Penjemputan

(Oleh: Windy Marthinda)

 

Rahayu merenung, meresapi dan memikirkan perkataan Ambu. Sungguh terasa ganar di kalbu ketika mengetahui esok tak lagi sama. Ambu berpesan, sebelum hari bergulir ke tulat, gadis itu harus segera meninggalkan kaki Gunung Salak, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

 

"Kenapa, Ambu? Ayu enggak mau ninggalin Ambu sendirian dan  tinggal di rumah Kang Ahmad. Kenapa Ayu harus pergi ke kota?" Berkali-kali Rahayu memelas, tapi Ambu tetap bersikeras.

 

"Pokoknya kamu harus pergi. Kamu nurut sama Ambu, kalau enggak mau jadi anak durhaka." Nada suara Ambu dingin, mustahil untuk dibantah.

 

18 tahun ia selalu bersama Ambu. Rasanya sangat sulit untuk berpisah dari wanita yang telah melahirkannya. Untuk seorang gadis belia, Rahayu tampak lebih pantas menjadi cucu Ambu yang usianya sudah menginjak 60 tahun. Usia Rahayu terpaut sangat jauh dengan kakak sulungnya, Ahmad.

 

Tahun ini Ahmad sudah berusia 40 tahun. Usia Hanum, anak Ahmad, hanya selisih satu tahun lebih muda daripada Rahayu. Rahayu lahir setelah Ambu lima kali mengalami keguguran. Almarhum Abah sudah membawa Ambu berobat kemana-mana agar dapat memberi Ahmad seorang adik. Namun, tidak kunjung berhasil.

 

Suatu malam ketika bulan bulat sempurna, Abah bertemu dengan seorang nenek di hutan saat akan berburu. Nenek itu terluka karena jatuh selagi mencari kayu bakar pada petang hari. Ia tak dapat berjalan dan harus menunggu berjam-jam sampai seseorang datang. Abah menolong dan mengantarnya pulang ke gubuk di belakang bukit.

 

Sebagai ucapan terima kasih si nenek memberi Abah secarik selendang batik, karena hanya itulah harta yang dimilikinya. Walau tak terlalu butuh, Abah menerima selendang itu dengan sukacita.

 

"Selendang ini bisa menjadi penolong atau malah perampas kebahagiaan. Tergantung apa yang kamu perbuat." Si nenek berkata.

 

Mulanya Abah acuh tak acuh. Ia memberikan selendang itu kepada Ambu untuk disimpan. Selendang itu digulung dan diikat tali rami yang baunya wangi, serupa raksi kayu manis dan dupa yang melebur jadi satu.

 

Malam itu Ambu baru bisa terlelap menjelang subuh. Ia bermimpi menemukan seekor burung murai terluka di pinggir sumur. Di dalam mimpi ia tengah mencuci selendang pemberian Abah. Si murai tampak lemah dan kehausan. Dengan telaten Ambu memberinya minum air yang diperas dari selendang basah.

 

Selisih satu minggu dari malam itu, Ambu merasa tak enak badan. Kepalanya pusing, badannya lemas, juga mual dan sering ingin muntah. Abah membawa Ambu ke Mantri Dasep di Poskesdes, agar Ambu segera diobati.

 

Bagai tertimpa durian runtuh, kabar bahagia mereka dapatkan. Ambu dinyatakan hamil. Hasil pemeriksaan urinnya ternyata menyebabkan stik putih bergaris dua. Abah dan Ambu bergembira. Mereka menangis haru dan berpelukan di hadapan Mantri Dasep.

 

"Ambu, kenapa diam?" Pertanyaan Rahayu membuyarkan lamunan Ambu.

 

"Cepat tidur! Jangan sampai besok subuh terlambat bangun. Ahmad mau jemput kamu pagi-pagi." Ambu bangkit dari kursi dan masuk ke kamarnya, meninggalkan Rahayu yang masih berputih hati.

 

Rahayu yakin ada sesuatu yang Ambu sembunyikan. Sesuatu yang tidak boleh ia ketahui. Gadis itu tak kunjung bisa tidur. Matanya malah nyalang menatap langit-langit berlapis anyaman bilik. Di luar hujan mulai turun, tidak terlalu deras tapi rapat. Jejak-jejaknya yang menimpa genting tanah seperti bunyi ribuan kaki tentara yang sedang berlari.

 

Rahayu berguling, berbaring miring menghadap jendela. Lelehan air mengalir di kaca jendela, bak lukisan garis-garis vertikal berkelok dan bercabang. Pagi tadi tirainya dicuci karena tak sengaja Rahayu mengotori tirai dengan tumpahan minyak cem-ceman penyubur rambut.

 

Andai saja hatinya sedang tidak risau, mungkin malam ini akan menjadi sangat indah. Wangi petrikor menguar, menyusup melalui lubang ventilasi yang ditutupi kawat nyamuk. Orkestra hujan yang mulai mereda dan desau angin yang turun dari gunung hampir saja membuat Rahayu memejamkan matanya.

 

Tiba-tiba sebuah suara terdengar, menggelitik telinganya. Suara itu jauh, tapi semakin dekat dan jelas. Seperti ketukan tongkat kayu di tanah yang teredam hujan, nyata dan teratur. Dari kejauhan sayup-sayup kukuk burung hantu dan lolongan anjing hutan membuat indra pendengaran Rahayu semakin tajam.

 

Tuk … tuk … tuk ….

 

Gadis itu bangkit perlahan, tak ingin Ambu menguping bahwa ia masih belum terlelap. Rahayu menempelkan wajahnya di jendela agar dapat melihat lebih jelas ke luar.

 

Sosok itu mulanya seperti bayangan seekor binatang yang terluka, berjalan terseok dengan tiga kaki. Namun, rupanya tebakan Rahayu salah. Figurnya semakin jelas. Seorang nenek berpunggung bungkuk muncul dari balik pohon nangka. Langkahnya diseret dengan susah payah. Sebatang bambu digenggam untuk mencegah tubuhnya ambruk, berfungsi sebagai tongkat.

 

"Siapa itu?" bisik Rahayu kepada dirinya sendiri.

 

Wajah si nenek tertutup bayang-bayang dedaunan. Perlahan awan gemawan yang semula menutupi purnama perlahan menepi ditiup angin. Sosok itu maju lebih dekat, keluar dari sudut gelap. Sekarang sudah tidak ada lagi tabir yang menghalangi pandangan.

 

Gadis itu terkesiap saat dapat melihat lebih jelas. Nenek itu menatap langsung ke arahnya, tajam dan awas. Perlahan bibirnya yang berwarna merah bekas menyirih terbuka dan menyeringai.

 

Rahayu memicing agar dapat menangkap gerak bibir nenek bungkuk itu.

 

"Keluar." Setidaknya itu yang Rahayu tebak.

 

Dengan gemetar Rahayu menggeleng. Terlihat si nenek merengut tak suka. Nenek itu menggerakkan bibirnya lagi.

 

"Ke … lu … ar …." Kali ini disertai sebuah suara parau.

 

Suara itu seperti ada di kuping Rahayu, disertai embusan nafas yang menggelitik tengkuknya. Rahayu bergidik, serta-merta menengok ke belakang. Tidak ada siapa pun di sana. Kembali ia melihat ke luar. Nenek itu menghilang. Rahayu menghela nafas lega.

 

Di kamar depan, Ambu sudah terbuai dalam mimpi. Rasian yang sama berulang kali datang sejak beberapa hari ini. Adegan itu seperti reka ulang peristiwa berdarah dini hari 18 tahun lalu.

 

Proses persalinan terjadi sangat cepat. Rahayu terlahir setelah kontraksi hebat selama dua jam. Dibantu seorang bidan desa dan dukun beranak, Ambu berhasil melahirkan seorang bayi cantik. Malangnya tak lama setelah melahirkan ia mengamali perdarahan karena kontraksi rahim yang buruk. Mujur, bidan dapat melakukan pertolongan dan membuat kondisi Ambu segera membaik.

 

Keanehan terjadi tiga hari kemudian. Rahayu kecil selalu menangis di malam hari tanpa alasan yang jelas. Tangisannya tanpa air mata. Doa-doa sudah dipanjatkan, bahkan dukun beranak memberikan jimat berupa bawang putih dan pangle yang disimpan dalam kantong kain. Kantong itu disimpan di bawah bantal.

 

Saat Abah hampir kehilangan akal, ia teringat kepada si nenek yang pernah ia tolong. Jika perkataan nenek itu benar, tidak ada ruginya untuk mencoba. Abah mengambil selendang batik dalam lemari. Olehnya selendang itu dipakai untuk membungkus tubuh Rahayu kecil. Ajaib, tak lama kemudian bayi itu berhenti menangis dan terlelap.

 

Abah mengingat perkataan si nenek yang terakhir kali. "Jika kamu membutuhkan bantuan, gunakan selendang ini. Tapi kamu harus ingat, akan ada kejadian dalam hidupmu setelahnya. Aku akan mengambil kembali selendang ini beserta bayarannya. Purnama ke-225 aku akan datang."

 

Tak perlu menunggu sampai purnama berikutnya muncul sempurna, ternyata bencana datang. Longsor terjadi di lereng setelah sehari penuh hujan deras mengguyur bumi. Sore itu, beberapa orang petani yang sedang bekerja di kebun tertimpa material batu dan tanah. Salah satunya adalah Abah.

*

Malam semakin larut. Rahayu berusaha memejamkan mata. Suara-suara tetesan air sisa hujan dan angin yang menderu menjadi latar aroma mistis malam itu. Detak jarum jam yang ditempel di dinding terdengar begitu berisik.

 

Rahayu gelisah, tak kunjung tidur. Meski matanya terpejam, pikirannya mengembara. Masih terbayang wajah keriput yang ia lihat di jendela.

 

Tiba-tiba dadanya sesak, seakan-akan ditindih sebuah benda yang berat. Ia ingin membuka mata, tetapi begitu sulit. Lidahnya kelu, susah bergerak, bahkan hanya untuk merintih memanggil Ambu untuk minta tolong pun sulit.

 

Dalam hatinya ia beristighfar. Rahayu berusaha mengatur nafas agar lebih tenang. Perlahan nafasnya sedikit longgar dan beban di dadanya menjadi semakin ringan. Akhirnya ia dapat berbalik miring ke kanan, memunggungi dinding.

 

Rahayu membuka matanya pelan-pelan. Namun, kemudian ia terbelalak ketika sepasang mata memelotot kepadanya. Mata itu liar dan tampak marah. Wajah si pemilik mata itu keriput dan berwarna kelabu. Bibirnya mencucu, membentuk garis-garis dalam di sekelilingnya. Air liur merah menetes ketika ia menyeringai. Tampak geligi yang menghitam dan mengeluarkan aroma busuk.

 

Rahayu ingin menjerit, tetapi tenggorokannya tersekat, malah mengeluarkan suara rintihan. Lima detik setelahnya bagaikan lima tahun ia rasa. Mata itu masih menatapnya, tanpa berkedip sekali pun. Rahayu terus berdoa dalam hati, berharap ini hanya mimpi.

 

Sejurus kemudian mulut keriput di hadapannya terbuka dan berbisik.

 

"Saatnya pulang, Neng Geulis." Suaranya parau dan berhasil membuat rasa ngeri makin dahsyat menikam dada Rahayu.

 

Tak sempat berkedip, tiba-tiba jemari keriput berkuku tajam telah membekap wajah Rahayu. Gadis itu merasakan jiwanya seakan-akan ditarik dan dihempaskan ke ruang hampa. Semuanya menjadi gelap dan sepi.

 

Selesai

 

 

0 Komentar