Tapi kalau nyawa atau ada apa-apa dengan dirimu kan ya bahaya. Rumah ini paling belakang, kalau kita teriak pun nggak ada yang bakalan dengar," jelasku panjang lebar.

 

Eli berjanji tak mengulangi lagi. Perihal sosok menyerupai dirinya tak aku ceritakan. Aku hanya bercerita ke suami. Seperti biasa, suami menanggapi dengan santainya. Tidak apa-apa katanya wong cuma lewat. Pengen takhiih.

 

*

Tidak sampai setahun sekitar kurang 3 bulan jatuh tempo kontrakan, kami sepakat pindah. Eli pun sudah tinggal di kos dekat sekolah karena kecapekan harus mengayuh sepeda dengan jarak yang lumayan jauh. Kejadian buruk menimpa kami. Sewa toko dengan mendadak tidak boleh diperpanjang dan malah dialihkan ke orang lain. Padahal suami sudah bilang mau memperpanjang sewa. Yah begitulah uang yang berbicara.

 

Untuk pengiritan karena keterbatasan dana, suami memutuskan toko dan tempat tinggal jadi satu saja. Biar tidak dobel bayar uang sewanya. Aku menurut tidak mau membantah. Sudah kapok. Kuwalat sama suami karena memaksakan kehendak tinggal di rumah kontrakan itu. Aku akan menurut apapun yang menjadi keputusan suami. Kami menyewa garasi rumah. Bagian depan untuk toko sedangkan bagian belakang untuk tempat tinggal. Alhamdulillah masih diberikan rizki bisa tinggal dengan layak walaupun masih mengontrak.

 

Selang beberapa tahun, tentu saja masih dalam keadaan mengontrak di sana-sini, kami sengaja melewati jalan setapak menuju rumah kontrakan lama. Nostalgia kata suami. Agak kaget, ternyata sudah berdiri beberapa rumah di sekitar ladang tebu. Suasana sudah ramai tidak seperti waktu kami mengontrak dulu yang menjadi satu-satunya rumah di situ. Yang lebih mengagetkan, ladang tebu depan rumah kontrakan sudah berganti  dengan rumah megah yang masih dalam proses pembangunan.

 

"Weleh ... Berani benar ini yang  mbangun rumah depan kontrakan. Beh beh ... "

Ucapan itu terlontar dari mulut suami.

 

"Lha kenapa memang Yah? Biarin lho sudah rame ini. Nggak kayak dulu sepi," kataku.

 

"Heh! Itu tempatnya kerajaan begituan. Makhluk-makhluk nggak kelihatan. Berani bener ini yang mbangun rumah."

 

Aku pukul punggung suami yang tengah menyetir motor. Bisa-bisanya bilang seperti itu. Lha dulu anak istrinya dibiarkan tinggal di depan kerajaan makhluk halus.

 

"Kok dulu nggak pernah bilang?" tanyaku.

 

"Halah! Yang penting semua selamat nggak ada apa-apa to?" jawab suami santai.

 

0 Komentar