Saya ingin berkisah tentang kejadian
mistis yang dialami oleh orang terdekat saya. Kisah-kisah ini menurut saya
menarik, tak logis bahkan cenderung seperti kisah fiksi dari imajinasi. Namun,
saya jamin ini adalah pengalaman yang benar-benar dialami oleh mereka.
Kisah pertama, adalah kisah yang
dialami oleh bapak kandung saya sendiri. Sekitar tahun 80-an, ketika masih
booming judi SDSB atau sekarang disebut dengan Togel. Banyak orang mengaitkan
nomor yang akan keluar itu didapat dari mimpi atau hasil meminta di tempat
angker.
Bapak salah satunya yang ikut
gandrung dengan judi ini. Demi mendapatkan nomor yang jitu supaya bisa kaya
raya secara instan, bapak mengikuti saran seseorang untuk tidur di sebuah
kuburan keramat yang berada di wilayah Subang.
Ditemani seorang rekan yang juga akan
melakukan ritual tidur di makam keramat, demi beberapa nomor. Bapak serta
temannya menemui kuncen yang memegang izin di daerah tersebut. Daerah yang
belum terjamah listrik, dengan rumah penduduk yang berjauhan jaraknya. Dikelilingi
kebun yang berbatasan dengan hutan.
"Maksud kalian berdua ini untuk
apa?" tanya sang kuncen, berpakaian serba hitam dengab ikat kepala batik
melingkar di kepalanya.
"Kami ingin bisa tembus nomor
SDSB, Bah. Bisa kan?"lontar bapak yang duduk di atas dipan rumah panggung
kuncen tersebut.
Kuncen berusia lanjut itu
mengangguk-angguk, seolah meyakinkan bahwa ia bisa mengabulkan apa yang
dimaksud bapak.
"Tiasa Jang, tiasa. Ngan Ujang
harus menyediakan sajennya, Apa Ujang bawa?"
"Iya Bah, kami bawa." disodorkan
2 kantung plastik hitam yang di dalamnya
terdapat bunga rampai, kemenyan, telur ayam kampung, cerutu dan bubuk kopi
hitam.
Abah kuncen menyiapkan dua buah
nampan anyaman bambu serta dua tempat pedupaan, ia menerima kantung itu lalu
dengan apik merangkai sajen di atas nampan. Arang yang masih membara dari
tungku dipindahkannya ke dalam pedupaan. Pedupaan itu diletakannya di tengah
nampan, kemudian sang kuncen menyalakan cerutu, menyeduh kopi dalam gelas yang
terbuat dari batang bambu, terakhir menabur menyan di atas bara pedupaan.
Bau menyan menyeruak di rumah
panggung tersebut, hawa mistis terasa pekat malam itu.
"Kalian berdua akan Abah
tempatkan di makam yang berada di dekat perbatasan hutan, ada syaratnya. Jika
ingin berhasil kalian tidak boleh lari kalau ada sesuatu yang janggal, jangan
tertidur pulas harus bisa tahan ujian. Nanti jika ada yang mendekat dan
bertanya sebutkan maksud kalian," jelas Kuncen itu, menyerahkan nampan
sajen pada bapak dan temannya.
Bapak serta temannya hanya mengangguk-angguk
pasrah, ada keraguan dalam hati mereka sebenarnya. Namun, terlanjur datang izin
pada kuncen, tepaksa mereka melanjutkan maksud. Seandainya keraguan muncul
sedari tadi di tengah perjalanan, sepertinya bapak akan menggugurkan niatnya
tidur di makam keramat tersebut dan pulang kembali ke rumah.
Malam kian larut, rembulan menyeruak
dari balik awan. Ketiga orang berjalan menembus kegelapan, dua orang yang
membawa nampan mengikuti seorang paruh baya yang memegang obor sebagai
penerangan. Mereka melangkah di jalan setapak menuju area makam keramat, yang
konon bisa mengabulkan permintaan orang yang mau tidur di tempat tersebut.
Melewati tanjakan bertanah licin akibat embun, menerobos kebun-kebun warga
hingga mereka sampai pada tujuan.
Sebuah pemakaman umum, di mana
makam-makamnya hanya memperlihatkan gundukan tanah dengan nisan kayu dan batu
yang rata-rata sudah berlumut. Di tengah makam terdapat dua buah makam yang
dilapisi semen, makam itulah yang dianggap keramat oleh orang-orang. Terdapat
banyak arang sisa pedupaan, bunga rampai mengering dan abu cerutu di sisi makam
tersebut. Rupanya sebelum bapak, sudah banyak orang yang mencoba peruntungannya
di sini.
Makam di perbatasan hutan itu teramat
gelap, ada tebing di arah utara makam yang ditumbuhi oleh pohon waru besar.
Waru itu seolah merunduk, seperti cakar raksasa yang siap mencengkram apapun di
bawahnya. Bapak menyebutnya dengan Waru Doyong karena posisinya yang seperti
merunduk.
"Ujang tidur di sebelah makam
ini, sementara temannya di sebelah sana," tunjuk kuncen memerintah bapak
dan temannya untuk merebahkan diri. Dua lembar tikar anyaman pandan yang telah
disiapkan sebelumnya oleh kuncen digelar di sebelah makam.
Bapak serta temannya merebahkan diri,
meringkuk menghadap kuburan. Sementara kuncen menyimpan sesajen di samping
makam, lalu merapal mantra yang tak dimengerti bapak.
"Saya akan meninggalkan kalian
berdua di sini, ingat pesan saya tadi baik-baik. Maka tujuan kalian akan
tercapai!" seru sang kuncen.
Sepeninggal kuncen, bapak hanya memejam
mata tanpa tertidur. Sementara nasib rekannya entah bagaimana bapak tak ingin
tahu atau membuka mata untuk mengintip takut ritualnya gagal.
Semula kondisi hening hanya terdengar
suara serangga malam, tiba-tiba menjadi ramai seperti banyak sekali manusia
berlalu lalang. Batu-batu kerikil dilempar ada yang mengenai bapak, tapi bapak
enggan membuka mata karena rasa takut mulai timbul di dirinya. Suasana kembali
senyap, kali ini terdengar suara gemerisik hujan yang lebat seperti tertiup
angin.
'Waduh bakal basah kedinginan ini,
mana gak bawa jaket,'batin bapak saat terdengar suara hujan.
Namun entah kenapa tak ada setetes
air pun menyentuh badan bapak, membuat beliau terheran-heran. Seperti
sebelumnya suara hujan menghilang, hening menyapa kembali. Kali ini bapak
benar-benar sangat ketakutan. Suara langkah kaki yang berkuku, seolah melewati
dirinya yang tengah meringkuk di dekat kuburan. Langkah itu mondar-mandir di
belakangnya, dekat sekali dengan punggung.
Keringat dingin bercucuran, bapak
berharap segera selesai ritualnya. Namun, waktu seperti berjalan amat lambat.
Dari arah sajen diletakkan, terdengar suara sesuatu sedang memakan isi sajen.
Suara decakan lidah jelas sekali terdengar, sesekali geraman menggetarkan jiwa
bapak yang mengalami tremor akibat gemetar hebat.
Bagaimana rekannya, entahlah bapak
tak ingin tahu. Rasa menggelora ingin segera beranjak dari makam meronta-ronta,
tapi anehnya badan bapak kaku bergeming tak bisa bergerak. Karena rasa
penasaran bapak memberanikan diri mengintip apa gerangan mahluk yang memakan
sajen tadi, ternyata tak ada apapun di dekat nampan sajen hanya gelap yang
terlihat.
Kemudian dari sudut mata bapak uang
mengarah pada pohon waru di atas tebing, sebuah bola cahaya beterbangan. Bola
cahaya itu muncul dari pohon waru, hendak melayang turun kearah bapak yang
sedang meringkuk. Tak tahan dengan rasa, belum lagi rasa ingin kencing memaksa
bapak bergerak.
Beliau bangun dari posisinya, ia
hendak lari. Sebelumnya ia harus mengajak rekannya, kasihan jika ditinggal sendiri.
Namun, sialnya ternyata temannya bapak sudah tak ada di tempatnya tadi ia
berbaring. Sudah lebih dulu melarikan diri. Mencoba mengingat jalan diterangi
rembulan yang remang bapak sampai ke rumah sang kuncen.
Di rumah kuncen, teman bapak hanya
memperlihatkan cengirannya sembari memakai sarung pinjaman dari sang kuncen.
"Maafkan saya Kang, tadi pas
pertama ditinggalin ama Abah Kuncen mendengar suara tanpa sosok saya langsung
kabur menyusul Abah saking takutnya," kilah teman bapak tanpa merasa bersalah.
Bapak mendelik sebal pada temannya
yang tega meninggalkan bapak sendirian di makam tadi.
"Jadi kalian gagal," kata
kuncen sambil terkekeh agak meledek.
"Ah lebih baik gagal Bah, daripada saya mati ketakutan," ketus bapak yang akhirnya sadar dengan kebodohannya.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.