Hutan Jati

Oleh: Ratna Arowolo Ginting

 

Bohlam pijar lima watt hanya mampu menerangi selasar gereja. Juga, lima ruang kantor berukuran kecil di samping rumah ibadah ini memantulkan cahaya temaram, tidak mampu menggapai deretan batang jati di depan gedung-gedung ini. Namun, sinar rembulan leluasa menembus sela tiap pohon hingga dedaunan jati terlihat bertepuk satu sama lain oleh hembusan angin.

 

"Sudah, Pak," kataku dengan tangan menutup pintu belakang mobil setelah memasukkan alat musik ke bagasi.

 

"Kamu berani?" tanya pendetaku sebelum menutup pintu pengemudi. Acungan jempolku adalah kode bahwa aku akan baik-baik saja walau perang dalam batin ini adalah melawan kegundahan. Lambaian tanganku mengantarkan kepergian mobil melewati badan jalan.

 

"Kak, kami tinggal, ya." Satu dari tiga pemuda meminta izin pulang. Tidak sedikit pun mereka menunjukkan sikap bersedia menggantikan tugasku malam ini. Badan mereka yang tinggi dan atletis seharusnya bisa menjadi andalan untuk menjaga gereja daripada diriku, seorang perempuan yang akan tidur di dalam bangunan di tengah kegelapan walau mendapat anggapan aman dalam lingkungan militer. Aku pun memang harus bertanggung jawab melaksanakan tugasku sebagai pekerja gereja.

 

Aku menata karpet berbulu setelah memastikan kamar mandi yang berada di belakang gereja terkunci. Hanya cahaya lampu kecil kekuningan kunyalakan menemani area tempat tidurku di balik mimbar yang cukup besar dan berat. Melawan kegalauan hatiku, setiap SMS pada ponsel aku baca ulang dengan harapan mampu mengusir pikiran seram jika seseorang mengetahui keberadaan seorang gadis menjadi penunggu. Memperhatikan jam berharap waktu cepat berlalu.

 

Akhirnya aku merasa sedikit aman, suara bocah-bocah tertawa menemani malam. Kaki-kaki mereka berlarian di atas lantai teras dan samping kiri kanan gereja. Suara orang-orang dewasa menyapu dan bercanda pun terdengar riuh, semakin ramai seperti pasar. Hilang rasa khawatir yang mendera hatiku. Akhirnya aku tidak sendirian. Mungkin aku bisa tidur nyenyak, meluruskan pinggangku yang sudah dua hari begitu sakit.

 

Jempolku masih bergerak menekan tombol naik turun dan ke samping kanan kiri untuk membuka-buka semua pesan masuk. Ada senyum simpul membaca pesan dari si Mas Hanafi, lelaki yang menaruh hati padaku hampir satu tahun ini.

 

Aku mengambil waktu berdoa untuk tidur. Namun, tangan-tangan terdengar mengetuk-ngetuk kaca jendela hitam. Semakin sering terdengar disertai tawa anak-anak kecil. Bergantian dari samping sebelah kiri kemudian berpindah ke samping sebelah kanan. Sinyal otakku tidak mengirimkan perintah mendatangi mereka seperti biasanya kalau aku membersihkan gereja dan melihat mereka bermain-main di teras yang sudah bersih setelah di-pel. Pinggang yang berdenyut mengajak tubuhku untuk berbaring.

 

Suasana tengah malam berdetak ke 12.30 pada jam dinding dekatku. Tubuhku sontak bangkit dengan mata terbelalak. Aku menyadari tidak mungkin keriuhan di luar sana berproses saat ini. Pukulan pada kaca jendela semakin kencang dari telapak tangan yang aku bisa perkirakan lebih dari lima anak. Suara orang-orang dewasa semakin keras. Ya, Tuhan, atmosfer apa yang menyelubungi sekitarku hingga aku berhadapan dengan makhluk-makhluk ini. Bukankah ini gereja tempat Tuhan berkuasa?

 

Mereka tidak boleh mengetahui keberadaanku. Melipat tubuh ke dalam rak mimbar paling bawah adalah cara terbaik. Merapal doa berharap mereka sirna. Detik demi detik menjadi sebuah penyiksaan batin disertai kaki yang akhirnya geringgingan. Tik tak jarum jam menusuk tajam di telingaku. Aku menghitungnya hingga lelah.

 

Gedoran pintu depan gereja begitu keras. Terdengar suara-suara memanggil namaku. Pandanganku berkunang-kunang dengan hati masih penuh Ketakutan. Akan tetapi suara-suara itu akrab di telingaku. Aku berlari menyambut panggilan itu setelah terbelalak melihat jam 06.05 pada ponsel.

 

"Tidur saja kamu!" Tuduhan yang menyakitkan dari Istri pendetaku terasa menyakitkan di hati. Namun, bukan suatu keharusan juga untuk disimpan dalam hati karena mereka tidak turut dalam pengalaman ketakutanku.

 

***

 

"Ibadah gabungan pemuda di tempat kita lagi, Rat." Bapak Pendeta memberikan surat permohonan ketua umum pemuda kepadaku.

 

"Wilayah kita ada 27 gereja, Pak. Ada dua gereja besar yang juga mampu melaksanakan ibadah," kataku.

 

"Kedua gereja itu ada kegiatan. Para pemuda pun lebih senang untuk berkunjung ke tempat ini walau tidak ada angkutan umum," jawab pendetaku.

 

"Wah, Ratna senang tuh disuruh tidur di gereja lagi. Gak ada tanggung jawab seperti di rumah, bangun siang lagi."

 

Sungguh, sebenarnya perkataan yang menyinggung perasaan ini ingin aku bantah dengan membalas "Kenapa tidak Ibu saja yang menikmati malam di gereja, ditemani pohon-pohon jati."

 

"Minta kaum muda laki-laki, Rat, untuk tidur di gereja besok malam," sela pendetaku untuk menetralisir keadaan yang aku yakin rona wajahku terlihat olehnya tampak tidak senang. Tidak ada ucapan apa pun dari bibirku karena mereka pun pasti tahu jawabannya.

 

"Bengkel tua di depan gereja itu katanya sering penampakan perempuan cantik, Rat. Tapi kamu sepertinya biasa aja," celetuk Ibu Pendetaku.

 

"Ratna mental preman begitu mana berani hantunya. Lagian mana berani hantu masuk gereja." Sebuah candaan dari pendetaku menimbulkan tawa mereka berdua.

 

Persiapan matang sudah meyakinkanku tepat waktunya aku harus bertempur lagi dengan waktu yang menakutkan setelah semua kaum muda hilang dari pandanganku selesai ibadah. Radio akan menemani malamku walau siaran akan bertahan hanya tengah malam, beberapa kaset lagu-lagu rohani akan mengalun.

 

Tubuhku masih kusembunyikan dalam rak bawah mimbar, tetapi setengah dada dan kepalaku menjulur ke luar dalam posisi rebah. Aku pastikan masih dalam posisi tersembunyi dari mata-mata yang mungkin mengintai. Radio menempel tepat di tubuhku sebelah kiri.

 

Aku menanti kehadiran mereka, bukan manusia yang akan berbuat jahat terhadap fisikku. Yah, mungkin makhluk-makhluk itu merasa aneh dengan kehadiran manusia di tengah-tengah wilayah mereka.

 

Kegelapan tidak sirna menjadi terang, mataku tidak menangkap sedikit pun cahaya luar dari sela-sela bawah pintu. Namun, suasana yang sama kembali bermain. Kaca-kaca jendela bersuara gedoran, riuh suasana pasar dimulai. Lagu rohani pun menyala. Senjata pamungkas aku ambil supaya tidak sendirian.

 

Layar ponsel terlihat kata "Memanggil". Aku sudah berpesan kepada Hanafi untuk menemani ngobrol sepanjang aku belum tidur. Suatu hal yang menguntungkan, operator ponsel menyediakan telpon gratis sesama jaringan.

 

Kegaduhan suasana tengah malam ini sungguh mengganggu. Rasa kantukku menyiksa, tetapi mata tidak bisa terpejam. Aku tidak ingin lagi dikuasai intimidasi mereka. Sebuah keberanian dalam hatiku terkumpul.

 

"Aku tidak peduli keributan kalian. Tidak ada yang akan saling menguasai."

 

Suaraku menggema di dalam gereja. Aku yakin mereka mendengar lewat tubuhku yang tetap tersembunyi dari pandangan yang menembus kaca jendela kursi-kursi jemaat. Suara-suara mereka sekejap berhenti, lenyap seperti ditelan angin. Detak jarum jam tepat pada angka satu. Jariku memutar tombol volume radio tape sehingga suara pujian lebih keras.

 

Tidak sedikit pun mataku terpejam menikmati alunan lagu hingga pukul setengah enam aku membukakan pintu untuk bapak tua petugas kebersihan gereja. Tidak ingin aku mendengar kata-kata menggerus hatiku lagi walau mata ini pasti akan berkali-kali meminta terpejam saat ibadah nanti.

 

***

 

Empat tahun kemudian.

 

"Dan, jaga malam yang mengasyikkan," seru seorang tentara berpangkat bintara kepada seorang lelaki yang sedang melakukan sit up di lapangan basket tepat samping gereja. Itu sebabnya aku sangat jelas mendengar obrolan mereka pada jam setengah enam pagi ini.

 

"Mereka datang, ya?" Sang perwira yang dipanggil "Dan" sebagai jabatan komandan berkata setelah menghentikan gerakannya.

 

"Perempuan berkebaya merah. Tapi yang pakai seragam SMA yang agresif mau mendekati pos jaga dan aku perintahkan berhenti. Untungnya menurut, Dan," jawab si bintara.

 

"Untungnya bukan si Rudi yang dinas malam, bisa terbirit-birit dia. Pos jaga kosong." Keduanya tertawa kencang.

 

Pohon-pohon jati masih berdiri kokoh dengan pertumbuhan yang semakin meninggi. Hanya lima meter tanah yang akhirnya dikosongkan untuk membuat pos jaga tepat di depan gedung gereja. Otomatis selama 24 jam lingkungan gereja terawasi oleh tentara dan penerangan cukup sempurna menurutku. Lingkungan akan aman dari manusia dengan niat tidak baik.

 

"Kenapa tidak dari dulu pos dibangun ya, Kak," kata temanku. "Kan waktu Kakak harus jaga gereja beberapa tahun lalu bisa nyaman. Sekarang sudah tidak ada ibadah pemuda lagi di wilayah kita."

 

"Tidak ada pengaruhnya juga, kok. Mereka yang tentara juga harus berinteraksi dengan penghuni bengkel tua itu," jawabku.

 

Tidak ada lagi kesan seram pada bengkel tua di bawah gardu listrik di depan gereja. Perintah untuk mengubah bangunan itu menjadi tempat pos yandu mengundang anak-anak senang bermain di terasnya. Halaman depannya pun sudah penuh bunga tertata rapi oleh tangan-tangan tentara yang terampil.

 

Aku tidak ingin berkenalan dengan mereka yang menghuni bengkel tua yang ada di bawah pohon beringin besar dan pohon tinggi lainnya yang usianya jauh lebih tua dari bengkel itu sendiri. Pohon-pohon yang layak disebut hutan ini satu per satu hilang jika dianggap penting untuk keperluan bangunan. Namun, pohon-pohon jati yang tetap tertata baik kini sudah tertera sebagai "Taman hutan Kota" pada papan yang tertancap di pinggirannya.

 

Medan, 14 Januari 2021

(Inspirasi dari kisah nyata)

0 Komentar