"Pak, ada nemu kunci motor, stnk sama karcisnya nggak, Pak?" Terlihat jelas air mukanya berubah begitu cepat, antara panik, bingung dan takut. Mengabaikan wewangian aneh yang tak semestinya berada di sana.
"Ada, coba sebutin ciri-cirinya."
"Kunci motor matik gantungan nikel ada
cetakan kombinasi angka 6769. Stnk atas nama Laras Sucita, karcis parkirnya
pake nopol yang sama kek di surat kendaraan," paparnya cepat.
Lekas, penjaga keamanan itu meraih kotak kardus bekas dan mencari-cari barang dengan ciri yang telah disebut Laras. Sayangnya, pria berkepala pelontos itu menggeleng penuh keyakinan. "Nggak ada. Uda periksa di kantong motor? Kali, aja, ketinggalan di sana."
"Makasih, Pak."
Laras segera berlari ke arah parkiran bawah tanah, di mana motor ia
letakkan. Meski terengah-engah karena telah dua kali melewati jalanan yang
sama, ia tak lantas menyerah. Terlebih saat ingat bahwa hari ini hari
pertamanya bekerja.
Gadis berambut sebahu itu melirik ke
jam tangan yang melingkar, sesaat sebelum sampai ke motornya. Lalu, ia segera
merogoh kantong pada kedua sisi motor, tapi nihil. Tak ada apa pun di sana.
Sekali lagi, ia memastikan bahwa tak ada kunci maupun surat kendaraan di dalam
jok dan kantong motor, serta kantong celana panjangnya.
"Ck! Gini doang udah makan dua
puluh menit! Bisa telat aku!" gerutunya sendiri.
Mau tak mau, ia meraih ponsel pada
saku seragam kokinya, hendak mengabari sang ayah untuk membawa BPKB dan kunci
cadangan. Sayangnya, karena berada di bawah tanah, jaringan pun turut hilang.
Lekas ia menderap langkah ke luar. Napasnya yang tersengal, serta panik yang
luar biasa membuatnya tak memerhatikan keadaan sekitar.
Laras menghentikan langkahnya
sejenak, tepat setelah cahaya dari sinar matahari terlihat. Matanya tiba-tiba
memburam saat menghirup aroma asing yang tiba-tiba datang. Namun, karena
mengingat sisa waktu agar tak terlambat di hari pertama bekerja, ia kembali
melangkah tergesa hingga tersandung, kemudian terantuk.
"Aw!" pekiknya.
"Bukannya tadi nggak ada pintu di sini?" Laras menekan-nekan dahi
dengan anak rambutnya sendiri. Ia berharap, tak akan ada bekas memar yang
singgah.
Tiba-tiba saja suasana keadaan
sekitar berubah begitu saja. Parkiran bawah tanah yang tadinya sepi nan
lengang, kini tampak begitu ramai dengan pengunjung. Sontak saja, hal ini membuat
Laras terkejut bukan main.
"Terakhir
aku ngelirik jam, masih jam tujuh kurang lima menit. Kenapa uda banyak
pengunjung yang dateng?" gumamnya.
Terang saja hal ini membuatnya
kembali panik, terlebih saat melirik jam tangannya yang ternyata tak lagi
berfungsi. Secepat kilat, ia mencoba menderap langkah, berharap tak terlambat
di hari pertama. Sayangnya, sejauh apa pun langkahnya menuju, ia merasa tak
kunjung keluar
dari parkiran bawah tanah. Laras tak mampu menemukan jalan keluar yang tadi
sempat dilihatnya. Seolah-olah ia hanya berputar dalam pelarian, sama sekali
tak bergerak dari tempatnya semula.
"Sial! Kenapa bisa gini,
sih?!" umpatnya.
Sontak saja, ratusan pengunjung yang
memenuhi parkiran tanpa kendaraan itu langsung menatap tajam pada Laras.
Tatapan tajam yang tak pernah dibayangkan oleh gadis berusia delapan belas
tahun. Anehnya, bersamaan dengan tatapan yang tajam, langkah mereka pun turut
berhenti di tempat. Seakan-akan mematung di saat yang sama.
Melihat kejanggalan yang ada, Laras
pun mulai merasa ada yang tak beres. Apalagi para pengunjung itu berada di
parkiran bawah tanah tanpa membawa kendaraan. Dengan pelan ia mencoba
mengedarkan pandangan, mencari jalan keluar atau setidaknya petugas keamanan
yang sedang bertugas.
Saat melihat ke arah yang lain, Laras
menemukan pintu masuk mal yang terbuka lebar, sebuah ide muncul begitu saja.
Segera ia berjalan menuju pintu masuk mal dengan mengabaikan banyak tatapan
tajam yang sedang mengawasi dalam diam.
Entah mengapa, Laras sama sekali tak mengindahkan para
pengunjung yang masih terpaku di tempat. Ia hanya memikirkan cara untuk bisa
segera sampai ke lantai tiga, tempatnya bekerja untuk kali pertama.
"Semoga, aja, para senior tadi
bisa ngemaklumi. Tapi aneh juga, sik, masak iya cari kunci sama surat sampek
jam operasional mal buka? Perasaan tadi nggak selama itu, deh."
Laras masih terus melangkah, mencoba
masuk dari pintu mal yang terbuka di parkiran bawah tanah. Anehnya, semakin ia
mencoba mendekat, pintu otomatis itu terasa kian jauh jaraknya. Kini, ia mulai
kelelahan. Keringat dingin pun membanjir di sekujur tubuhnya.
Gadis berlesung pipi itu mulai merasa bahwa
semua yang terjadi pagi itu tak ada yang benar. Langkahnya kian melambat,
sedangkan matanya mulai awas. Jantungnya mulai berdegup kencang, terlebih saat
ia mulai sadar bahwa para pengunjung itu sama sekali tak bergerak.
Perlahan ia memutar arah, mencoba
kembali ke tempat di mana ia terantuk pintu saat mencoba ke luar dari parkiran
bawah tanah. Bersamaan dengan itu, mata para pengunjung tak lagi menatapnya.
Namun, jumlah mereka tampak kian banyak. Tentu saja hal ini membuat Laras
menjadi lebih susah untuk kembali ke arah yang berbeda.
Sekuat tenaga, ia mencoba melawan
arus para pengunjung yang hendak menuju ke arah pintu masuk mal. Sementara
Laras yang berjalan ke arah sebaliknya harus mencari celah untuk lewat.
"Permisi," ucapnya sembari menyodorkan bahu untuk membuka jalan.
Sesekali, ia menangkap bebauan aneh yang tak lagi asing baginya.
Laras terus mencoba, melewati kerumunan massa yang seolah tak ada habisnya. Ia
mulai lelah. Bahkan, dadanya mulai sesak. Sekali lagi, ia menangkap bau yang
sama. Laras yakin, itu salah satu parfum para pengunjung. Namun, kali ini
matanya membeliak tak percaya. Terlebih saat sadar, bahwa ia melewati
pengunjung yang sama berulang kali.
"Gi-gimana ini?"
Pandangannya
mulai memburam, lantas ia menutup matanya rapat. Bulir-bulir bening itu
menyeruak, membasahi kedua pipinya yang kemerahan. Laras mulai takut. Tangannya
gemetar, sedangkan jantungnya kian berdegup kencang. Keringat di dahi pun kian
mengucur deras.
Kakinya lemas, bahkan setelah itu
tubuhnya meluruh ke lantai, lantas segera dipeluknya lutut dengan erat. Ia
menangkupkan wajah pada ceruk yang tercipta antara lutut dan dada, sembari
menangis sesenggukan. Lama ia dalam posisi demikian hingga aroma yang sama kembali
tertangkap indra penciumannya.
Pelan, Laras mengintip hendak mencari
tahu sumber wewangian itu. Namun, secepat kilat ia kembali menunduk lantaran
ratusan pengunjung tadi kini berada tepat di depannya. Memerhatikan tiap
gerak-geriknya dengan tatapan tajam.
"Aku harus segera keluar dari
sini ...."
Dengan mata tertutup, Laras
memberanikan diri untuk berdiri. Ia melangkah mengikuti aroma yang sebelumnya
memang sering dihirup selama berada di parkiran bawah tanah. Lantas, ia
teringat sebelum terantuk pintu dan berada dalam keadaan yang berbeda, aroma
ini juga diciumnya.
Laras mulai menemukan ide untuk
benar-benar mengikuti aroma itu. Wewangian yang pernah dicium sebelumnya, jauh
sebelum hal janggal itu terjadi. Ia masih sesenggukan saat terus mengikuti aroma
pandan berpadu dengan kelopak bunga mawar.
Perlahan aroma tadi mulai menghilang,
berganti dengan deru motor yang saling bersahutan. Sesekali, terdengar bunyi
klakson yang memekakkan telinga, membuat Laras mau tak mau membuka mata. Sigap
ia melompat saat laju kendaraan tadi kian mendekat. Laras mengedarkan pandangan, mengabaikan nyeri pada pahanya yang cedera karena
terantuk dinding beton, tak lagi didapatinya
pengunjung yang menatapnya tajam bak singa yang membidik mangsa. Hanya ada
banyak deretan motor terparkir yang membuatnya kian kebingungan.
Laras
tersentak kala melihat jam dinding di salah satu sisi parkiran. "Li-lima
jam?"
Cepat ia menderap langkah,
mengabaikan banyak orang yang menatapnya penuh tanda tanya. Napasnya terengah
saat langkahnya tiba di depan restoran dalam gedung pusat perbelanjaan. Terbata
ia menjelaskan tiap rentetan kejadian pada staf senior yang mempertanyakan
keberadaannya.
"Kamu ada yang jaga?" tanya
sang senior yang menyilangkan kedua tangan di dada. Ia bahkan tak tertarik
dengan kejadian yang dialami Laras di parkiran bawah tanah.
"Maksudnya, Pak?"
"Karena
baru ini, ada yang bisa keluar sebelum petang tiba. Lihatlah di belakangmu
sekarang," ujar sang senior.
Sontak saja, keringat dingin kembali
membanjir di dahi Laras. Tubuhnya mematung, tak lagi mampu bergerak saat
kembali mengingat kejadian janggal yang sama sekali tak membuat seniornya
terkejut. Aroma yang diikutinya tadi pun turut
hadir mengisi ruangan, membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
Pelan tapi pasti, Laras menoleh ke
arah belakang. Ia membeliak
dan hanya dalam hitungan detik, ia pingsan di tempat kala
melihat sosok tak kasat mata yang
terbalut kain kafan penuh lumpur, tengah
menatapnya dengan seringai menakutkan.
Surabaya, 14 Januari 2021.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.