Oleh : Rens09
Tak pernah aku sangka
kalau melihat hal lain di dunia akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Berawal
dari awal mula aku bisa melihat makhluk gaib saat berusia enam atau tujuh tahun
dan sempat aku tak bisa melihat makhluk gaib lagi seusai SMK, tetapi kini aku bisa
melihatnya lagi.
Setiap manusia pasti ada
waktunya di mana harus berpisah satu dengan yang lain untuk selamanya. Tanggal 21
Desember 2020 tepatnya, kabar itu sampai kepadaku. Setelah hampir tiga tahun
tak ada kabar apa pun, hari itu hatiku seakan bergetar karena kabar duka yang
datang. Dia, kekasihku di masa lalu, meninggal karena hal yang belum jelas.
Kabar itu menyeruak hingga banyak orang menghubungi nomor ponselku.
[Rens, maaf sebelumnya,
sudah tahu belum kalau Hans meninggal?]
[Ren, kami mau melayat ke
rumahmu. Maaf, suamimu itu meninggal di rumahmu, kan?]
[Ren, turut belasungkawa,
ya. Hans meninggal, ya?]
Kaget? Iya. Sedih?
Sangat. Tanganku gemetar memegang ponsel dengan pesan yang sudah kubaca satu
per satu. Apalagi aku tak paham maksud mereka yang mengira Hans berada di
rumahku. Mana mungkin?! Sudah hampir tiga tahun dia tak peduli padaku. Bahkan
bertemu aku yang sudah melahirkan pun tak pernah. Apa pantas mereka menyebut
dia suamiku? Tidak. Aku membalas satu per satu pesan itu dengan deraian air
mata. Sebanyak apa pun kesalahannya padaku, aku tak bisa membencinya.
Sebelumnya ... tepatnya
tiga bulan sebelum kejadian ini terjadi, aku sudah berkali-kali memimpikan hal
aneh tentangnya. Harusnya, aku tidak menceritakan pengalaman mistis ini. Namun
ini saatnya aku mengungkapkan kebenaran. Aku merasakan jika dia hendak tiada.
Dalam mimpiku, aku selalu
papasan dengan Hans. Wajahnya murung dan sedih, seakan banyak beban di
kehidupannya. Aku mencoba menyapa, tetapi seakan dia tak melihatku. Mimpi itu
berlanjut di hari-hari lainnya. Selama tiga bulan banyak mimpi yang aneh
kurasa. Terakhir kali mimpi tentang Hans, aku melihatnya masuk ke rumah bawah
tanah. Dia mengajakku masuk ke rumahnya, tetapi aku mampu keluar dan pergi dari
tempat yang penuh lumpur itu.
Mimpi yang aneh dan
menakutkan. Aku ingin sekali menanyakan kabarnya. Namun saat teringat segala
kejahatan dan luka yang ditorehkan di hati, aku mengurungkan niat. Hingga kabar
duka itu datang, aku baru menyadari semua arti mimpi itu.
Hari di mana Hans pergi,
banyak hal buruk terungkap. Aku pun merasa pundakku sakit dan berat. Seakan ada
beban di sana. Setelah menangis seharian, aku tidak bisa melayat karena tidak
diizinkan oleh Mamaku. Lagi pula, jenazahnya langsung dimakamkan. Dia
terindikasi terkena virus yang sedang merajalela di dunia. Aku hanya bisa
terdiam larut dalam duka dan bersyukur sudah tak lagi bersamanya. Ya, bersyukur.
Karena banyak permasalahan terungkap setelah kematiannya.
***
Beberapa hari setelah
kepergian Hans, tepatnya tanggal 27 Desember 2020 pas tujuh hari kepergiannya
... selepas Magrib, putriku menangis ketakutan. Angin berembus cukup kencang
hingga tirai kaca terbuka. Tak ada hal yang terjadi, bukan karena si kecil sakit
atau terantuk sesuatu yang membuat dia menangis. Lizbeth langsung menunjuk ke
arah kaca jendela kamar. Betapa terkejutnya aku, setelah sekian lama tak
bertemu ... mengapa harus datang dalam kondisi seperti ini? Hans ada di sana.
Samar-samar bayangan tubuh dan wajahnya terlihat menyeramkan dari kaca jendela.
Aku menimang Lizbeth yang
sudah berusia hampir tiga tahun. Dia terlihat sangat ketakutan. Aku terus
berdoa dalam hati dan menyanyikan lagu rohani agar putriku tenang dalam
pelukanku. Sekitar hampir jam tujuh malam, putri kecilku akhirnya terlelap. Aku
meletakkan tubuhnya di kasur empuk dan menyelimuti tubuh mungilnya dengan
selimut gambar Doraemon.
Bukannya penampakan itu
pergi, justru malah masuk ke kamar. Wajah pucat, hanya terdiam, mata yang
terlihat tak bercahaya sama sekali. (Bahkan saat menulis jejak mistis ini, aku merinding)
Hans mengenakan setelan jas warna abu-abu seperti saat kami prewedding tahun
2017 lalu. Aku terkejut. Apa yang dia lakukan di sini? Apakah sungguh dirinya?
Hans tak berucap sepatah
kata pun. Dia hanya menatapku dengan sedih yang teramat dalam di wajahnya. Aku
tak bisa menyimpulkan apa yang dia pikirkan atau yang dia ingin sampaikan. Hal
yang aku ingat sampai detik ini adalah raut wajah menyesal terlihat dari
dirinya.
Aku pun memejamkan mata
dan berdoa. Bukan karena takut melihat wajahnya, tetapi aku tak tega dengan
Hans yang sudah tiada dalam kondisi melakukan dosa besar, yaitu zina. Aku
berdoa untuk memaafkan segala kesalahannya di masa lampau. Namun aku tak bisa
mendoakan lebih dari itu. Soal kehidupan sesudah kematian adalah jalan pribadi
masing-masing. Aku tak bisa membantunya.
“Aku sudah memaafkanmu.
Sekarang pergilah! Jika ingin doa lebih, mintalah pada istri-istri atau
wanita-wanitamu yang lain. Jangan padaku!”
Begitu gertakku pada
Hans. Malam itu ... dia menghilang, pergi. Aku tak yakin apa yang terjadi,
tetapi satu hal yang aku tahu, ada penyesalan dari sorot matanya. Penyesalan
tak berujung yang tak akan mengubah apa pun meski dia datang dalam wujud gaib.
Manusia memang tak luput
dari dosa. Selama Sang Pencipta memberi kesempatan hidup, baiknya berperilaku yang
terbaik. Karena manusia tak pernah tahu ... hanya maut yang sebenarnya paling
dekat dengan manusia. Maut datang tanpa permisi, tanpa dipinta. Hal itu membuatku
bercermin dan semakin mendekatkan diri kepada segala ketetapan Sang Pencipta.
Tuhan tahu apa yang umat-Nya lakukan. Baik atau buruk hal itu, bahkan ketika
manusia berdusta dan menyembunyikan kebusukannya di hadapan manusia lain, Tuhan
tahu semuanya.
Jejak mistis yang aku
tulis ini menjadi kenangan terakhir yang aku abadikan. Semua usai, lepas,
bebas. Aku tidak lagi merasakan beban karena masa lalu. Hans pun tidak
menampakkan wujudnya lagi di hadapanku. Entahlah ... apakah waktu itu benar dia
adanya, atau roh jahat yang mengambil wujudnya untuk mengganggu imanku? Aku tak
tahu. Terpenting dari semua itu, aku belajar menjadi pribadi yang lebih baik
dari sebelumnya. Melepas semua belenggu masa lalu dan terbebas dari semua
trauma buruk. Semuanya sirna bersama Hans yang berada di liang lahat.
Kenangan terakhir yang
membuatku selalu bersyukur adalah hadirnya Lizbeth dalam hidupku dan dia sama
sekali tak mengenal Hans. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Entah apa yang
terjadi, jika tak ada Lizbeth di sisiku. Tuhan Maha Baik.
Hans ... aku sudah
menuliskan semua yang harus aku ungkap, sekarang. Berjanjilah ... jangan
meminta tolong padaku atau menampakkan wujud padaku lagi. Minta tolonglah pada
pembaca cerita ini agar bisa membantumu dalam doa. Jika membaca kisah ini,
kalian merasakan angin berembus dan merinding seketika. Mungkin ... Hans ada di
sana. Dia hendak meminta tolong dan meminta doa.
Terima kasih kenangan
terakhir. Semoga kita tak berjumpa lagi. Amin
Magelang, 14 Januari 2020
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.