Oleh: Megawaty Iskandar
"Lift mati, Gi, turun tangga
aja, yuk?" Mbak Delisha muncul di pintu ruang kerjaku.
Aku berdiri mematung dan menatap
lurus ke tangga darurat di ujung lorong. Udara dingin perlahan berhembus,
padahal pendingin udara telah mati sejak setengah jam yang lalu.
Pelan, kugelengkan kepala.
"Duluan aja, Mbak. Gue nunggu lift aja."
Delisha mengerucutkan bibirnya.
"Ya, udah, gue duluan." Gadis itu berjalan ke pintu tangga.
Sosok itu masih berdiri di tengah
pintu, gaun putih kusamnya menjuntai ke lantai. Dia, dengan rambut kusut
riap-riap dan mata tanpa iris, menatap lurus ke arahku.
Mbak Delisha semakin dekat ke pintu
tangga darurat, sahabatku itu mungkin akan menabraknya.
"Mbak!" teriakku sebelum
tubuh Mbak Delisha menembus sosok itu.
Sahabatku berbalik dan tersenyum.
"Gak jadi nunggu lift?"
Aku menggeleng. "Bareng aja,
tapi temenin gue ngambil kunci loker dulu. Ketinggalan."
Sosok bergaun putih itu melesat dan
menghilang di tangga darurat. Aku menarik napas lega.
***
Agustus 2008.
Aku melangkah hati-hati memasuki
lobi gedung pemerintahan di bilangan Jakarta Selatan. Hari ini adalah hari di
mana aku resmi menyandang status sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil atau CPNS.
Berdasarkan arahan yang tertera di website, usai pembekalan dari panitia,
aku harus melapor ke Bagian Tata Usaha di lantai enam. Setelah itu, aku bisa
langsung duduk di bagian kehumasan, sesuai dengan penempatan yang telah
diberikan.
Seorang wanita berseragam,
mengantarku menuju bagian kehumasan. Sepatu karetnya, berderit-derit di lantai
keramik putih yang kusam. Dinding berlapis granit cokelat dan lampu neon
panjang di plafon, membuat koridor yang kami lewati terkesan tua dan kurang
terawat.
"Kita lewat tangga saja,
ruangan humas ada di lantai tujuh," ujar perempuan berseragam itu. Aku
mengangguk.
Tangga darurat terletak di seberang
lift dan masing-masing ujung lorong. Pintu besi berwarna hijau berderit keras
saat wanita itu mendorongnya. Bau lembab menyambut penciuman saat kaki kami
melangkah di anak-anak tangga. Entah mengapa, bulu kudukku perlahan meremang.
Wanita berseragam tadi
meninggalkanku di ruangan pojok bersama beberapa pegawai. Mereka tampak asik di
depan layar komputer, sebagian tengah membuka laman media sosial, beberapa
sibuk bermain game. Padahal, waktu
telah menunjukkan pukul sembilan.
Tepat pukul sepuluh, Bu Tari, Kepala
Bagian Humas, datang ke ruangan. Setelah perkenalan singkat, dia menyuruhku
duduk di salah satu kursi, letaknya menjorok ke dalam. Ruangan ini memiliki
sekat yang memisahkan antara bilik luar dan dalam.
Bilik dalam yang kutempati hanya ada
tiga kursi dan meja. Dua meja bersisian, sementara satu lagi berada di pojok,
sedikit terhalang oleh pilar tembok. Di sisi meja pojok itu bertumpuk
kertas-kertas setinggi pinggang.
Tiba-tiba saja, kursi beroda di meja
itu berputar dengan sendirinya. Kini, kursi itu menghadap ke arahku. Kembali,
bulu kudukku meremang.
***
Aku tidak punya indera keenam, atau
kemampuan melihat hal mistis sebelumnya. Namun, belum genap seminggu bekerja di
ruangan ini, kejadian-kejadian aneh kerap kualami.
Seperti siang ini, penghuni meja
sebelahku–Pak Martono–tidak datang ke kantor, beliau bertugas meliput acara
kunjungan menteri ke Papua. Aku duduk sendiri di bilik dalam. Untuk mengusir
sepi, kuputar pelan playlist di komputer. Alunan melodi dan suara lembut
Bunga Citra Lestari menemaniku. Setumpuk pemberitaan di media cetak tergolek di
meja, menanti untuk diulas dan dilaporkan.
Sejak kemarin, layar komputerku
kerap berkedip. Sepertinya sebentar lagi benda ini akan pensiun. Ketika
berkedip, tampilan gelap di layar memantulkan bayangan di belakangku. Sesekali,
aku sengaja becermin di sana.
Layar komputer berkedip sekali, aku
merapikan poni, lalu mulai menulis ulasan berita.
Kemudian, layar kembali berkedip.
Kali ini, monitor itu mati cukup lama. Aku melamun, menatap pantulan wajahku
dan menanti layar kembali hidup.
Sedetik, dua detik, layar tetap
gelap. Perlahan, di belakang pantulan wajahku, tepat pada kursi kosong di pojok,
sebuah bayangan muncul. Aku menajamkan pandangan, bayangan itu makin jelas.
Sesosok tubuh berdiri di samping kursi kosong, membelakangiku. Bayangan hitam
iti, tidak lain adalah rambut yang terurai di punggungnya.
Dadaku berdebar lebih cepat. Rasa
hati ingin menoleh, tetapi nalarku mengatakan, "Jangan!"
Ujung jemariku mendadak dingin,
dengan gemetar kutekan tombol esc berharap
layar kembali menyala, dan bayangan itu tak lagi terlihat. Namun, monitor tetap
gelap dan memantulkan bayangan sosok di kursi kosong itu.
Perlahan, sosok itu membalikkan
tubuhnya. Aku menjerit sekuat tenaga dan menutup wajah.
"Aaaaa!"
Dua orang teman, Mbak Delisha dan
Mbak Mia, dari bilik depan tergopoh-gopoh menghampiri. "Gi! Kenapa,
lu?"
"I–itu, Mbak … di situ tadi ada
orang rambutnya panjang." Aku menunjuk meja kosong di pojokan. Tubuhku
gemetar, keringat dingin membanjiri dahi.
Salah satu rekanku menoleh sekilas,
sementara yang lain menarik tanganku. "Lo liat beneran?"
Aku mengangguk. "Aku liat dari
monitor."
Mereka berdua berpandangan.
"Bayangan tiang kali, Gi,"
ujar Mbak Mia.
"Iya, Gi. Kan lo sendirian di
sini." Mbak Delisha menimpali.
"Udah, lo pake komputer depan
aja. Lagian seneng bener mojok di dalem sendirian." Mereka meninggalkanku
kembali ke bilik depan.
Aku tahu, itu bukan bayangan tiang. Mataku tidak rabun,
pantulan di layar tadi betul-betul serupa orang berambut panjang.
***
Keesokan hari, aku mencoba melupakan
bayangan di layar komputer. Sengaja, meja kerja kuputar posisinya, sehingga
tidak lagi membelakangi kursi kosong itu. Namun, justru aku menghadap ke arah
sana. Setidaknya, kupikir, seandainya hantu atau sejenisnya itu muncul, aku
bisa langsung melihat dan berlari ke luar.
"Gi, gak ke kantin?" Mbak
Mia melongok dari bilik depan.
"Ngga, Mbak, aku bawa
bekel," jawabku sambil tersenyum sopan.
"Oke deh, kita keluar dulu,
ya?" Kedua temanku bergegas pergi.
Ruangan kembali sepi, dalam hati aku
merutuk diri sendiri. Harusnya aku tadi pergi saja bersama mereka. Rambut halus
di tengkukku kembali meremang. Ada hawa dingin yang perlahan hadir
menyelimutiku.
"Tuhan, tolong aku,"
lirihku sambil menguntai doa semampunya.
Pintu ruangan perlahan tertutup
dengan sendirinya, bunyi engsel berderit menambah kengerian. Aku menutup bekal
makan siang, segera beranjak dari kursi. Namun, kakiku gemetar dan terlalu
lemas untuk digerakkan.
Kursi kosong di pojok ruangan itu,
berputar pelan menghadap ke arahku. Seorang perempuan menunduk, rambutnya
riap-riap menutupi wajahnya.
Aku berusaha menjerit, tetapi suaraku
tersangkut di tenggorokan.
Bangku itu bergerak mendekatiku,
rodanya menimbulkan bunyi berderak pelan. Perempuan itu menengadah dalam gerak
lambat. Wajahnya seputih kertas, mata terbuka lebar menampakkan bola mata yang
terputar ke dalam. Sehingga yang tampak hanya serupa bola putih susu. Bibir
perempuan itu menyunggingkan senyum, dari ujungnya menetes cairan kental
berwarna merah gelap. Cairan itu membasahi gaun putihnya yang kusam.
Dadaku terasa sesak, lantas semua
menjadi gelap.
Aku terbangun akibat bau tajam
minyak kayu putih di hidung. Di sekelilingku, teman-teman menampakkan raut
wajah khawatir.
Seorang tua berjanggut putih
menghampiri. Suaranya berat dan dalam. "Kamu pingsan karena sesuatu?"
Aku mengangguk lemah. Lantas,
mengalirlah ceritaku. Tanpa dikurangi atau ditambah.
Lelaki tua itu–mereka memanggilnya
Abah Darmo–kemudian membaca ayat-ayat suci,
dan mengusap dahiku. Seketika,
panas kurasakan di sekujur tubuh. Aku kembali pingsan.
***
Mereka bilang, hantu itu menampakkan
diri karena aku menganggunya. Ruangan dalam itu sebelumnya tak pernah dihuni.
Pak Martono, rekan yang seharusnya duduk di sebelah mejaku memang nyaris tak
pernah datang ke kantor.
Abah Darmo kemudian melakukan prosesi
ruqiyah di ruangan tersebut. Konon, orang tua itu bahkan menyegel hantu
itu di tangga darurat yang terletak di ujung lorong.
"Hal ghaib itu nyata, Nduk.
Bila kamu datang ke tempat baru, ucapkanlah salam. Kamu tak pernah tahu,
makhluk lain mungkin telah menempati tempat itu lebih dulu darimu." Mbah
Darmo berpesan padaku.
Sebagian karyawan menganggap cerita
itu isapan jempol semata. Namun bagiku, itu nyata. Karena pada saat-saat
tertentu, wanita berambut terurai itu kerap berdiri di pintu tangga darurat.
Dia masih menatapku dengan bola matanya yang terbalik.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu, kemunculannya tidak memberikan efek takut. Sebab, setelah kejadian dulu, bukan hanya dia yang dapat kulihat. Beberapa penampakan lain, seperti bocah berkepala botak, lelaki setinggi plafon, atau wanita berwajah meleleh, kerap menyapa di sepanjang koridor kantor.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.