Hantu dan makhluk tak kasat mata lainnya ada di mana-mana, tak terkecuali di lautan di dalam kapal, bahkan ada di dalam pesawat. Intinya, tempat horor dan angker bukan suatu patokan, itu semua membuat kita harus senantiasa menjaga perilaku dan ucapan ketika memasuki tempat yang baru dan asing. Ini adalah kisah daerah kampung yang terlihat biasa saja dan tak terisolir.
Kampungku
memiliki sejuta kisah horor, di mana banyak penduduknya bersaksi dan mengalami
banyak kejadian astral yang tak menyenangkan untuk diceritakan. Ada yang
mengaku pernah tiba di kerajaan jin ketika dia tertidur menjelang maghrib di
sawah, ada yang pernah diculik wewe gombel hingga menghebohkan sekampung.
Banyak kisah yang terjadi sehingga jika diceritakan satu persatu, maka akan sangat
panjang untuk dibahas.
Cerita
horor sendiri sering dialami oleh ibuku. Dari gangguan yang berupa suara, mengganggu
listrik rumah, sampai ke penampakan. Ibuku pernah bercerita saat adikku yang
kedua masih bayi, saat tengah malam sering terdengar ada wanita yang menangis,
tertawa, bahkan sampai mengetuk rumah sambil berucap “Permisi.” Yang hanya terjadi
satu kali saja.
Penampakan
yang ibuku lihat juga terjadi saat malam-malam beliau pulang membawa barang
dagangan, gangguan yang sering didapat adalah motor yang terasa berat, condong
ke arah samping karena tiba-tiba berat sebelah dan gangguan yang sering terjadi
adalah lampu depan yang tiba-tiba padam. Satu kejadian, ibuku melihat sosok
wanita di bawah pohon beringin dan pernah juga melihat sosok binatang yang
tiba-tiba melintas di depan jalan, namun yang menakutkannya, binatang itu
memiliki banyak bola mata yang menyala merah saat disoroti lampu motor.
Pengalaman
menyeramkan juga selalu dialami oleh orang-orang pendatang atau mereka yang
bukan pribumi, salah satunya adalah pacar dan teman adik pertamaku. Temannya
pernah berkata jika saat malam hari usai mengantar adikku pulang, dari belokan
yang terdapat jurang, pohon beringin dan menara tower, pernah ada sesuatu bulat
yang jatuh tepat di hadapannya. Karena takut, pria itu tak berhenti, ia malah
mempercepat laju kendaraan, setelah itu terdengar suara cekikikan.
Pengakuan
lain dikatakan oleh pacar adikku, ketika malam hari usai mengantar pulang
adikku, dari belokan ituーtepat di dekat jurang dan pohon beringinーia melihat sosok wanita berpakaian putih
sedang membelakanginya. Belokan itu adalah salah satu daerah angker di
kampungku.
Meski
banyak kabar beredar mengenai banyaknya penampakan makhluk astral di sepanjang
jalan dan daerah kampung ini, aku belum pernah mengalaminya secara langsung
hingga hari itu tiba.
Tahun
2020, aku sudah lulus beberapa tahun dari SMA. Sayangnya, zaman sekarang yang
susah mencari kerja membuatku masih menganggur, kejadian ini terjadi sebelum
masa pandemi. Saat itu ada teman SMP-ku yang mengajak jalan-jalan, dia
laki-laki sama sepertiku, kami adalah teman akrab.
Jarak dari kampung menuju ke jalan raya tak
terlalu jauh, jika jalan kaki, itu hanya perlu menghabiskan waktu selama lima
sampai sepuluh menit saja.
Kebetulan,
jalan ini belum memiliki rumah, di sisi satu adalah kebun dan pepohonan, di
sisi satunya adalah jurang yang ditumbuhi pepohonan di setiap tebingnya, tepat
beberapa puluh meter di bawahnya adalah jalan Raya. Jalanan penghubung kampung
dan jalan Raya ini terbuat dari tembok yang sudah lama, banyak lubang dan batuan.
Tapi yang paling parah di antara itu semua, tak adanya lampu jalanan yang
menjadi penerangan sehingga malam hari pastinya gelap gulita.
Pagi ituーdengan
helm hitam di tangan kananーaku jalan kaki menuju jalan Raya. Kami
bertemu di pinggir jalan di depan gapura, lalu tak lama basa-basi langsung
berangkat.
Saat itu
kami pergi ke daerah air terjun yang terkenal di daerah kami, hampir seharian
kami menghabiskan waktu. Ketika senja tiba, temanku mengajakku mampir ke
rumahnya untuk makan dan melakukan beberapa hal lainnya. Kegiatan itu berlalu
hingga pukul sembilan malam lebih, hampir pukul sepuluh.
Karena
aku bukan tipe orang yang biasa keluar malam-malam, aku memutuskan untuk pamit
pulang pada keluarga temanku. Awalnya, temanku itu menawarkan untuk menginap
saja, dikarenakan aku belum izin pada ibuku, aku menolak tawarannya dan meminta
diantar pulang saja.
Malam
itu, aku pulang dengan diantar olehnya, sepanjang jalan kami tak banyak bicara,
itu karena aku yang memang memiliki karakter anti sosial yang tinggi. Ketika
kami hampir sampai di depan gapura jalan yang menuju ke kampung, temanku
tiba-tiba berkata jika bensin motornya hampir habis dan kemarin ada kerusakan
sehingga motornya tak akan mampu menanjak, ia berkata jika dirinya hanya bisa
mengantarku sampai gapura itu saja.
Aku
terkejut, pasalnya kukira dia akan mengantarku sampai depan rumah, itu yang
selalu dia lakukan sebelumnya. Terakhir kali dia mengantarku memang sampai
tanjakan saja, tak sampai melewati belokan yang ada pohon beringinnya. Di sana
aku berasumsi jika dia pernah diganggu juga oleh penghuni di sana, hanya saja
dia tak mau bercerita sehingga sekarang ia berdalih punya masalah dengan
motornya.
Mau tak
mau aku berjalan dalam kegelapan, jalanan menuju ke kampungku memang menanjak
sejauh beberapa puluh meter sebelum sedikit mendatar, setelah menyusuri jalan
mendatar, beberapa puluh meter di depan akan bertemu belokan yang memiliki
pohon beringin.
Aku agak
kesal juga saat itu, pasalnya ini pertama kalinya dia mengantarku sampai gapura
ketika malam hari. Bukannya aku takut, hanya saja jalanan yang jelek dan tanpa
penerangan sering membuatku terpeleset atau menendang batu tanpa sengaja.
Untungnya malam itu bulan bersinar
sehingga dalam keremangan, aku bisa melihat jalan jelek itu.
Suara
serangga malam adalah teman seperjalananku saat itu, rasanya agak lelah setelah
melalui tanjakan yang memiliki kemiringan hampir 270° sebelumnya. Ketika aku
melewati jalan yang agak mendatar, tiba-tiba saja cerita-cerita warga kampungku
malah terbesit dan terbayang dalam benakku, lebih sialnya lagi, semua itu
terjadi ketika aku sudah berada di dekat belokan itu.
Karena
mengingat cerita-cerita hantu itu, sontak saja aku meremang dan merasa takut
tanpa sebab. Aku melantunkan sholawat sambil mempercepat langkahku. Angin yang tenang
tiba-tiba berembus agak kencang saat itu, aku sengaja mengayun-ayunkan helmku,
saat itu yang kupegang adalah bagian talinya.
Saat
itulah karena aku terlalu kuat mengayunkan ditambah tanganku yang berkeringat,
helmku terlempar ke arah depan.
“Duh, pake
lepas segala.” Suara helmku yang membentur tanah segera terdengar, saat aku
akan berjalan menuju ke arah tempat helmku berada, ada suara kedua yang
terdengar menghantam tanah juga, sontak aku mengurungkan niat untuk mengambil
helmku. Suaranya berbeda, mana mungkin helmku memantul.
“Su …
suara apa itu?” Aku tertegun sesaat, segala hal mulai terbanyang dalam
benakkku, cerita-cerita horor itu segera memberikan gambaran soal kepala buntung
yang pernah kudengar.
“Ini gak
beres.” Aku segera berlari menuju ke arah tempat helmku berada.
Saat aku
memungut helmku, tiba-tiba aku melihat benda bulat gelap yang berada cukup
dekat dengan tempat helmku berada sebelumnya. Di sana aku gemetaran ketakutan,
meski hanya disinari samar dengan cahaya bulan, aku tahu pasti dengan benda
macam apa yang ada di hadapanku. Itu … kepala.
“Uih,
jang?” tiba-tiba ada suara pria tua yang menanyakan apakah aku pulang. Suara
itu serak dan besar.
Mendengar
pertanyaan itu, jangankan bersedia menjawab, aku sama sekali tak bisa
mengeluarkan suara, apalagi aku mendengar suara itu tepat berada di belakangku.
Kakiku gemetaran, jantungku berdetak kencang. Aku yakin ini bukan sosok
manusia, bahkan aku sama sekali tak mengenali suaranya.
Tanpa mau
mengatakan apa-apa, tanpa mau menoleh, kupaksakan kakiku untuk bergerak
melarikan diri dari sana. Sayangnya, usaha yang harusnya sangat mudah itu malah
terasa sulit luar biasa. Dalam ketakutan itu, sudut mataku tak sengaja melihat
ke arah akar beringin yang jaraknya tak jauh dari tempatku berada.
Entah
hanya penglihatanku yang buruk atau khayalanku saja, tapi di sana mataku
menangkap sosok perempuan berpakaian putih sedang membelakangiku. Segera saja
aku memalingkan pandangan, tak mau menyaksikan sosok itu lebih lama lagi. Tak
sampai di situ, dalam usah aku untuk berlari, tiba-tiba ada tangan yang
menyentuh pundakku, itu seketika
membuatku menggigil. Suara serak kakek tua itu kembali terdengar oleh
telingaku, kali ini aku tak paham dengan apa yang dikatakannya.
Dalam
ketakutanku yang memuncak, tiba-tiba pandanganku silau oleh cahaya yang terang
lalu diiringi suara klakson yang kencang, tubuhku langsung saja terbentur sesuatu
dengan cukup keras hingga aku jatuh duduk di jalanan.
Tidak
terlalu sakit, hanya saja aku kaget karena ternyata aku tertabrak oleh motor
seseorang yang melaju di jalan, aku memang berada di tengah jalan saat itu. Seseorang
membantuku berdiri, aku mengenali pria itu sebagai salah satu warga kampung, pria itu tak sengaja
menabrakku. Aku baik-baik saja, hanya sedikit lecet, benturannya memang tak
terlalu keras karena yang menabrakku sempat mengerem. Pria itu menegurku karena
aku berada di tengah jalan dan tepat di belokan jalan ini, belokan yang rawan.
Belokan
ini terhalangi oleh pepohonan sehingga setiap orang yang melalui jalan ini
harus menyalakan klakson, selain untuk memberitahu orang yang mungkin saja ada
di sisi lain, klakson juga memberi tanda pada penghuni di sana bahwa kita
mengisyaratkan permisi untuk lewat.
Akhirnya
aku diantar pulang olehnya. Tanpa mengatakan apa-apa, aku ikut pergi
bersamanya. Aku memandang ke sekitar sebelum naik ke jok boncengan, di sana tak
ada siapa pun, tak ada makhluk apa pun.
Pria itu
tak bertanya apa-apa, aku yakin dari gelagat dan ekspresiku, beliau pasti tahu
apa yang sudah kualami di sana. Semua orang sudah tahu seberapa angker dan
mistisnya belokan itu. Banyak penghuni yang berada di sekitar jurang, pohon
beringin dan tower itu.
Ini
adalah pengalaman pertamaku bertemu dengan penghuni salah satu tempat angker
yang ada di kampungku.
***
END
Penulis : Ganjar
Nama Pena : Souvarrel Hellvaelumgladriaxus
Domisili : Garut
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.