Hantu Pembawa Petaka

 Oleh: La Hantuen

 

Sungai Danau, 2014

    Dengan sedikit terpicing, kulihat samar wajah milik Sarwani. Entah kenapa sahabat sekaligus rekan kerjaku itu tak seperti biasanya membangunkan tidur lewat tengah malam begini.

    "Ada apa? Aku masih ngantuk!" seruku dengan malas.

    "Reza, lekas bangun, itu siapa yang lagi main air di kamar mandi?"

    "Ah, paling juga tetangga kita, Sar!"

    "Bukan, itu dari kamar mandi kita, cobalah bangun, dengarkan baik-baik!"

    Sarwani coba membangunkan kembali, kali ini sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Merasa percuma jika tidur kembali, aku kemudian duduk dan coba menajamkan telinga.

    "Mana? Aku tidak mendengar apa-apa, Sar!''

    "Tunggulah sebentar! Nah itu ...."

    Byuur!

    Byuur!

    Suara itu terdengar jelas, suara kecipak air layaknya orang yang sedang mandi. Aku mulai merasa bingung. Pasalnya, kami hanya berdua di rumah kontrakan ini. Lagipula siapa yang mau mandi tengah malam buta, apalagi di kamar mandi kami?

    Dengan keberanian setengah-setengah, kami pun berinisiatif pergi memeriksa ke asal suara. Secara perlahan aku mengintip lewat lubang kunci pintu kamar mandi yang tertutup. Namun, sepertinya kosong, tiada siapapun orang di sana. Akan tetapi, suara air itu memang berasal arah dalam, tepat di depan kami.

    Lalu setelah kubuka lebar pintu kamar mandi, memang tidak ada siapapun. Sementara suara air berhenti tepat ketika aku membuka pintu tadi. Ini sungguh aneh! Apalagi lantai kamar mandi tampaknya kering. Air di bak mandi pun tiada riak, hanya terlihat satu gayung berwarna hijau yang mengapung telungkup.

    Suasana menjadi hening sekarang. Sarwani yang menggamit bajuku dari belakang, malah melongo ketika aku memandangnya seakan meminta jawaban.

    "Tadi itu siapa?"

***

    Malam ini, malam pertama kami menginap di Sungai Danau. Menempati rumah kontrakan yang disediakan oleh perusahaan yang memakai jasa kami untuk menangani kerusakan alat berat di pertambangan. Lelah selama dalam perjalanan dari Samarinda belum lagi reda, tapi kami sudah dihadapkan oleh kejadian di luar logika. Aku pribadi, yang semenjak remaja sudah sering mendengar dan mengalami sendiri beberapa keanehan dan juga pernah melihat penampakan, kali ini dibuatnya sangat merinding. Firasatku mengatakan, keanehan yang kami alami tadi akan membawa petaka. Entah seperti apa. Namun, diam tanpa kata mungkin akan lebih baik untuk saat ini.

***

    Hari berikutnya memang tak ada lagi gangguan. Kami berdua bisa mengistirahatkan tubuh setelah seharian sibuk bekerja. Namun, karena penasaran tentang perihal rumah ini, akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada seorang ibu yang berjualan nasi kuning di seberang jalan. Ternyata ibu itu orangnya ramah dalam menyambut dan menjawab berbagai pertanyaanku.

    "Rumah itu memang sudah lama kosong, bahkan sering kosong. Orang yang tinggal di situ memang kurang betah lalu cepat ingin berpindah!" jelas si ibu setelah tadi kami banyak berbasa-basi.

    "Kenapa jadi begitu, Bu?"

    "Entahlah, ibu juga pendatang di sini. Sementara tetangga yang lain kebanyakan tak mau menjelaskan jika ada yang bertanya banyak."

    "Aneh, ya?"

    "Iya, cuma kalian yang mestinya hati-hati. Namanya kita ini pendatang, harus lebih menjaga tutur bahasa. Daerah ini termasuk daerah rawan kejahatan, tapi gak ada tuh ibu dengar ada yang mati dimakan hantu, hihihi!"

    "Lah, manusia kan bukan makanannya hantu, Bu? Hantu makannya nasi kuning ...."

    "Hussh!" sergah ibu itu sembari tertawa.

    Sungguh, pembicaraan dengan beliau kali ini terasa rancu.

***

    Dua minggu kemudian hal yang mengerikan kembali terjadi. Saat itu aku sudah bersiap untuk pergi tidur. Malam telah larut. Sementara Sarwani masih lanjut memasak mie telor di dapur. Sudah menjadi kebiasaannya memang, makan saat tengah malam. Sesuai saja dengan perutnya yang besar dan membuncit.

    Suara denting beradunya spatula dengan wajan saat dia memasak tiba-tiba terdengar semakin nyaring. Berawal dengan suara kecil seperti orang yang memasak biasa, lalu bertambah gaduh layaknya koki pinggir jalan yang sedang menyiapkan pesanan nasi goreng. Aku yang merasa terganggu kemudian mencoba menegur Sarwani, tapi dia tak menyahut. Malah suara denting itu semakin keras, terakhir diselingi suara benda terjatuh ke lantai.

    Malas-malasan aku beranjak menuju dapur. Kulihat Sarwani berdiri sambil mengacungkan spatula di depan hidungnya. Mata lelaki itu melotot tak bersahabat. Wajan dan mie berserakan di lantai.

    Sementara kompor gas yang tadi terpakai, apinya masih menyala. Bergegas, aku langsung mematikannya.

    "S-sarwani, kamu kenapa?" Dengan gugup aku bertanya.

    "Aku tidak suka kalian disini!" Sarwani tiba-tiba membentak, terdengar seperti bukan suaranya.

    "Tidak suka kenapa, Sar?"

    "Pokoknya tidak suka. Aku minta kalian pergi!" Jelas sudah, ada yang merasuk ke tubuh Sarwani.

    "Kita beda alam, kamu saja yg pergi dari tubuh temanku!" seruku setelah mulai mengumpulkan keberanian.

    "Aku tak akan pergi, ini rumahku! Kalian akan celaka, aku akan membunuhmu! Cepat pergi!"

    "Tiada daya upaya melebihi kekuatan Allah! Kamu dan aku itu hanya hamba," jawabku, lalu mulai merapal hijib penangkal setan dalam hati.

    Setelah rapalan tuntas, aku mendekati Sarwani lalu menepuk pelan jidatnya. Lelaki itu lantas pingsan. Aku berusaha menangkap tubuh beratnya yang hendak jatuh ke lantai, tapi rupanya terlambat.

    Setelahnya, suara tubuh Sarwani yang terjatuh berganti hening seketika. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri semua, karena aku merasa seperti ada yang memerhatikan kami dalam diam dari tiang rumah--di depan kamar mandi. Dia berdiri dalam gelap. Seperti sosok seorang wanita, tapi tanpa rupa.

***

    Hari terus berjalan. Aku dan Sarwani sudah jadi terbiasa dengan kehidupan alam sebelah yang terus mengusik ketenangan kami. Sarwani yang tadinya takut menjadi sedikit berani, itu semenjak kukatakan kalau manusia dan jin itu hidup berbeda alam. Toh, mereka tak akan mungkin membuat kami celaka tanpa izin-Nya, atau bahkan mencabut nyawa kami berdua.

    Namun, gangguan demi gangguan terus saja terjadi hampir tiap malam. Dari suara kaca jendela yang bergetar, suara orang berlarian di ruang tamu, suara pantulan bola, juga suara tangis wanita yang sayup-sayup terdengar. Hanya suara. Sedangkan wujudnya seperti enggan menjelma, tapi itu sudah lebih dari cukup menakutkan.

    Sekarang, sudah empat bulan aku dan Sarwani berada di rumah ini. Sebentar lagi kami akan mendapat cuti. Lumayan, itu bisa merehatkan pikiran walaupun cuma beberapa hari. Tak lama, aku kemudian pulang ke kampungku di Martapura, sedangkan Sarwani yang keluarganya berada jauh di Kotabangun, memilih tinggal di sini dan menginap di hotel Bon Bambu.

    Lepas tujuh hari aku di kampung. Rencananya sore ini sebelum Magrib aku hendak menuju Sungai Danau, kembali bekerja sesuai permintaan dari perusahaan. Waktunya bertepatan hari Kamis. Dengan mengendarai motor, aku berangkat setelah tak lupa berpamitan pada orang tua.

    Kupacu motorku dengan cepat, berharap untuk bisa lekas sampai. Lalu saat hendak mencapai gapura batas kota Sungai Danau, aku langsung menurunkan kecepatan. Maklum, jalan di sini berkelok tajam. Aspal pun terlihat basah, rupanya kota ini habis diguyur hujan.

    Dengan santai aku berkendara. Jalan sudah semakin lurus. Hanya mobil kecil serta truck muatan yang melintas sesekali.

    Kemudian petaka itu pun terjadi. Entah karena apa, motorku seperti diterpa angin kencang dari samping, lalu aku hilang keseimbangan. Sementara di depan terlihat lampu truck yang amat menyilaukan mata.

    Brukkk! Aku terjatuh menghujam aspal. Sekilas terlihat bayangan hitam berjalan di sebelah kanan. Lalu sepersekian detik kuangkat kepalaku dari aspal dan bayangan hitam yang rupanya adalah ban depan truck tadi, melintas di depan hidung dengan cepat dan itu jaraknya tak lebih dari satu jengkal!

    Astaghfirullahal Adzim! Aku hampir saja kehilangan nyawa jika saja tak cepat mengelak.

    Kulihat sopir truck lalu turun dari cabinnya. Dia menghampiriku yang menggigil ketakutan dan masih berbaring tak bergerak. Kemudian semuanya terasa gelap.

    Gelap!

    Namun, sepertinya aku sudah berada di dalam sebuah rumah yang kukenal. Cahaya berangsur remang saat kudengar jeritan yang tertahan dari dalam kamar.

    Aku menoleh ke arah suara dan anehnya mataku seperti menembus dinding bata. Terlihat seorang anak kecil sedang dibekap mulutnya oleh satu tangan berwarna hitam, lalu ....

    Sreeett! Napas anak itu terputus saat belati tajam menyayat tenggorokannya.

    Aku hanya terdiam tak bisa berkata-kata. Entah kenapa mulutku seperti terkunci. Kemudian perhatianku beralih ke ruang dapur karena mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Lalu kembali seperti menembus dinding, terlihat seorang wanita dengan tubuh penuh darah sedang meregang nyawa. Mata wanita itu tinggal putihnya saja. Sungguh memilukan dan terasa amat janggal bagiku.

    Segenap tanya mulai menghantui pikiran. Ini, aku dan mereka kenapa? Kenapa aku diperlihatkan hal yang begitu mengerikan? Lalu lelaki pemilik tangan hitam itu, kenapa sepertinya adalah orang yang pernah kulihat?

***

    "Nak, sadar, Nak!"

    Suara laki-laki sayup terdengar dan aku mulai siuman. Semua terasa diam sebentar, aku bak takjub melihat wajah yang kini sedang memandangku dengan raut kasihan.

    "Kamu, gak papa?"

    "Iya, P-pak!" jawabku dengan nada yang entah.

    "Tolong, Pak! Angkat naik motorku," pintaku setelah mulai menyadari si bapak adalah sopir yang tadi.

    Dan sial! Motorku rusak bagian depannya, tampak penyok di sana-sini, tapi semua itu berbanding terbalik dengan tubuhku yang tak ada luka sama sekali. Keanehan itu seperti membungkamku dalam rasa bingung tak terkira.

    Selepas truck itu pergi, aku meneruskan perjalanan dengan tubuh yang bagai tak bertulang. Entahlah, hilang kemana semangatku kini.

    Lalu sesampainya di hotel Bon Bambu, aku bergegas masuk dan menjemput Sarwani.

    Ketika melihat tubuhku gemetaran Sarwani memang sempat bertanya, tapi aku coba mengelak. Namun, ketika ia melihat motorku yang telah rusak parah, nyinyirnya pun tiba-tiba muncul kembali.

    "Kamu kecelakaan, Za? Di mana? Kamu ga papa?"

    "Diamlah Sarwani, sebaiknya kita cepat pulang. Packing barang dan langsung pergi dari kontrakan itu!" ujarku pada Sarwani tak mau berpanjang lebar lagi.

    Dan memang, aku dan Sarwani akhirnya memutuskan untuk pindah rumah, menjauh dari hantu pembawa petaka itu. Masa bodoh dengan rentetan kejadian saat aku pingsan kemarin. Bagiku membuktikan ikhwal pembunuhan yang terjadi di rumah itu bukanlah tanggungjawabku sama sekali. Toh, ada mereka: para polisi!

Selesai.

0 Komentar