Oleh Anindya P. K.
“Jangan makan bakso di situ, dia pake pesugihan,
katanya orang-orang yang makan di situ duduk di atas pocong yang tidur di
bangkunya.”
Rumor seperti itu sering kudengar dulu sekali, ketika
aku masih di sekolah dasar. Waktu itu tentu saja aku percaya. Namun, hingga
saat ini aku sendiri belum pernah melihat makhluk astral seperti pocong,
kuntilanak dan kawan-kawannya. Hanya di tayangan Uji Nyali atau Uka-Uka saja,
itu pun tidak pernah berhasil membuat sehelai bulu kudukku berdiri.
Sekarang aku akan lebih percaya dengan rumor bahwa
bakso itu dibuat dari daging tikus atau diberi campuran minyak babi.
Aku mencebik melihat pantulan wajahku di spion motor. Perut
kosong sepertinya membuatku berfikir terlalu jauh. Aku mau makan bakso saja
hari ini. Segera, kunyalakan motor bebek dari kantor menuju ke kampus.
Menjadi mahasiswa kelas malam membuatku terbiasa
pulang diatas pukul sembilan malam. Takut? Tentu saja, yang kutakutkan adalah
begal, rampok dan semacamnya. Sudah kukatakan bukan, kalau aku tidak percaya
dengan makhluk astral.
Sore itu sudah masuk waktu shalat magrib. Seharusnya
aku lebih memilih mencari masjid ketimbang mencari warung bakso. Aku berniat
mencari warung bakso di kiri jalan. Namun, sudah dua kali aku melewati warung
bakso di sebelah kanan jalan. Aku yang kelaparan akhirnya memutar balik arah
demi bisa makan semangkuk bakso yang panas dan pedas.
Akhirnya aku berhenti di sebuah warung bakso yang tidak terlalu besar. Walaupun
terletak di pinggir jalan yang saat itu cukup sibuk, warung bakso ini tidak
terlalu mencolok dan ramai. Mungkin karena kurangnya pencahayaan.
Sekitar seratus meter dari warung bakso ini, ada
angkringan kecil yang juga tidak terlalu ramai. Dua ratus meter di sebelah kiri
warung ini ada gapura perumahan yang juga minim penerangan. Dan sebagai latar
dari warung bakso ini adalah tanah
kosong tanpa lampu sama sekali.
Sebenarnya aku agak ragu untuk makan di sini. Ragu
karena rasanya mungkin akan mengecewakan. Namun, aku akhirnya masuk ke warung
bakso ini.
Di dalamnya cukup terang, ada lampu LED sepuluh watt
yang tergantung di langit-langit tenda sebagai penerangan. Di bawah lampu itu terdapat tiga
meja berbentuk persegi panjang. Satu meja di belakang digunakan untuk meracik
minuman. Dua meja dijejer untuk tamu yang dikelilingi oleh enam kursi plastik
yang warna merahnya sudah pudar.
Lantai yang kupijak lebih mengerikan dari yang
kubayangkan. Lantainya terbuat dari kayu-kayu bekas yang ditata seadanya dan tidak
rata. Mengerikan jika tiba-tiba lantainya roboh dan aku terjun bebas ke selokan
di bawahnya.
Saat itu ada tiga orang yang sedang menikmati bakso. Seorang
pria paruh baya duduk di meja paling dekat dengan pintu, pria itu terlihat
makan dengan lahap sampai kuah bakso di mangkuknya terciprat kemana-mana. Ck,
menjijikkan.
Seorang pria muda duduk di meja paling ujung sedang
membersihkan keringat di dahi wanita yang duduk di depannya. Wanita itu
tersenyum malu. Cih, menyebalkan. Meskipun begitu, aku merasa lega melihat fakta
bahwa aku tidak akan makan sendirian.
“Mau pesen apa, Mbak?” Seorang pria paruh baya
menatapku dengan tatapan ramah.
“Bakso komplit satu, dimakan di sini, ngga pakai
micin, ya, Pak?” balasku. Ia hanya mengangguk dan kembali sibuk meracik bakso
yang kupesan.
Aku duduk di kursi depan pria paruh baya yang makan
dengan lahap. Ia terkejut melihatku duduk di depannya. Sesaat ia menatapku
dengan heran, kemudian kembali melahap baksonya.
Pandanganku jatuh ke wanita bucin yang duduk di meja
sebelah. Kami bertemu pandang. Ia menatapku dengan heran. Namun, mungkin
tatapanku lebih terlihat heran melihat wajahnya yang sangat putih. Ah, pasti dia
menggunakan krim wajah bermerkuri yang dijual kiloan.
Tak lama, mangkok baksoku datang. “Mau minum apa,
Mbak?”
“Jeruk anget,” jawabku yang langsung mengambil sendok
dan garpu. Bapak itu sekali lagi tidak membalas dan langsung menuju meja di
belakang meracik jeruk hangat pesananku.
Lamat-lamat kuperhatikan bapak penjual bakso ini.
Usianya mungkin enam puluh tahunan, berbadan gempal dengan rambut yang telah
beruban. Ia menjajakan bakso ini sendirian. Kadang kutemui penjual kaki lima
yang dibantu istri atau anaknya. Bahkan ada yang diwariskan turun temurun
hingga anak cucu.
Aku mulai mencicipi kuah bakso di depanku. well,
not bad. Kaldunya tidak terlalu gurih, mungkin karena aku pesan untuk tidak
pakai micin. Aku mulai mencicipi baksonya dan, wow, enak banget, rasa dagingnya
sangat kuat, tekstur lembut dan tidak terlalu kenyal. Akupun menambahkan sambal
dan melahap habis bakso itu.
Akhirnya setelah menghabiskan semangkuk bakso panas
dan pedas, aku melanjutkan perjalanan ke kampus. Seharusnya masjid kampus sudah
tidak terlalu ramai saat ini.
Akupun mencari putaran ke arah yang berlawanan. Ternyata,
putarannya lumayan jauh dari warung bakso tadi. Ketika sudah berada di lajur
seberang, aku secara reflek melirik lokasi warung bakso tadi. Namun, aku tidak menemukannya.
Ah, mungkin aku salah lihat tempat. Mungkin bukan di
situ. Aku terus melaju dengan motor tak acuh.
Ketika perjalanan pulang dari kampus, rasa penasaranku
kembali muncul. Pelan-pelan, aku melewati tempat warung bakso tadi. Namun, yang
ada hanya angkringan kecil. Harusnya di samping angkringan tadi ada warung
bakso, tapi hanya ada selokan dan lahan kosong. Aku sangat yakin tidak salah
tempat. Gapura perumahan itu sama, angkringan itu sama. Lahan kosong di
belakangnya juga sama. Hanya warung baksonya saja yang tidak ada. Bahkan tidak ada tanda-tanda bekas warung, benar-benar
lahan kosong yang memang tidak terpakai.
Okay, now I am getting nervous.
Aku kembali menjalankan motor bebekku. Bukankah tidak
ada yang mencurigakan dari warung bakso tadi? Semuanya terlihat normal.
Aku mulai mempercepat laju motor, mencoba untuk tidak
peduli dengan warung bakso yang hilang tadi, hingga pandanganku menangkap
spanduk dengan nama dan desain yang mirip dengan warung bakso tadi.
Penasaran, akhirnya aku berbalik dan berhenti di
warung bakso yang ini. Nama dan spanduk di depannya sama persis, namun yang ini
letaknya di ruko, lebih bersih dan lebih luas. Penjualnya seorang ibu, dan anak
laki-laki usia dua puluhan.
Aku pun memesan seporsi bakso lagi. Namun, kali ini aku
minta dibungkus. Aku yakin adikku di rumah tidak akan menolak seporsi bakso. Anak
laki-laki tadi langsung sigap berdiri dan menyiapkan pesananku. Karena aku
tidak memesan minuman, si Ibu tidak sibuk dan hanya membantu menyiapkan plastik
dan sambal yang sudah dibungkus kecil-kecil.
Rasa penasaran membuatku nekat bertanya, “Bu, warungnya
punya cabang, ya? Kok kayaknya dulu saya makannya ngga di sini.”
“Oh … engga, Mbak. Dulu jualannya di deket gapura
perumahan Ringin Asri itu loh, tapi udah lama pindah ke sini. Ya … setelah
bapak ngga ada, saya pindah kesini.”
“Eh? Bapak sudah meninggal?” tanyaku tak percaya. “Sejak
kapan, Bu?”
“Udah lama, udah tiga tahun yang lalu.”
Aku pun membayar bakso yang kupesan. Aku kembali
mengingat-ingat kejadian tadi. Lantai kayu di warung tadi selalu berderit
setiap kali aku melangkah. Namun, ketika ketiga orang itu pergi, lantai itu
tidak berderit. Pantas saja pria di depanku melihatku dengan heran, atau wanita
tadi juga melihatku dengan heran.
Bukan mereka yang menunjukkan wujudnya di depan mataku, tapi aku yang mendatangi mereka.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.