Tuk-tuk-tuk!

 Oleh: Dyah Diputri

 

 

Tuk-tuk-tuk!

Jendela kaca diketuk tiga kali. Aku mendengarnya jelas sesaat setelah memejamkan mata. Suara itu muncul lagi, setiap Mas Oddi ke luar kota. Mustahil jika ada tetangga iseng pada waktu yang sama selama tiga minggu ini. Sementara rumah kontrakan ini berada di ujung blok perumahan, tersekat tiga blok kosong berupa tanah berumput liar dengan rumah tetangga. Penghuni kompleks ini juga kebanyakan kurang bersosialisasi satu sama lain. Mas Oddie memilihnya karena harganya yang relatif lebih murah dibanding opsi kontrakan lain. Apalagi ukuran rumah yang cukup besar memungkinkan jika keluarga besar ingin menginap pada akhir pekan.

Mas, jendelanya diketuk lagi. Aku takut, sumpah. Kuketik pesan kepada suamiku dalam keremangan cahaya kamar dengan tangan bergetar. Deru napas memburu kutahan sebisa mungkin. Kalau bisa jangan sampai menimbulkan dengkusan. Setelah terkirim, kupeluk erat Zahra yang baru lepas menetek dan pulas.

Mas Oddie tak membalas pesanku, melainkan menelepon langsung. Aku tersentak kaget saat dering telepon memecah kesunyian. Tinggal berdua dengan balita usia satu setengah tahun, belum pernah semenakutkan ini. Di kontrakan sebelumnya tidak pernah kualami kejadian seperti ini. Kalau bukam karena pemilik rumah hendak merenovasi rumahnya, kami tak akan pindah kemari.

“Halo, Mas,” sapaku berbisik, tetapi tak mengurangi getaran di bibirku.

“Hidupkan lampunya, Nin. Aku sudah kirim pesan ke sepupumu. Erwin, Vina, sama Rohman nanti biar nginep di sana.”

“Oh, syukur, deh. Aku beneran takut, Mas. Aku nggak bisa tidur sekarang.”

Mas Oddie menemaniku mengobrol sampai tiga sepupuku datang. Rasanya bisa bernapas lega saat mereka mengetuk pintu dan bersahutan mengucap salam. Segera anak-anak remaja itu masuk ke rumah.

“Besok libur, ‘kan? Temenin Mbak Nindy, ya. Mas Oddie baru pulang besok malam,” kataku sembari melangkah ke dapur, menyiapkan camilan dan minuman.

“Sabtu-Minggu libur, Mbak.” Vina menjawab.

“Udah pamit ayah-ibu?”

“Udah.”

Aku kembali ke ruang tamu fungsional ruang tengah. Anak-anak itu sudah santai menonton televisi. “Kalau mau makan, ke dapur sendiri, ya. Bikin makanan sendiri.”

“Ya, Mbak.” Erwin menyahut dari depan pintu rumah. Rupanya dia merokok sambil berjongkok di ambang pintu. Mungkin dia juga yang membuka tirai depan.

Dari tempatku duduk, tampak teras rumah yang tertutup tembok tanpa pagar setinggi satu meter. Di seberang jalan ada tembok pembatas dengan pasar buah. Sementara di sisi kanan adalah tikungan menuju blok lain. Jalannya pun tertutup tembok pembatas, hanya saja di sana ada sungai dengan rimbunan pohon bambu. Di sudut belokan berdiri pos ronda yang jarang dijaga satpam. Satpam kompleks ini lebih betah berdiam di pos depan dengan mengharap uang tips penghuni kompleks yang bermobil.

“Win, tutup gih tirainya. Mbak Nindy serem kalau liat di luar gelap gitu,” ujarku sebelum beranjak ke kamar.

“Ya, Mbak. Bentaran.”

“Vina tidur aja di kamar sebelah. Erwin sama Rohman di ruang tengah, ya. Mbak mau tidur duluan. Udah ngantuk, sih.”

“Siap!” seru Rohman.

Aku merebah kembali di kamar, menatap sekilas ke langit-langit yang sudah benderang—tak seperti biasanya. Aku memang terbiasa tidur dengan lampu dipadamkan. Tak apalah, yang penting tidak ada gangguan lagi.

Zahra benar-benar terlelap. Kuusap pelan keningnya yang berkeringat. Semoga saja dia tak merasakan kejanggalan di tempat tinggal barunya. Sesuai anjuran orang tua, Mas Oddie sudah menabur tanah tempat ari-arinya di halaman rumah ini. Katanya, dengan tujuan agar anaknya betah walau berpindah tempat.

Sebelum menutup mata, kepalaku sempat mendongak. Tampak jendela kaca bertirai itu tenang sekali, seolah-olah tak tersentuh angin. Tepat di luar kamarku adalah tempat parkir motor.

Ayolah, tenang! Tidurlah, Nindy! Buang pikiran burukmu.

Aku membatin berkali-kali, lantas mencoba memejamkan mata. Aku membaca doa memohon perlindungan, tetapi hati masih tidak tenang. Padahal, di luar kamar masih terdengar suara obrolan Vina dan lainnya.

Baiklah, sudah ada mereka bertiga, kenapa aku harus takut?

Perlahan, aku tertidur. Rasa kantuk menyergap hebat. Bahkan, mungkin aku dengan cepatnya bermimpi, entah sudah berapa jam. Namun, aku kembali terganggu.

Hidungku mengendus. Ini bukan mimpi! Semakin kutajamkan indra penciuman, maka semakin kuat aroma itu menusuk hidung. Wangi ... wangi ... semerbak.

Astaga!

Napasku kembali memburu. Aku terbangun dan segera memeluk Zahra. Dia pun terbangun dan dalam posisi duduk. Jam di dinding menunjuk pukul satu dini hari.

“Mama, mimik,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Segera kususui Zahra, masih dengan jantung yang bertalu kencang. Kenapa? Kenapa kamarku beraroma bunga kenanga? Wanginya kuat sekali. Apa anak-anak di luar sudah tidur? Apa di luar mereka tak mencium aroma ini?

Setelah Zahra tertidur kembali, aku bergegas keluar. Nyatanya anak-anak sudah tidur semua. Tidak ada aroma bunga menyengat di ruangan lain. Aneh. Kenapa di kamarku saja?

Oleh karena ketakutan sendiri, kubangunkan Vina di kamar sebelah. “Vin, tidue di kamar Mbak Nindy, deh.”

“Duh, Mbak. Udah ngantuk ....”

“Ayolah, Vin. Buruan sini, ayo!” Kutarik lengan Vina agar terbangun, lalu kuajak masuk ke kamarku. “Kamu nyium sesuatu, gak?”

Vina menguap lebar, lalu kembali mengempaskan badan di tempat tidur. “Iya, sih. Wangi. Mbak semprot parfum apa?”

Setelah mengatakan itu, Vina kembali tidur. Oh, ya, ampun. Bisa-bisanya dia tidur dalam keadaan menakutkan seperti ini?

Aku mengusap wajah. Rasanya sangat mengantuk dan lelah, tetapi aku tak berani tidur lagi. Dalam hati ini merutuk pilihan Mas Oddie akan rumah ini. Sial! Kenapa aku harus menempati rumah berhantu, sih?

***

Mas Oddie pulang, bersamaan dengan sepupu-sepupuku yang pamit pulang. Katanya, mereka ada rencana dadakan hari Minggu pagi. Jadi, mereka tidak bisa memginap lagi malam ini.

“Wajahmu pucat, loh!” seru Mas Oddie lepas mengantar anak-anak itu ke jalan raya. Mereka naik angkutan umum untuk pulang.

“Gimana gak pucat, Mas. Aku nggak bisa tidur semalam. Bayangin, jendela diketuk-ketuk, tengah malam kamar beraroma kenanga. Ya, ampum, Mas. Capek aku.”

“Ya, sabar. Masa mau pindah lagi, dananya, kan, gak bisa kembali.”

“Kamu jangan sering-sering ke luar kota, deh. Aku takut. Mana Zahra itu masih kecil

 Anak kecil biasanya peka sama hal begituan.” Aku mendesah. “Apa jangan-jangan di sungai itu ada hantunya, ya, Mas? Cewe bunuh diri, mungkin.” Tanpa sadar aku mengucapkan itu.

“Hush, jangan suuzon, Nin. Doa ajalah yang baik-baik. Ya?” Mas Oddie mengusap kepalaku. Tak lama kemudian, dia sudah melepas rindu dengan Zahra.

Malam harinya, suasana terasa lebih menenangkan. Paling tidak, ada orang yang bisa dijadikan sandaran dan rengkuhan saat ketakutan. Zahra lebih cepat tertidur, mungkin lelah bermain dengan ayahnya. Aku pun mulai menguap walau masih pukul sepuluh malam.

Aku dan Mas Oddie mengobrol sebentar tentang pekerjaannya. Setelah benar-benar mengantuk, kami mengeratkan pelukan. Kuharap bisa tidur nyenyak malam ini. Meski sebenarnya ingin sekali membuktikan kejadian-kejadian aneh seperti malam kemarin kepada Mas Oddie. Pasalnya, semua terjadi saat dia tak ada di rumah. Mungkin saja dia tidak percaya dengan cerita-ceritaku.

Baru beberapa detik memejamkan mata, sayup-sayup aku mendengar suara. Suara ... tangisan seorang perempuan.

Huhuhu ... huhuhu ....

Suara itu terdengar lirih dan berulang-ulang dengan tempo amat lambat. Kakiku gemetar, tanganku gemetar. Dalam pelukan Mas Oddie, kuberanikan diri membuka mata lagi.

Alisku terangkat, seakan-akan bertanya Apa kau dengar itu, Mas?.

Mas Oddie mengangguk. Dia pun seolah-olah menjawab pertanyaanku. Rupanya dia juga belum tertidur. Kini dia tahu jika aku tidak bohong.

“Baca doa saja. Tenang. Biarkan, kita tidak mengganggu. Dia juga tidak boleh mengganggu kita.” Mas Oddie berbisik di telinga kananku. Sementara telinga kiri masih menangkap suara tangis menyayat hati perempuan di luar kaca jendelaku.

Allah, lindungi kami.

Kami mencoba tak acuh, mengabaikan suara itu sampai berhenti dengan sendirinya. Keringat dingin tak henti mengalir. Tangan kami berpegangan erat sekali. Aku tak tahu, apa setelah ini Mas Oddie masih ingin bertahan di sini atau tidak. Aku juga tidak yakin akan bisa bertahan setiap malam dengan gangguan seperti ini.

Ponsel di atas meja bergetar, menggantikan suara tangis sosok tak dikenal itu. Mas Oddie segera bangkit dan menyambarnya. “Ada wa,” katanya.

“Siapa?” Aku ikut duduk di sampingnya.

“Rohman.”

“Kenapa?”

Mas Oddie memperlihatkan layar ponselnya. Tampak beberapa pesan dari Rohman yang membuat kakiku kebas seketika.

Mas, kemarin Vina mimpi, katanya ada anak kecil duduk sembunyi di belakang pintu kamar Mbak Nindy.

Aku juga denger suara cewe nangis pas tidur.

Erwin juga. Dia mau nutu tirai, tapi ... malah lihat kuntilanak duduk di atap pos ronda. Kakinya diayun-ayun.

Aku gak mau lagi nginep di sana. Serem.

 

Tamat.

 

Malang, 14 Januari 2021

0 Komentar