Bus Gaib

Jejak Mistis_Primadona Bangsawan


Kejadian ini terjadi pada tahun 2012 lalu. Saat itu tanggal 24 Desember, aku masih lembur di kantor karena pekerjaan yang menumpuk. Akhir tahun seperti ini pekerjaan jadi dua kali lipat. Apalagi libur panjang hari natal dan mendekati tahun baru, kantor sepakat libur.

Alhasil, malam ini aku dan teman-teman lembur hingga jam 01:47  dini hari. Arlogi di pergelangan tangan tepat menunjuk angka itu. Aku menghela napas lega saat semua beres. Jika tidak, akan sia-sia lembur malam ini karena tanggal 26 harus kembali menyelesaikan tugas. Akhirnya, setelah rampung semua, aku dan tim bisa merasakan libur mulai besok.

 

"Muleh langsung ta?"

(Langsung pulang?)

 

"Iya, pulang aja. Badan udah pegel semua ini."

 

"Kamu juga langsung pulang, Jar?"

 

Didik bertanya padaku yang masih sibuk balas chat dari Disti, istriku. Ia menanyakan apakah aku langsung pulang ke Malang.

 

"Iyo, iki Disti udah sms terus. Katanya bayiku rewel."

 

"Paling yang rewel istrimu," goda Agung. Lalu disambut gelak tawa yang lain. Kami satu tim ada lima orang dan semua laki-laki. Jadinya setiap bercanda selalu ada kata-kata nakal atau terkesan jorok. Kadang juga ada sebutan binatang di dalamnya. Tidak ada yang marah atau tersinggung, semua meluncur begitu saja.

 

"Kamu langsung ke Bungur, Jar? Sama siapa?"

 

Agung bertanya padaku saat kami telah keluar dari kantor menuju tempat parkir. Aku menggeleng, di sini aku ngekos di dekat kantor. Cukup jalan kaki saja berangkat dan pulang kerja. Kalau biasanya pulang sore aku masih bisa naik angkutan umum,  tapi ini jam di pergelangan tangan sudah menunjuk angka 02.00.

 

"Jalan mungkin, Gung."

 

"Raimu ojo melas ta. Ayo tak terno!"

(Mukamu jangan memelas. Ayo aku anterin.)

 

Aku pun menyungging senyum. Padahal rumah Agung berlawanan arah dengan tujuanku. Namun, dengan suka rela dia mau mengantarkan hingga terminal Purabaya.

 

Aku tak banyak bicara. Cukup mengucapakan terima kasih, lalu naik ke boncengan. Motor Mega Pro meluncur dari Gedangan ke arah Bungurasih. Hawa saat itu dingin sekali, rasanya gigiku gemerutuk. Apalagi saat itu aku tidak memakai helm. Untung saja jaket dan tas ransel cukup menghalangi punggung dari sapuan angin malam.

 

Motor menepi di depan jalan keluarnya bus. Tepat di bawah jembatan layang depan pabrik paku. Aku turun dan menepuk bahu Agung.

 

"Makasih, ya, Gung. Kamu mau anterin aku."

 

"Halah, kayak sama siapa aja. Yowes, aku balik dulu. Kamu ati-ati."

 

"Iyo. Kamu juga jangan ngebut. Mentang-mentang sepi."

 

"Ora ngebut ora lanang, Mb*t!" Agung terkekeh lalu meluncur bak pembalap. Aku pun terbahak mendengar ucapannya barusan. Lalu melangkah masuk ke dalam terminal. Suasana di luar sini sangat sepi.

 

Saat berjalan masuk, ponsel berdering. Aku kira siapa, ternyata sms dari Disti.

 

[Jadi pulang sekarang, Mas?]

 

"Iya," jawabku.

 

[Kenapa nggak nunggu besok aja. Memangnya ada bus?]

 

"Kan sebentar lagi juga Subuh. Aku pulang sekarang, masih ada bus, kok. Gimana Dani, masih rewel?"

 

Aku bertanya keadaan anakku karena kata Disti sejak sore sudah rewel. Akan tetapi badannya tidak panas atau perutnya kembung. Aku berpikir jika anakku itu sedang rindu. Yah, aku memang selalu pulang setiap dua minggu sekali. Itu pun di rumah juga hanya sehari semalam.

 

Dani baru berusia delapan bulan, tetapi sudah sangat dekat padaku. Mendengar suaraku saja ia pasti bangun dan mencari keberadaanku. Ah, rasanya tidak sabar cepat pulang.

 

[Iya, ini masih nangis aja. Nggak tahu kenapa. Tadi sama kakungnya juga sudah diajak jalan-jalan. Tapi tetep saja rewel. Ya udah, Mas Fajar hati-hati.]

 

Setelah membalas sms dari Disti aku pun meneruskan berjalan. Terminal Purabaya ini sangat lengang. Biasanya akan sangat ramai dengan banyak orang dan pedagang asongan yang berjubel saat pagi hingga malam.

 

Aku celingak-celinguk mencari bus jurusan Malang. Namun, sepi. Apa mungkin busnya tidak ada jam segini? Aku mengusap wajah kasar lalu duduk di pembatas antar bus. Bersandar pada tiang penyangga atap terminal. Di sebelahku ada seorang pedagang asongan yang tengah duduk terlelap sambil mendekap barang dagangannya. Sesaat hatiku terenyuh. Kuselipkan selembar uang dua puluh ribuan di antara dagangannya.

 

Dari arah barat datang cahaya menyilaukan. Mataku menyipit karena lampu sorot itu terlalu terang. Ternyata bus Kramat Djati jurusan Malang tiba. Suara kondektur nyaring berteriak di pagi buta begini. Aku melirik jam di tangan, pukul 02.20.

 

"Arjosari! Arjosari! Malang!"

 

Aku mendekat ke arah bus dan naik dari pintu belakang. Bus melaju karena tidak ada penumpang selain aku. Saat itu terminal memang sangat sepi.

 

Saat masuk ke dalam bus, hawa dingin menyergap. Rasanya seperti berada di depan lemari es yang terbuka. Srep! Dinginnya membuat bulu kuduk meremang. Semua penumpang tertidur lelap bersandar pada kursi dan kaca jendela. Semuanya diam tidak ada yang terjaga. Kondektur yang tadi juga berada di depan. Berdiri di pintu bus yang tertutup.

 

Aku berjalan melewati beberapa penumpang untuk mencari tempat duduk. Setidaknya aku bisa sedikit memejamkan mata karena mataku terasa sangat mengantuk. Perjalanan Surabaya-Malang biasanya paling lama tiga jam. Jadi aku bisa sedikit istirahat.

 

Mataku berbinar saat menemukan kursi yang kosong yang dekat jendela. Aku bisa tidur bersandar kaca, pasti nyaman. Kupercepat langkah menuju kursi itu. Kemudian melepas ransel dan mulai duduk di bangku kosong tadi. Tiba-tiba kondektur tadi berteriak kencang. Membuatku tergagap tak percaya.

 

"Arjosari! Arjosari! Terminal terakhir Arjosari!"

 

Aku kembali berdiri setelah sedetik tadi duduk. Lalu melongok melihat luar dari jendela. Deg! Benar, tidak salah lagi. Ini terminal Arjosari. Aku sangat hafal dengan tempat itu.

 

Kondektur itu kembali menyeru. Aku pun maju ke depan dan bersiap turun. Sebelum benar-benar turun, aku bilang ke kondekturnya untuk menungguku jika aku salah turun. Laki-laki yang usianya mungkin hampir sama denganku itu hanya mengangguk. Namun, ada yang aneh. Tatapannya kosong. Padahal aku berada tepat di depannya.

 

Laju bus melambat dan pintu terbuka. Aku melompat keluar sambil menenteng tas ranselku. Lalu wus! Angin kencang menerpa tubuhku hingga terhuyung ke depan. Untung saja aku tidak tersungkur. Suasananya sangat sepi, bus yang tadi juga sudah tak ada.

 

Aku kembali celingukkan karena merasa heran. Diri ini benar-benar sudah berada di terminal Arjosari. Bergeming sambil menormalkan detak jantung yang tiba-tiba berdetak cepat. Kutepuk-tepuk pipi siapa tahu aku mimpi. Tapi tetap saja aku merasa sakit.

 

Aku duduk lemas di dekat tiang penyangga. Seseorang datang menepuk bahuku pelan.

 

"Kenapa, Nak?" tanya seorang bapak-bapak. Aku hanya menoleh padanya.

 

"Mau ke mana? Kamu kena gendam?" tanyanya lagi.

 

Aku menggeleng, lalu bapak itu mengulurkan sebotol air mineral. Aku sedikit meneguknya.

 

"Mau ke mana?"

 

"Pulang, Pak," jawabku.

 

"Rumah kamu di mana?"

 

"Dekat alun-alun, gang Mangga nomor 12, Pak."

 

"Walah deket. Ayo aku antar!"

 

Aku kembali menoleh ke arah bus tadi memberhentikanku. Jam di tangan menunjuk angka 02.30. Tidak mungkin Surabaya-Malang hanya sepuluh menit. Sedangkan saat berangkat tadi pukul 02.20.

 

"Aaargh!"

 

Aku meremas rambutku sendiri. Bapak tadi menunjukkan raut bingung melihatku. Lalu ia mengajakku menuju becaknya. Ternyata bapak itu tukang becak.

 

"Dari mana, Mas?" tanyanya. Saat aku sudah duduk dibecak yang melaju keluar terminal.

 

"Surabaya, Pak."

 

"Oh, kok, malam sekali pulangnya."

 

"Iya, Pak. Lembur tadi di kantor sampai larut."

 

"Lain kali hati-hati, Mas. Tadi kenapa kok, linglung?"

 

Aku menghela napas dan menceritakan semuanya. Dari yang kurasakan sejak berada di terminal Purabaya hingga memasuki bus dan sampai di terminal Arjosari. Aku menceritakannya runut.

 

"Masih syukur Mas selamat. Biasanya mereka yang naik bus gaib tidak bisa kembali. Atau jika kembali yang pulang ke rumah hanya sukmanya saja. Sedangkan jasadnya entah di mana. Lalu terkatung-katung."

 

"Benar ada yang seperti itu, Pak?" tanyaku penasaran.

 

"Iya, Mas. Dulu juga ada yang naik bus gaib. Pas turun, yang turun hanya sukmanya. Akhirnya ia gentanyangan di terminal. Banyak lelembut di sana, Mas."

 

Seketika aku bergidik mendengar cerita bapak itu. Lalu diam-diam aku mencubit lenganku. Sakit, itu tandanya aku masih hidup.

 

Becak menepi tepat di depan pagar rumahku. Kuulurkan uang dua puluh ribu padanya. Bapak itu mengangguk dan putar balik, sedangkan aku sibuk membuka pagar. Saat itu aku lupa belum mengucap terima kasih. Sontak aku pun menoleh.

 

Alangkah terkejutnya aku saat bapak yang tadi mengayuh becaknya. Tiba-tiba sudah tak ada, sedangkan jalan gang sampai ke jalan raya lurus saja.

 

Tubuhku membeku dengan darah tersirat. Rasanya sekujur tubuh dingin. Lemas seketika. Dering ponsel di saku celana menyadarkanku. Sms dari Disti.

 

[Mas, sudah sampai mana?]

 

Dengan tangan bergetar, aku mengetik jika sudah berada di depan rumah. Tidak lama kemudian rumah tampak terang. Lalu Disti muncul dari balik pintu. Wajahnya tampak bingung, tetapi tidak banyak bertanya. Mungkin menatapku yang sedang tidak baik-baik saja. Disti menggandengku masuk ke rumah.

 

*

 

Pagi-pagi sekali ibuku heboh karena menemukan uang dua puluh ribu di depan pagar. Aku yang ditanya hanya bisa terdiam. Uang dua puluh ribu itu aku sangat mengenalnya. Lipatannya pun sama dengan yang kuberikan kepada bapak tukang becak itu.

 

Aku mengusap wajah kasar lalu beranjak mandi. Setelah sarapan, aku ceritakan semua pengalaman semalam. Ibu histeris, bersyukur aku masih baik-baik saja.

 

"Syukur kamu selamat, Fajar. Makanya anakmu nangis terus sejak sore. Tidak tahunya ayahnya akan dapat musibah. Alhamdulillah kamu selamat, Nak."

 

Disti pun menitikkan air mata. Haru menyelimuti hatiku. Allah masih memberiku kesempatan untuk berbakti kepada orang tua dan membahagiakan anak istri.

 

Bapak tukang becak itu ternyata memang sering menolong orang yang bingung atau kesusahan. Ia makhluk halus yang konon sering membantu orang. Ia meningal terserempet angkutan umum yang sedang ngebut. Saat itu, anak pertamanya akan melahirkan. Sejak saat itu, bapak tukang becak sering muncul membantu orang-orang. Akan tetapi, dilarang menengoknya kembali saat sudah sampai tujuan.

 

Semenjak kejadian itu aku trauma pulang larut malam. Jika kemalaman, aku memilih untuk menunggu pagi. Alhamdulillah, setelah enam bulan kerja aku bisa membeli motor sendiri. Jadi sudah tidak naik bus lagi. Itu pengalamanku saat akan menikmati liburan akhir tahun. Pulang malam dan naik bus gaib.

 

Surabaya, 14 Januari 2021

0 Komentar