Antara Aku, Annika, dan Rumah Kosong


Dilihat dari sisi manapun, rumah itu memang tampak sangat menyeramkan. Rumah yang sudah puluhan tahun kosong itu terletak di luar kampung, sedangkan rumah terdekat berada sekitar lima kilo jauhnya. Sebelah kanannya ada pemakaman umum kampung. Bagian belakang rumah itu terdapat kuburan keluarga dengan tiga nisan yang berdampingan. Aku tidak bisa bercerita banyak selain dari itu, karena memang aku sangat jarang melewati rumah itu kecuali saat menguburkan warga kampung yang meninggal dunia. Itupun kalau pas di depan rumah itu, setidaknya ada tiga ritual yang selalu kulakukan. Yang pertama, memalingkan muka. Yang kedua, mempercepat langkahku. Yang ketiga adalah membaca ayat kursi sebanyak-banyaknya. Untunglah selama ini cara itu cukup manjur buatku. Aku tidak percaya hantu, ya. Tetapiii, katanya sih, penampakan jin itu biasanya cukup mengagetkan. Dan, aku tentu saja tidak mau kaget.

Lalu, bagaimana aku bisa berada di sini, di tengah malam seperti ini, sendirian lagi. Yah, itu karena mulut besarku selepas Isya’ tadi pada Annika, bunga desa kami. Dia bertanya “apa kau percaya hantu?” aku bilang padanya tidak ada yang namanya hantu. Dan gadis itu, dengan mata besarnya yang sangat indah, mampu membuat aku berjanji untuk mengambil video keadaan rumah itu di malam hari. Sendiri. Eh, tapi sepertinya ada yang aneh dengan Annika. Sejak kapan dia jadi pendiam seperti ini?

Rumah ini ternyata sangat menyeramkan kalau dilihat dari dekat. Sinar bulan purnama ditambah dengan senter yang kubawa membuatku mampu melihat dengan jelas semua yang berada di depanku. Kayunya rusak semua, entah bagaimana rumah ini masih bisa berdiri. Warna catnya juga membuatku bertanya-tanya, sebenarnya rumah ini dulu warnanya apa. Lalu rumput liar juga ada di mana-mana. Sepertinya, di sini aku akan lebih takut pada ular berbisa daripada penampakan. Seolah belum cukup, keseraman itu ditambah dengan pohon beringin besar yang menjadi pembatas antara rumah itu dengan pemakaman umum kampung. Mengenai pohon beringin ini ada cerita tersendiri. Gosipnya sih, terkadang saat prosesi pemakaman, ada warga yang melihat ada anak-anak yang bermain dan berlari-larian di situ. Tapi saat didekati, sama sekali tidak ada anak-anak.  

Aku pun memasuki rumah itu lewat pintu depan yang rusak. Segera kuambil handphoneku dan mengaktifkan video untuk merekam bagian dalam rumah itu. Semoga saja tidak ada yang merasa terganggu dengan kegiatanku ini. Lalu tiba-tiba ‘krosak, krosakkk'. Sialan, apa itu? Memang aku lebih takut ular daripada jin. Tapi, bagaimanapun juga aku lebih suka tidak ketemu salah satunya saat ini.

 Gubrak! Brak! Pyarrr! Meong! Miauwww! Meonggg!

Jan**k! Asuuu!” kaget membuatku otomatis mengeluarkan sumpah serapah dengan sangat fasihnya. Ternyata suara yang sempat membuatku keder tadi hanyalah dua ekor kucing kawin. Kuambil sebuah batu kecil dan akan kulemparkan ke salah satu kucing tersebut ketika mendadak suatu hal yang aneh membuatku mengurungkan hal tersebut.

Salah satu kucing tersebut mendadak berhenti dan menoleh ketika mendengar umpatan 'asu'. Kemudian berbalik badan, berdiri dengan kedua kaki belakang, dan berkacak pinggang menggunakan kedua kaki depannya. Dia menatapku cukup lama. Satu menitan sepertinya. Hingga membuat bulu kudukku berdiri. Ketika akhirnya kucing itu berbicara “aku iki kucing, C*k! Guduk asuuu!” aku langsung berlari lintang pukang ke arah kampung.

Setelah agak dekat dengan kampung dan bisa melihat kerlip lampu  di rumah-rumah, aku berjalan pelan dan mencoba mengatur nafas. Otakku masih kebingungan untuk memproses kejadian tadi. Sebenarnya kucing tadi itu apa?

Hah, sejak kapan ada tenda warung sate di sini? Aku terheran melihat warung sate di depanku ini. Tapi entah kenapa, bau harum daging dibakar membuatku melongokkan kepala untuk melihat keadaan dalam tenda. Aku melihat seorang penjual sate yang sedang mengipasi sate dan posisi tubuhnya membelakangiku. Melihat bajunya yang belang merah putih, kurasa dia orang Madura. Ada seorang pembeli yang dilayaninya. Cewek. Panjang rambutnya. Melihat bentuk tubuhnya, sepertinya aku kenal.

“Annika?” panggilku pelan. Aku masih belum yakin kalau cewek yang sedang menunggu pesanannya itu adalah Annika. Cewek itu perlahan-lahan menoleh padaku. Ternyata memang benar Annika. Setelah melihatku, dia menganggukkan kepala dan memberiku isyarat untuk duduk di sebelahnya. Karena lelah, lapar dan juga harumnya sate yang terbakar, aku mengiyakan ajakannya. Aku juga berpikir kapan lagi bisa makan bareng cewek tercantik sekampung yang sudah lama aku sukai itu.

“Saya juga satu, makan di sini ya Pak,”

“Iya,” dengus penjual sate itu. Aku terkaget mendengar suara baritonnya. Suaranya sempat membuatku merinding lagi. Tapi persetan plus tai kucinglah, demi kesempatan makan berdua bersama Annika, apapun juga akan aku lalui. Walau otakku memang berpikir seperti itu, seluruh bulu kudukku berdiri seolah tak setuju. Aku merinding tak karuan.

“Annika makan di sini?”

Tak ada jawaban keluar dari mulutnya. Hanya gelengan kepala yang sangat pelan. Ada apa dengannya? Tadi sudah agak aneh, sekarang tambah aneh.

“Ini, Mas, satenya!” tukang sate itu meletakkan piring sate di hadapanku. Melihat sate yang ada dalam piring tersebut, aku kontan merasa mual dan langsung muntah.

“Sate apa ini!” teriakku pada tukang sate itu, “Kok mirip ja ...” mendadak lidahku kelu dan tak mampu meneruskan ucapanku. Wajah tukang sate itu ternyata rata, tanpa ada bagian-bagian wajah seperti alis, mata, hidung, dan mulut.

Aku berlari lintang pukang lagi ke arah kampung. ‘Sialll, sial sekali aku,' pikirku dalam hati. Entah mimpi apa aku semalam sampai disatroni penampakan berkali-kali seperti ini. Langkahku terhenti di rumah paling pojok nomor dua. Rumahnya Annika. Ada keramaian di sana. Tenda sudah terpasang di depan rumah. Kursi-kursi buat tamu juga sudah terjejer rapi. Satu hal paling mencolok dan membuatku merinding adalah ada ambulans juga di sana. Siapa yang meninggal?

“Siapa yang meninggal, Met?” tanyaku pada Slamet, tetangga sebelah rumahku yang juga berada di sana.

“Annika.”

“Siapa?”

“Annika, anaknya Pak Lukman! Tabrakan pas pulang kuliah.”

“Hah! Kapan?” aku benar-benar kaget dengan ucapannya. Dan juga benar-benar bingung dengan kejadian ini.

“Tadi pas Maghrib. Kata seorang saksi mata, dia menghindari seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan. Karena tidak bisa menguasai kendaraan, dia menabrak seorang penjual sate beserta gerobak dorongnya. Si penjual sate meninggal seketika, sedangkan Annika meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.”

Kepalaku seketika menjadi sangat pening begitu mendengar penjelasan Slamet. Kalau Annika sudah meninggal Maghrib tadi, lalu yang kutemui sedari tadi siapa? Aku terduduk lemas dan gemetar di sebelah Slamet.

“Met, minta air putih dong,” pintaku. Slamet beranjak untuk mengambil air putih kemasan gelas yang ada di bagian lain dari tempat duduk kami. Saat duduk termenung itu, aku sempat memandang jendela bagian belakang ambulans. Oh tidak, kenapa juga di sana ada si Annika yang sedang tersenyum memandangiku. Saat ini dia bahkan melambaikan tangannya. Aduh, mati aku. Kok apes benar hari.

0 Komentar