Ketukan Angker

 

Wajahnya tidak mirip dengan Mas Dibyo—suamiku. Rambutnya ikal, mata yang bulat dan kulitnya sawo matang. Memang dia mirip mendiang ibunya. Karena ibunya merupakan sahabatku—Eri. Anak itulah yang berhasil memersatukanku dengan Mas Dibyoku.

Aku bersedia menikahi duda beranak satu. Duda yang memiliki akhlak baik, rajin salat, dan pekerja keras. Mas Dibyo ditinggal pergi Eri untuk selamanya karena penyakit jantung, enam tahun lalu. Selama enam tahun itu, Mas Dibyo membesarkan Riski seorang diri.

Aku menyayangi Riski seperti dia darah dagingku sendiri. Apa lagi dua tahun menikah dengan Mas Dibyo, aku belum kunjung hamil. Memang masih wajar karena aku sering ditinggal, akan tetapi sindiran dan kata-kata pedas tetangga membuat jenuh dan ingin pergi dari kampung halamanku saja.

“Mas, aku mau ikut kamu saja.” Aku merajuk untuk ke sekian kali agar Mas Dibyo bersedia membawaku merantau.

“Bagaimana dengan Riski, Dek. Kurang satu semester lagi dia lulus SD. Lagi pula setahu Mas, sekolah di Banjarmasin mahal.”

“Aku mau daftar kerja di sana, Mas. Aku ingin ikut kamu,” bujukku lagi.

Menjadi pekerja mekanik alat berat menjadikan suamiku harus sering berpindah tempat kerja. Sebelum di Banjarmasin, Mas Dibyo masih bekerja di sekitar Jawa Barat. Namun, setelah menikah, dia dipindah tugaskan oleh mandornya ke seberang Kalimantan, sampai sekarang.

Aku tidak menyangka. Kondisi di Banjarmasin jauh dari yang kubayangkan. Mungkin inilah sebab Mas Dibyo enggan membawaku ke sini. Daerah yang begitu terpencil dan jauh dari pusat kota. Kami mengontrak di dekat danau, jarak satu rumah dengan lainnya cukup renggang, tapi masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Sementara lokasi sekolah Riski cukup dekat, berada di belakang danau, yang bisa dilalui dengan mengelilingi setengah putaran.

“Dek, begini kontrakan Mas. Apa kamu betah? Mas, sih, nggak yakin. Kalau mess pekerja berada di dekat tambang. Di sana lebih terpencil lagi.”

“InsyaAllah betah, Mas,” balasku setengah yakin.

Mas Dibyo bergegas bekerja keesokan harinya. Karena aku datang malam hari, maka pagi ini aku baru bisa memperhatikan rumah kontrakan dengan saksama, sejengkal demi sejengkal. Dinding rumah-rumah di sini kebanyakan menggunakan papan kalsibot. Keningku mengernyit begitu melihat sebuah bercak darah kering di dinding yang begitu besar. Percikannya bahkan sampai mengenai tiang di sampingnya. Namun, benarkah ini darah? batinku.

“Mama Lina, aku mau main di danau.” Riski berlari keluar begitu melihat danau dari dalam rumah.

“Hati-hati, Riski. Jangan terlalu dekat!” teriakku sembari meracik masakan di dapur.

“Cuma lihat-lihat saja, Ma,” sahutnya kembali.

Untuk anak usia dua belas tahun seperti Riski, dia cukup dewasa berkat didikan Mas Dibyo. Namun, tetap saja memerlukan pengawasan orang tua.

Jendela kelabu yang hampir habis dimakan rayap di depanku menghadap langsung ke arah danau. Aku mendekat lalu mendorongnya perlahan, menimbulkan derit kecil saat terbuka. Kulihat Riski hanya berdiri menghadap danau. Kedua tangannya merentang, seakan-akan dia sedang menyapa mentari di pagi hari.

Aku tersenyum menatapnya dari balik jendela. Tiba-tiba suara gaduh di dapur membuyarkan lamunanku. Membuat senyum ini terhenti dalam sekejap. Aku berlari menuju dapur dengan daun pintu yang setengah terbuka.

Mataku melacak suara mirip benda semacam aluminium yang terlempar ke arah ubin. Dapur itu masih rapi, bahkan satu wajan masih tergantung di atas. Dadaku bergetar hebat, suasana horor semakin terasa ketika asap keluar dari balik celemek yang terlipat di meja.

Dengan mengumpulkan keberanian, aku mencoba untuk mendekat, lalu menyibaknya. Bersamaan dengan itu, jeritan Riski di dekat danau membuatku berpaling dari sesuatu yang ada di bawah celemek. Aku bahkan terpeleset berkali-kali untuk keluar dari rumah. Pergelangan kakiku seperti ada yang mencengkeram, ya, asap itu bergerak lalu menarik kakiku agar tidak bisa keluar rumah. Sementara jeritan Riski semakin menjadi-jadi.

Sekuat tenaga kutendang sesuatu yang tidak tampak di bawah kaki. Asap itu membuyar di udara. Aku sedikit lega akhirnya berhasil meraih gagang pintu untuk berbalik menuju danau, menghampiri Riski yang masih berdiri di tepian.

“Ki! Riski! Kamu kenapa?!” tanyaku gugup. Aku memeluk anak tiriku yang masih menelungkupkan wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Ada mayat, Ma. Mayat.” Tangan Riski menunjuk pada tanaman genjer yang hampir memenuhi permukaan danau.

Aku menggeleng cepat dan mengelus punggungnya. “Nggak ada mayat, Ki. Kamu salah lihat!” Ucapanku tak serta merta membuat Riski tenang, dia justru semakin takut, badannya gemetaran dan terus menangis sejadi-jadinya.

▫▫▫

Tiga hari berlalu. Riski sembuh dari demamnya. Tiga hari pula dia tertinggal materi dan tugas dari guru. Tugas kelompok untuk membuat prakarya harus segera diselesaikan dalam minggu ini. Beruntung, gurunya mengirimkan pesan bahwa Riski satu kelompok dengan Tiur. Rumah Tiur berada di dekat sekolah. Riski harus memutari danau untuk sampai di sana, kabar baik untuk tugasnya agar tak mendapat nilai kosong.

“Ki, Mama temani kamu ke rumah Tiur, ya? Sebentar lagi magrib.”

“Nggak usah, Ma. Nanti kalau Bapak pulang, gimana?”

“Tapi Mama kok khawatir, ya?”

“Aku lewat jembatan, Ma. Mama nggak usah khawatir.”

Aku menghela napas kasar. Sebenarnya, ada rasa takut sendirian di rumah petang hari begini. Riski berjalan melewati jembatan, menghindari jalan di tepian danau walaupun lebih cepat sampai. Aku terus menatapnya, hingga punggung Riski tenggelam di balik ilalang.

Sayup-sayup terdengar suara azan magrib, aku lekas mengambil air wudu dan menunaikan tiga rakaat. Mas Dibyo belum juga pulang, padahal seharusnya sebelum azan berkumandang, dia sudah di rumah, lalu salat berjamaah bersama kami.

Ketakutanku semakin menjadi, tatkala gerimis mengguyur dari langit. Suara hewan-hewan nokturnal turut meramaikan suasana yang mencekam, seolah-olah berada di tengah hutan belantara. Aku segera melepas mukena, saat daun pintu diketuk.

“Alhamdulillah, Mas Dibyo,” batinku.

“Mama ...,” desah Riski dari balik pintu yang gemetaran sembari memeluk buku. Badannya basah kuyup.

“Astaghfirullah, Ki. Kamu kehujanan? Katanya pulang isya, emang tugasnya udah selesai?” tanyaku. Riski hanya mengangguk.

Aku segera berlari, mengambil handuk kering dalam lemari pakaian. Bibir Riski membiru, seperti hipotermia. Aku semakin khawatir, apa lagi dia baru saja sembuh dari demamnya.

“Makan dulu, ya?” ajakku setelah menyiapkan pakaian gantinya.

Aku mengambil satu bungkus mie instan dalam peti di dapur, lalu memasaknya untuk Riski. Berharap, badannya segera menghangat.

“Riski ... mie nya udah siap, nih!” teriakku dari dalam dapur. Tidak ada jawaban darinya. Aku memilih untuk membawa semangkuk mie kuah ke dalam kamar.

“Ki ... bangun dulu, makan.” Riski membelakangiku saat tanganku masih membawa semangkuk mie. Lalu aku meletakkannya di atas nakas.

Dering ponselku bergetar dari kamar sebelah. Aku bergegas mengambilnya, siapa tahu panggilan dari Mas Dibyo. Meninggalkan Riski bersama semangkuk mie instan.

“Nomor siapa, nih?” gumamku. Lalu kuangkat segera.

“Assalamu’alaikum, Ma. Ini Riski, aku masih di rumah Tiur, hujannya gede banget di sini. Aku pulang nunggu reda, ya, Ma? Nanti dianter bapaknya Tiur. Hallo? Mama Lina? Mama denger suaraku, nggak?” Suara Riski jelas terdengar di balik telepon. Sementara mulutku kelu menjawabnya, badanku bergeming. Astaghfirullah!

“It ... itu ... tadi siapa?” ucapku lirih. Bulu kudukku berparade. Merasa dipermainkan oleh sosok yang kini berada di dalam kamar Riski. Aku berjalan mundur hingga menabrak dinding.

Terdengar suara dari kamar Riski, dia memanggil-manggil namaku. Merintih, seperti meminta pertolongan. Ya Allah, apa yang harus kulakukan?

Aku tak berani keluar dari kamar ini. Ingin rasanya berteriak meminta pertolongan. Melakukan panggilan balik pada nomor tadi saja aku tidak mampu, tanganku gemetaran hingga ponsel di genggaman lolos begitu saja, jatuh membentur lantai.

Ketukan dari luar rumah membuatku semakin ketakutan. Ketukan itu terdengar teratur dengan tempo cepat. Dengan langkah tergesa aku membuka pintu rumah, berharap itu Mas Dibyo atau Riski yang sebenarnya. Jarak lima meter dari tempatku berdiri, muncul sesosok anak seumuran Riski dengan wajah yang rusak, badannya membiru dan sedikit bengkak, beberapa darah keluar dari luka sayatan di sekujur tubuhnya.

Aku mematung dan menjerit sejadinya, rasanya kepalaku tiba-tiba sakit dan badan rasanya membeku. Semua tiba-tiba lenyap dalam pandangan, lalu gelap seketika.

“Dek ... dek ... bangun.”

“Mama ... Mama kenapa?”

Suara Mas Dibyo dan Riski membangunkanku. Mataku berkunang. Netraku menangkap kerumunan orang-orang datang silih berganti. Entah berapa lama aku terpejam, tapi hati ini sedikit tenang dengan kehadiran para tetangga.

“Pak Dibyo, maaf sebaiknya pindah saja. Memang kontrakan ini dulu bekas tempat pembunuhan seorang bocah, jasadnya dilempar begitu saja di danau belakang rumah ini. Setelah itu rumah ini sudah tidak ditempati lagi, mungkin arwahnya belum tenang. Sehingga bangunan ini angker,” ungkap tetua kampung yang memakai peci itu. Wajahnya menelusuri langit-langit rumah kontrakan.

“Saya juga heran, kok Pak Dibyo mau ngontrak di sini. Memangnya ... Si Basro nggak kasih tahu, gimana angkernya rumah ini?” tanya orang tua Tiur dengan sedikit berbisik.

Suamiku menggeleng pasrah. Dia menoleh ke arahku. “Dek, kamu sudah siuman?”

“Mas ... aku tadi lihat ....”

“Pssttt ... udah, jangan diterusin. Mas udah tahu. Kita segera pindah dari sini.” Tangan kanan Mas Dibyo mengelus keningku yang penuh keringat. Wajahnya penuh kekhawatiran, di sampingnya ada anak lelakiku, aku tersenyum padanya. Riski terlihat berkali menghapus jejak air mata. Dia berjalan mendekat, lalu memelukku erat.

 

0 Komentar