Oleh: Mata Hati
Saat usiaku delapan tahun, kami sekeluarga pindah rumah.
Masih di kota yang sama, kota yang terkenal dengan oleh-oleh Bika Ambon. Kota
kelahiranku.
Sebelum pindah ke rumah baru, ada sesuatu yang terjadi di
rumah lama kami. Rumah yang menurutku cukup besar. Sudah delapan tahun kami
huni. Rumah itu, penuh dengan hal mistis. Aku yang saat itu masih berusia enam
tahun, sudah lumayan mengerti soal begitu. Karena melihat dengan mataku
sendiri.
Banyak hal yang sudah terjadi di sana. Satu diantaranya yang
masih kuingat adalah saat pintu rumah kami diketuk berulang kali dengan nada
dan irama yang sama oleh makhluk tak kasat mata. Pintu ruangan apa pun, pasti
ada bunyi 'tok-tok-tok'.
Sudah dipastikan tak ada orang di balik pintu. Bagaimana
mungkin ada, karena posisi aku dan abangku yang saat itu bersender di pintu
kamar belakang sedang asyik menonton televisi, ditakuti dengan bunyi tok-tok.
Kami pun bertatapan. "Apa itu?" tanya abangku.
Kujawab dengan masa bodo, "Nggak tau!"
"Coba dengarin lagi. Masih ada lagi tuh,
bunyinya," ujarnya hati-hati.
Lantas aku pun diam mendengarkan. Ternyata benar. Bunyi
tok-tok itu semakin nyata.
"Bang! Apa itu?" pekikku kemudian setelah sadar
dengan gangguan itu.
"Lari!" ajaknya padaku. Kami segera meninggalkan
televisi yang masih menyala.
Tak cukup sampai di situ. Malamnya aku merasakan gangguan
itu lagi. Membuatku benar-benar tak bisa tidur. Pintu samping yang berupa akses
masuk ke rumah, jadi sasarannya. Pintu itu berdekatan dengan jendela kamarku.
Tak mungkin membuka pintu saat itu karena sudah tengah
malam. Lagian mana ada orang datang bertamu di jam tidur. Aku hanya berusaha
memejamkan mata agar bisa tertidur. Akhirnya alam mimpi menyapa.
Kuceritakan hal yang kualami malam itu pada Abang. Wajar
jika dia percaya. Karena dia sudah merasakan sendiri gangguan itu. Namun, usia
kami yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tak mungkin menceritakan pada
Ibu Bapak. Pasti mereka tak percaya.
Waktu pun berjalan. Akhirnya Bapak dan Ibu mengalami sendiri
keganjilan yang terjadi di rumah lama. Hingga
puncaknya Bapak memutuskan kami sekeluarga untuk pindah saat 'penghuni
lain' semakin merajalela mengusik.
Diawali dari kamar utama yang ukurannya paling besar
dibanding kamar lainnya.
Satu kejadian di luar nalar. Saat itu musim kemarau. Tak
pernah hujan. Kamar itu ditempati Ibu dan Bapak. Saat memasuki kamar, kehebohan
terjadi.
"Tadi hujan, di sini?" tanya Ibu heran padaku dan
Abang.
Kami menggeleng. Ibu dan Bapak baru saja tiba di rumah, sepulang
kerja.
"Adik kalian nggak ada tidur di sini kan? Bukan ompol
dia, kan?" timpal Bapak.
"Bukan. Mana pernah si Adik tidur siang di kamar
ini," jawab abangku.
Kami memang tak pernah mau tidur di kamar itu kalau tidak
rame-rame. Karena posisi kamar yang paling jauh di antara tiga kamar lain di
rumah ini. Tak ada sinar matahai yang masuk.
"Jadi, ini apa?" tanya Bapak lagi seraya menunjuk
ke kasur.
Aku dan Abang sontak terkejut. Kami perhatikan dengan
seksama apa yang ditunjuk oleh Bapak. Ompol yang ukurannya tak layak, sangat
besar. Hampir satu spring bed ukuran 180x200.
Bapak mengendus yang basah itu. Lantas melihat ke asbes.
Jika memang itu adalah tetesan hujan, pasti ada tetesan yang menggantung.
Beberapa menit menunggu dan memperhatikan dengan seksama, nihil. Tak ada
pertanda apa-apa.
Esoknya, Bapak meminta temannya datang ke rumah, tapi di
saat jam kami belum pulang sekolah. Kemudian sewaktu makan malam, Bapak
membicarakan pada kami semua percakapan antara Bapak dan temannya itu.
Menurut pengakuan Bapak, temannya mengerti tentang alam
gaib.
"Yang nempati rumah kita ini adalah makhluk bernama
genderuwo. Tadi Bapak sempat dikasih lihat sama dia. Tapi atas persetujuan
Bapak dulu. Mata Bapak diusap Beliau, tampak sosok tinggi besar berwarna hitam.
Kepalanya sebesar kulkas, matanya sebesar ukuran kepala manusia berwarna merah
menyala. Dia meminta kepala kerbau, beberapa tandan pisang, dan
sebagainya," ucap Bapak panjang lebar.
Ibu, aku, dan Abang hanya saling tatap. Aku menelan ludah.
Adikku saat itu usianya kurang dua tahun.
"Terus?" Ibu menimpali.
"Ya Mas nggak mau. Itu sama aja kita ngikuti maunya
dia," jawab Bapak.
"Jadi gimana? Kerbau pula yang diminta. Tau dia yang
mahal. Maksudnya kerbau mentah?" tanya Ibu lagi.
"Iya, diminta potong di sini. Dia mau darah kerbau dan
kepalanya," sambung Bapak.
"Astaghfirullah," ucap Ibu. Kami bertiga
geleng-geleng kepala.
Jeda waktu seminggu dari kejadian itu, Bapak mengajak kami
pindah ke kecamatan kelahiran Ibu. Dengan alasan ingin berdagang, rumah lama
itu pun dijual.
Perjalanan satu jam kami tempuh ke rumah baru. Aku
meninggalkan kenangan buruk di rumah itu. Kurasa, kejadian semua di sana
membuatku menjadi sosok penakut.
.
Menempati rumah baru, bukan berarti kami bebas dari gangguan
makhluk tak kasat mata itu. Berbeda tingkah mereka yang di sana dengan yang di
sini. Namun, keberadaan mereka memang benar-benar ada.
Rumah lama kami hanya satu lantai. Namun, sangat luas.
Sedangkan rumah baru kami, dua lantai. Ukurannya lumayan luas. Ada empat kamar juga
di sini.
Dulu, sewaktu di rumah lama, baby sitter menginap di rumah
kami, tapi tak satu pun mereka menceritakan hal buruk yang terjadi selama di
sana. Aku tak tahu, apakah tak diganggu, atau memang merahasiakannya dari kami.
Ketika di rumah baru, sudah tak ada lagi baby sitter. Ibuku
hanya mempekerjakan asisten rumah tangga yang pulang hari. Datang pagi kemudian
pulang siang setelah semua pekerjaan beres.
Ada ART yang setiap bekerja membawa anak usia empat tahun.
Beliau pernah bercerita kalau anaknya sering mencegah sang ibu untuk menaiki
tangga. Dengan alasan, ada nenek yang mau naik. Biar nenek dulu. Padahal tak
ada siapa-siapa di rumah saat itu.
Kejadian lain lagi, saat sepupu kami menginap di rumah untuk
beberapa bulan karena akan mengikuti SPMB (dulu pada masanya disebut SPMB).
Jadi sebelum SPMB ingin mengikuti bimbingan belajar intensive.
Si kakak sering tidur larut untuk belajar. Meja belajar kami
berada di ruang tengah lantai dua. Saat itu dia yang masih belajar dikagetkan
dengan penampakan anak lelaki kecil yang sedang ngesot. Menurut pengakuannya,
pakaian si anak makhluk lain itu, sangat memprihatinkan, seperti habis perang.
Berlumpur dan berdarah.
Sontak dia masuk ke kamarku, menggigil ketakutan. Aku yang
saat itu sudah tertidur, lantas terbangun. Merasa terganggu dengan suara
ketakutannya.
"Kenapa, Kak?" tanyaku dengan hati-hati.
Perlahan dia menjawab dengan suara yang gemetar. Hal itu
tentu saja membuatku takut. Kami pun tidur dihantui rasa takut yang sulit
diungkapkan.
Tak cukup sampai di situ. Rumah baru kami masih menyimpan
cerita mistis yang lain. Kami semua sudah pernah diganggu dengan cara yang
berbeda pula. Ibu, Bapak, Abang, Adik, dan aku.
.
Menurut pengakuan Ibu. Beliau pernah diganggu dengan
berbagai penampakan. Mulai dari seseorang yang mirip aku, pernah juga seseorang
yang mirip adiknya Beliau. Namun, hanya tampak dari samping atau belakang.
Terjadi saat sahur di bulan Ramadhan. Aku yang saat itu
belum bangun. Namun, Beliau melihat seseorang yang sepertiku, sedang
membelakanginya. Kaos yang kukenakan saat itu bewarna biru, tetapi sosok yang
dilihatnya memakai kaos pink.
Ibu kaget saat aku ke dapur. Kaosnya kok beda, ucapnya dalam
hati. Namun, tak diutarakannya. Kemudian akhirnya Beliau mengatakan padaku perihal
yang dilihatnya tadi setelah kami selesai sahur. Aku pun merinding.
Beda lagi dengan kejadian yang dialami Bapak. Kamar yang
Beliau tempati tepat di samping tangga. Beliau diganggu dengan suara orang yang
jatuh dari atas ke bawah.
Beliau takut kami anak-anaknya yang jatuh menggelinding.
Berulang sampai tiga kali Beliau membuka pintu, tapi nihil, tak ada
siapa-siapa.
Yang dialami abangku pun berbeda. Saat menunaikan salat
Tahajud tengah malam, dia merasa ada seseorang di belakangnya yang menjadi
makmum salat. Padahal tak ada siapa-siapa.
Pengalaman aku dan adikku lebih terasa. Selisih usia kami
lima tahun kurang empat bulan. Karena sama-sama perempuan, kami tidur di kasur
yang sama. Kejadian itu malam sebelum terjadi tsunami hebat di Aceh tanggal 26
Desember 2007.
Saat itu, kami yang sama-sama belum tertidur, sedang dalam
posisi berhadapan. Tiba-tiba satu suara mengagetkan kami.
"Dek ...."
Terdengar suaraku, padahal aku tak membuka mulut. Tak ada
mengeluarkan suara.
"Apa, Mbak?" jawab adikku.
Sontak aku menjawab. "Nggak ada mbak manggil kau."
"Loh, jadi tadi?" potongnya cepat.
"Nggak tau. Bukan mbak yang manggil kau," timpalku
pula.
"Betullah, Mbak. Serius?" Dia bertanya padaku.
Nada suaranya sudah mulai ketakutan.
"Iya. Ish, jadi tadi siapa?" tanyaku pula yang
mulai merinding.
Kami memeluk erat guling. Subuh, rumah kami diguncang gempa
hebat. Akhirnya setelah pagi melihat televisi, gempa diketahui berpusat di
Aceh.
Lantas aku mengatakan pada adikku itu. "Coba tadi malam
kau jangan ngomong. Mungkin 'dia' mau ngasih tau sesuatu."
"Udahlah, jangan nakutin lagi," jawabnya cepat.
Waktu berlalu cepat. Kejadian lain tetap ada. Tak mau
terlalu ambil pusing, tapi tak juga abai. Kami hanya bisa melindungi rumah
dengan banyak mengaji dan salat sunnah tanpa meninggalkan salat fardhu.
Masing-masing dari kami punya cerita sendiri. Namun, satu
yang pasti. Di mana pun, mereka ada. Kini, aku tak di kota itu lagi. Namun,
kenangan mistis itu tak terlupakan.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.