Kamar No 8

 Oleh : Zulyana Aksan

 

    Hari baru yang indah dengan langit yang berwarna biru yang begitu bersih. Tiada awan hari itu, burung kecil menari berputar mewarnai langit dengan warnanya yang ceria. Sang bayu bertiup syahdu. Seorang gadis dengan seragam putih dan kerudung yang sama mematut dirinya di depan cermin. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.30. Hari ini Melati dinas sore di sebuah ruangan perawatan syaraf di rumah sakit tempatnya magang. Dengar cerita dari bibir beberapa teman ada satu kamar yang terkenal angker di sana yaitu kamar no 8 tapi Melati tidak pernah percaya isu dan rumor yang beredar. Selain karena ia memang bukan gadis penakut, Melati juga tidak percaya hal-hal yang belum pernah ia lihat dan alami sendiri.

    "Dinas sore di Kuntum ya, Mel?" sapa Aira yang melihat Melati sedang bersiap-siap. Aira adalah teman sekamar Melati dan sekaligus teman satu kampus dengannya. Mereka sudah magang di rumah sakit itu selama sebulan dan hari itu mereka akan menempati ruangan yang baru lagi. Melati di ruangan khusus syaraf dan Aira di ruangan bedah wanita.

    "Iya." jawab Melati pendek.

    "Gak takut, Mel? Cerita yang kudengar ruangan sana sedikit horor...banyak yang mengalami kejadian yang menakutkan."

    "Misalnya?" tanya Melati sambil menoleh ke Aira yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.

    "Banyak digangguin penunggu kamar 8."

    "Oh....apakah kau pernah mengalaminya sendiri?"

    "Hiiiii....ogah amat! Amit-amit jabang bayi jangan sampai deh, Mel." sahut Aira bergidik ngeri.

    "Dasar penakut!"

    "Dah ahk aku berangkat dulu. Keburu telat." ujar Melati sambil meraih tas hitam yang selalu setia menemaninya setiap aktifitas.

    "Hati-hati, Mel!"

    "Iyaaa....!"

    Tiba di ruangan Melati langsung menemui petugas shift sebelumnya dan membaca laporan pasien satu demi satu. Tidak banyak pasien hari itu tapi Melati hanya dinas seorang diri menemani kakak senior yang memang adalah karyawan tetap di ruangan sana. Ruangan Kuntum namanya merupakan sebuah ruangan khusus pasien syaraf termasuk pasien dengan pasca stroke dan gangguan syaraf lainnya.

    Sebuah ruangan yang cukup privasi dengan kapasitas 6 ruangan saja. Satu ruangan VIP, dua ruangan kelas 1 dan 3 ruangan kelas 2 yang sekarang menampung pasien 4 orang, 2 orang di masing-masing kamar yaitu kamar 5 dan kamar 6, ruangan kelas 1 hanya 1 orang penghuninya, seorang ibu yang dalam masa pemulihan karena benturan di kepalanya akibat terpeleset di kamar mandi dan pasien pasien VIP yaitu pasien kamar 8 saat itu sedang kosong. Aku juga membaca di buku laporan pasien kalau kamar 8 tidak ada penghuninya.

    Semua berjalan dengan baik sampai selesai aku memberikan injeksi. Waktu menunjukkan jam 16.00 dan karena sudah azan ashar maka aku segera menunaikan ibadah salat ashar.

    Habis salat aku mulai menjalankan tugas yang lain yaitu memandikan pasien yang belum bisa ke kamar mandi dan membutuhkan bantuanku sebagai perawat. Tetapi dua pasien di kamar 5 dan 6 menolak bantuanku dan memilih dimandikan oleh keluarga saja sehingga aku pun keluar dari kamar tersebut lalu membereskan semua peralatan.

    Setiba di ruang jaga perawat seorang pasien wanita yang berumur kira-kira sebaya denganku sudah menunggu dengan menenteng infusnya. Segera aku berlari dan membantunya.

    "Mbak, kenapa keluar? Keluarganya mana?" tanyaku sedikit panik karena kulihat darah sudah naik setengah selang infusnya.

    "Semuanya pulang. Saya sendirian." katanya lemas.

    Segera kutuntun dia dan membawanya kembali ke kamar yang ditunjukkannya.

    Setiba di kamarnya aku melihat sebuah kamar yang mewah dengan furniture dan hiasan yang berbeda dari kamar lainnya di ruangan Kuntum ini. Hatiku sedikit bertanya, kok tadi aku tidak dikasi tahu kalau ada pasien di sini? Apa karena tadi aku sibuk injeksi makanya kakak senior yang namanya Amin itu menerima pasien ini sendiri? Aku membantin sendiri.

    "Sekarang berbaring di sini ya, saya akan betulkan infusnya supaya cairannya kembali mengalir dengan lancar!"

    "Terima kasih ya. Kamu sudah mau membantu saya. Saya beruntung bertemu dengan perawat sebaik kamu."

    Aku hanya tersenyum dan dengan cekatan membereskan pekerjaanku.

    "Nah Alhamdulillah sudah beres. Lain kali pencet saja belnya ya. Tu,  di samping tempat tidur. Gak usah jalan sendiri cari perawat di ruang jaga. Syukur hanya infus yang macet. Kalau kamu yang malah jatuh bagaimana?" kataku sambil menyentuh tangannya yang terbungkus piyama lengan panjang. Tangan itu terasa dingin, mungkin karena pengaruh pendingin ruangan.

    Gadis ini cantik dan putih, rambutnya lurus dan hitam tapi aura mata itu susah buat kuceritakan, seperti menyimpan kesedihan yang mendalam.

    "Nama kamu siapa? Kenalkan aku Melati. Selama satu Minggu ke depan kita akan selalu bertemu. Mau jadi temanku kan?" tanyaku memecah keheningan yang menyergap.

    "Aku Sherlly. Aku mau sekali menjadi sahabat orang sebaik kamu Melati tapi aku tidak bisa."

    "Loh kenapa?"

    "Orang tuaku melarangku  bergaul dengan sembarang orang. Makanya saat aku kecelakaan dan dirawat disini tidak ada yang menengokku. Kecuali Joan." katanya sedih.

    "Aku akan menjadi temanmu selama kau dirawat di sini. Jangan sedih ya, aku akan sering ke kamarmu biar kamu tidak kesepian."

    Sherly hanya tersenyum tapi aku lihat tidak ada kebahagiaan di senyum itu. Aku jadi kasihan padanya dan semakin bertekad ingin menjadi temannya.

    "Aku ingin sekali mandi. Membersihkan diriku lalu memakai gaun yang kusukai. Aku ingin tampak cantik sebelum Joan datang nanti. Apakah kau mau membantuku, Melati?"

    "Hmm...Joan ya? Kekasihmu? Tentu saja. Aku akan membantumu." kataku lagi sedikit menggodanya.

    Sherly hanya tersenyum dan wajah putihnya seperti bercahaya terkena sinar lampu.

    Aku segera menyiapkan air hangat lalu menuntun Sherly ke kamar mandi. Membantunya membersihkan tubuh dan membantunya memakai gaun putih cantik yang digantungnya di almari kamar itu.

    "Ada lebam di bebarapa bagian tubuhmu. Apa waktu kecelakaan kau terseret, Sher?"

    Sherly tersenyum dan kelihatan sangat cantik dengan gaun putihnya, ia seperti boneka barbie yang sering kulihat di toko mainan.

    "Terima kasih Melati. Aku tidak akan melupakanmu."

    "Okey, sekarang aku pamit ya. Aku harus melihat pasien yang lainnya. Selamat menunggu ya!"

    Aku menutup pintu kamar dan tidak lupa melihat nomor kamar yang ada di atas pintu. Aku harus mendokumentasikan tindakan yang kulakukan pada Sherly dengan lengkap.


    "Astaghfirullahaladziiim...darimana saja kau, Dek?" seru Mas Amin tiba-tiba mengejutkanku.

    "Ya, Allah, Mas sampai kaget aku."kataku sambil memegang dadaku yang rasanya jantungnya mau copot.

    "Kamu kemana saja sudah waktunya pulang kamu gak kelihatan. Dinas malam sudah pada datang tapi kamu kok malah menghilang."

    "Aku ke kamar nomor 8, Kak. Sherly membutuhkan bantuanku."

    Kulihat wajah di depanku pias begitu juga wajah-wajah lain yang berdatangan mengerumuniku.

    "Ada apa sih?" tanyaku heran.

    "Beneran kamu ke kamar 8, Mel?" tanya Ima. Ima adalah teman satu kampus juga denganku.

    Aku mengangguk dengan ragu dan menunjuk ke arah kamar di belakangku.

    Ima langsung menarikku ke kamar itu disusul oleh Mas Amin dan dua orang perawat lain yang juga bertugas malam itu.

    Ima membuka kamar 8 yang gelap, menghidupkan lampu dan aku melihat tidak ada siapa pun di kamar itu. Kosong.

    "Tapi...tadi....!"

    "Kau tadi sama hantu, Mel." jerit Ima sambil menarikku menjauh dan mematikan lampu dan menutup pintu kamar itu dengan tergesa.

    "Hantu?" tanyaku hampir pada diriku sendiri.

    Dan aku yakin aku tidak bertemu hantu tapi diberikan kesempatan untuk membereskan sesuatu yang belum diselesaikan oleh seorang gadis bernama Sherly yang kini nampak tersenyum dengan gaun putihnya yang indah. Wajah itu nampak bahagia digandeng seorang pria berkemeja putih. Itu pasti Joan. Semoga kalian berbahagia batinku sambil tersenyum membalas senyum mereka.

 

The end

0 Komentar