DEMI ADIKARA


    “Akang kabari nanti, mudah-mudahan bisa pulang lebih cepat jadi bisa merayakan tahun baru di rumah. Sementara ajak aja ibu sama Teh Nia main di sini.”

    Aku mengiyakan pesan-pesan Kang Agus sambil melihatnya keluar dari pintu gerbang yang menjulang membentengi rumah kami. Mang Wawan—penjaga rumah—terlihat kerdil di bawahnya.

    Tiang pagar di pintu gerbang itu begitu tinggi, jauh melebihi ketinggianku yang mencapai 170 cm, bahkan mampu melewati batas kepala Kang Agus yang sepuluh senti lebih lencir dariku. Menurutku, ketinggian pintu itu sangat mencerminkan kepribadian Kang Agus yang memang kurang suka bersosialisasi, kecuali untuk urusan pekerjaan. Itulah sebabnya, selepas meminangku sebulan yang lalu, Kang Agus langsung mengajakku pindah ke rumah ini. Ia tidak betah berlama-lama tinggal di rumah orang tuaku yang berada di gang kecil dengan perumahan penduduk yang rapat dan padat. Terlalu berisik, katanya. Sebaliknya, bagiku lingkungan rumah ini justru terlalu sepi.

    Aku bergegas masuk setelah mobil yang dikendarai Kang Agus berbelok di pertigaan dan asapnya menghilang dari pandangan. Detak jarum jam langsung menyambut begitu kakiku menjejak lantai ruang tengah. Kesunyian di sekelilingku membuat suaranya terdengar dua kali lebih keras dari yang seharusnya. Ah, sendiri lagi malam ini.

    Sebetulnya, aku tidak suka ditinggal sendirian, apalagi dibiarkan tak berteman di rumah yang super besar, dengan ruangan yang super banyak, tapi penghuninya super sedikit. Namun apalah daya, kesibukan Kang Agus sebagai seorang pengusaha menuntutku untuk selalu siap ditinggalkan kapan pun olehnya. Seperti hari ini—dua hari menjelang pergantian tahun—ia tiba-tiba harus pergi ke Jakarta untuk menghadiri rapat Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Padahal kemarin ia baru saja pulang dari Malang.

    “Akang harus datang sebab Akang yang mewakili APINDO Jabar,” ujar Kang Agus waktu itu.

    Aku menilik undangan rapat yang terpampang di layar laptop Kang Agus. Slogan bertemakan “Tahun Baru, Normal Baru” tertulis jelas di sana, nama Kang Agus pun tercantum sebagai salah satu pembicara. Seketika aku menyadari bahwa peluangku untuk bisa merayakan malam pergantian tahun bersamanya harus pupus dikalahkan oleh urusan pekerjaan.

“Kang, ini meja kerjanya berantakan pisan, ih.”

“Bia—”

“Nanti Neng beresin, ya?”

“Biar aja!”

Aku terkejut kala Kang Agus menepis tanganku agar menjauh dari lemari kecil berbahan kayu jati yang terletak di kolong meja kerjanya.

“Maaf…. Biar aja, enggak usah diberesin, ya? Banyak dokumen penting di sini, takut hilang kalau diberesin.”

“Isi lemari itu apaan, sih, Kang? Penting banget, ya, sampai tangan Neng ditepis gitu?”

“Neng enggak usah kepingin tahu. Tugas Neng di sini cuma satu, berdoa supaya usaha Akang lancar. Udah itu aja, nurut, ya, Neng.”

Kuhela napas saat memasuki kamar yang kosong di lantai teratas, kamarku dan Kang Agus. Melihat kasur berukuran king size yang takkan ditiduri suamiku malam ini membuat hatiku berkecai. Kacau, baru saja pergi aku sudah merindukannya. Meski Kang Agus menjanjikan kepergiannya kali ini tidak akan lama, tapi tetap saja, ketiadaannya di rumah ini selalu menjadi penanda datangnya waktu-waktu panjang dan membosankan yang harus kulalui bertemankan bayanganku sendiri.

Rumah bertingkat dua yang terletak di Jalan Halimun ini memiliki luas bangunan tak kurang dari 400 m2. Rumah ini dulunya adalah aset bersama Kang Agus dan Teh Susan—mantan istri Kang Agus. Perceraian yang terjadi di tahun 2018 membuat keduanya harus berbagi harta, Teh Susan memilih pulang kampung ke Tangerang dan menempati satu rumah di kota itu, sementara Kang Agus tetap tinggal di Bandung, di rumah Halimun, ditemani oleh sepasang suami istri: Mang Wawan dan Bi Ati.

Hunian mewah yang sejak semula sunyi jadi semakin senyap setelah Teh Susan pergi. Untunglah kehadiranku dapat mengikis suasana sepi menahun di sana, geliat kehidupan pun kembali terasa setelah aku menjadi nyonya baru di dalamnya.

            “Iya, nanti Ibu sama Teh Nia ke sana.”

            Perasaanku sedikit lebih baik setelah ibu dan kakak perempuanku bersedia datang ke Halimun. Mereka pasti tahu, aku penakut, aku tidak suka tempat sepi. Lingkungan yang sunyi selalu membuatku merasa ada sosok tak kasatmata yang mengawasi setiap gerak-gerikku. Setidaknya, kehadiran keluargaku akan membuat rasa cabar hatiku berkurang setengahnya.

            Menunggu itu membosankan, jadi kuputuskan mencari-cari kesibukan sambil menanti Ibu dan Teh Nia datang. Target pertamaku adalah ruang kerja Kang Agus. Aku tak peduli sekalipun suamiku melarang, ruangan itu betul-betul perlu dirapikan.

“Bapak bilang kita enggak boleh masuk ke sini, Bu,” kata Bi Ati ragu-ragu saat kuminta ia membantuku merapikan ruang kerja Kang Agus. “Bibi belum pernah beres-beres di dalam.”

Bibirku mencebik. Kang Agus bilang begitu kan karena yang diajak bicara itu Bi Ati, ART-nya. Sementara, aku istrinya. Rumahnya rumahku juga, tentu aku boleh melakukan apa pun yang aku mau. “Enggak apa-apa. Nanti kalau Bapak tanya, bilang saja saya yang suruh. Sok, mulai bersihin.”

Aku menumpuk beberapa dokumen jadi satu lalu menyimpannya di sudut meja. Selembar kertas terlepas dari bundelannya dan jatuh perlahan, tertahan angin. Ketika kupungut kertas itu, perhatianku kembali tertuju pada lemari jati kecil yang terletak di kolong meja kerja Kang Agus. Apa sih isi lemari itu? Sepenting apa dokumen yang tersimpan di dalamnya, sampai-sampai Kang Agus marah padaku?

Lemari itu tak terkunci—memang tak ada lubang kuncinya, hanya diganjal oleh kertas karton yang dilipat-lipat. Aku menarik kertas itu, membuat pintunya mengayun lalu terbuka. Tidak ada dokumen penting di dalamnya kecuali sebuah guci hitam berpenutup kain putih. Apa-apaan?

Guci kutarik hingga berada dalam pelukanku, kusingkap penutupnya dan menemukan satu kain berwarna emas yang terkubur di balik bebatuan kecil beraroma kemenyan dan beberapa bunga beraneka warna. Kain itu membungkus sebuah foto. Fotoku.

Suara teriakan Bi Ati saat pintu ruang kerja tiba-tiba menutup membuatku terkejut. Segera kulupakan guci dan kubantu Bi Ati menarik pintu, tapi tak peduli sekeras apa pun kami berusaha, pintu itu tetap bergeming. Aku dan Bi Ati berteriak memanggil Mang Wawan, berharap semoga karpet peredam suara yang melapisi tiap dinding di ruangan ini tak melemahkan seruan kami. Nyatanya, kami harus menunggu selama tiga jam, itu pun setelah Mang Wawan sadar bahwa istrinya tiba-tiba menghilang dan tak bisa ditemukan di tempat mana pun di rumah ini.

Ibu dan Teh Nia ternyata sudah datang ketika aku berhasil keluar dari ruangan itu. Mereka terlihat panik setelah mendengar ceritaku yang terkurung di ruang kerja Kang Agus. Meski demikian, tidak kukisahkan soal penemuan foto di guci. Tidak sekarang. Aku harus meminta penjelasan dari Kang Agus terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan.

Kutelepon suamiku, tapi ia tidak merespons. Mungkin sedang jadi pembicara, pikirku. Sambil menunggu kurebahkan punggung di kasur, menatap nyalang ke langit-langit kamar. Pikiranku berkelana, terisi oleh berjuta tanya yang hendak kutujukan kepada Kang Agus.  

“Kang?”

Aku bingung saat detik berikutnya membuka mata langit di luar telah berubah gelap. Kebingunganku bertambah ketika kulihat Kang Agus berbaring terlentang di sebelah.

Kang Agus berdeham seraya mengulurkan lengannya, memeluk tubuhku. Alih-alih menjawab, ia malah menciumi pipiku, mengelus rambutku, dan menjamah tubuhku. Sentuhannya membuatku melayang, terbang jauh hingga ke awang-awang. Jarang sekali rasanya melihat Kang Agus begitu menginginkanku seperti ini. Mungkin inilah, bulan madu kami yang selalu tertunda akhirnya terpenuhi juga.

Kami saling menarik di kasur, bertukar peluh, menyatukan hasrat dalam ikatan cinta. Aku tak ingat pada pertanyaanku—itu bisa ditunda. Aku juga tak ingat berapa kali kuteriakkan nama Kang Agus di sela-sela helaan napasku. Yang aku ingat, itu adalah percintaan terpanas yang pernah kualami sepanjang pernikahan kami yang belum juga sampai seumur jagung.

Pergumulan itu menyisakan rasa lelah yang teramat sangat. Aku sampai harus memohon izin agar Kang Agus menyudahi keperkasaannya dan membiarkanku tidur barang sebentar saja. Sungguh, aku kewalahan meladeni geloranya yang begitu membara malam itu.

Semburat mentari yang menyelusup masuk melalui jendela membuatku terbangun. Kelopak mataku mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan lalu kuregangkan badan. Aku terkejut mendapati rasa nyeri yang mendera di setiap inci tubuhku.

Tanganku menyibak selimut diikuti oleh degup jantung yang memburu. Apa ini? Ada banyak jejak kemerahan yang tersebar hampir di seluruh permukaan kulitku: di dada, di lengan, di paha, juga di kaki. Luka lebam, seolah tubuhku dihantam benda tumpul berulang-ulang. Sebegitu ektremkah percintaanku dengan Kang Agus semalam?

Aku teringat Kang Agus. Kutengokkan kepala ke kanan dan kiri, mencari-cari kehadirannya yang tak terlihat sejak mataku membuka pagi ini. Yang kucari tak dapat kutemukan di mana-mana, kuteriakkan namanya pun sama saja. Tak terdengar suaranya menyahuti panggilanku.

“Tia, ayo sarapan. Dari semalam kamu tidur kayak orang mati, susah dibanguninnya.”

“Kang Agus mana, Bu?”

“Agus?”

“Semalam Kang Agus udah pulang, kan?”

Bibir Ibu berdecak, “Ibu sama Nia baru tidur jam dua belas, Agus enggak ada tuh pulang ke rumah. Kamu mah ngigau!”

Belum pulang? Lalu siapa yang bercinta denganku semalam?

Suara musik dari ponsel menyela kebingunganku. Ah, pas sekali Kang Agus telepon. “Akang di mana?”

            “Masih di Jakarta. Akang enggak akan bisa pulang pas malam tahun baru, banyak jalan yang ditutup. Akang pulang tanggal satu, Neng.”

            Mataku menjeling, melihat Ibu yang masih berdiri di pintu. “Kang, semalam Neng lihat ada Akang di rumah, kita tidur bareng!”

            Kang Agus membisu. Ia tetap membisu meski berulangkali kupanggil namanya.

            “Neng ke kamar kerja Akang, ya? Neng buka lemari kecil itu?”

Aku membenarkan semua pertanyaannya. Kang Agus bicara lagi setelah mendengar jawabanku.

“Jangan marah, ya, Neng, itu syarat aja biar bisnis Akang lancar. Kalau dia datang, tolong Neng layani dia, ya, anggap aja dia Akang…. Neng?”

Teriakan Ibu adalah suara terakhir yang kudengar sebelum tubuhku murca karena kaki yang tak lagi mampu menegakkan tulang ataupun menyangga badan.

***

 

Glosarium bahasa:

1.       Adikara: kekuasaan

2.       Berkecai: remuk, menjadi kecil-kecil

3.       Cabar hati: ketakutan

4.       Lencir: tinggi

5.       Mencebik: menganjurkan bibir bawah ke depan (untuk mengejek, menghina)

6.       Menjeling: melihat ke samping tanpa menolehkan kepala

7.       Murca: pingsan


 

Latar belakang cerita:

“Demi Adikara” saya buat berdasarkan pengalaman mistis yang dikisahkan langsung oleh adik ipar saya, si tokoh “aku” dalam cerita ini.

Sebulan setelah pernikahannya dengan duda kaya—bos di tempatnya bekerja dulu—adik ipar saya belum pernah betul-betul bisa berduaan dengan suaminya. Kesibukan sang suami membuatnya sering ditinggal-tinggal sendiri di rumah. Sepanjang pernikahan, ia selalu dilarang suaminya masuk ke ruang kerja, tapi rasa penasaran membuatnya menyadari satu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setelah kejadian itu, adik ipar pulang ke rumah orangtuanya dan hingga cerita ini dituliskan, ia belum berani bertemu lagi dengan suaminya.

 

0 Komentar