Tiga Kisah Tentang Teror

 Oleh: Ayu Damayanti

 

    Sejak kecil, wanita beranak tiga itu telah akrab dengan hal-hal ganjil. Penampakan dan gangguan bak makanan sehari-hari di masa silam. Terutama sebelum listrik masuk ke desa.

    Beberapa kejadian tragis dan kematian tak wajar memiliki buntut teror makhluk tak kasat mata. Menyebabkan desa diselimuti suasana mencekam hingga tak ada tanda aktivitas setelah matahari terbenam. Ah, ada banyak kisah yang jika dirangkum, mungkin terdapat dua cerita yang paling banyak dibicarakan.

    Kisah pertama datang dari tahun 1993. Saat itu, wanita tersebut sedang mengirim makanan untuk pekerja di kebun melon yang dirintis oleh sang bapak. Belum sempat diturunkan semua isi bakul, terdengar lengkingan dari arah selatan. Para pekerja melongok dan mendengar beberapa petani di atas menyerukan sesuatu.

            "Ada apa, Pakdhe?"

            "Pak Ilyas."

            "Kenapa pak Ilyas?"

    Tak ada jawaban dari sana karena orang-orang tersebut berlari menuju sumber suara yang sepertinya berasal dari rumah pak Ilyas. Hal itu membuat si wanita tersebut bangkit dan menuju ke mana orang-orang pergi. Wanita itu mengenal pak Ilyas sebagai salah seorang anggota Thoriqoh Satariyah yang dijalankan bapaknya. Ada apa kiranya pada laki-laki lugu yang baik hati itu?

    Saat tiba di sana, sesuatu yang tak pernah siapapun bayangkan terlihat. Wanita itu menjerit tanpa bisa ia cegah. Pak Ilyas tergeletak di pangkuan sang istri yang histeris dengan keadaan bersimbah darah. Istrinya memanggil-manggil pilu dengan sesekali meraup darah yang seperti tak mau berhenti mengalir.

    Cerita tentang bagaimana itu bermula berembus diantara mereka yang datang. Pak Ilyas tengah membantu menebang pohon kelapa dekat rumah. Saat seharusnya Pak Ilyas melepas tali tambang yang mengikat pohon, beliau tak melepaskannya hingga tubuhnya terseret secara kasar dan mengakibatkan luka robekan menganga. Pak Ilyas meninggal seketika.

    Hari sudah malam ketika jasad pak Ilyas dikebumikan. Hanya obor dan lampu minyak menjadi penerang kala itu. Tangisan istri yang berduka pun mengiringi kepergian pak Ilyas.

    Namun, ketegangan yang mengudara tak berhenti di situ. Entah kenapa, sejak hari itu, suasana desa begitu tak mengenakkan. Mencekam. Beredar kabar burung bahwa Pak Ilyas sengaja mencelakakan dirinya karena tak tahan masalah utang.

    Saat itu, motor belum begitu banyak sehingga tiap kali terdengar suara motor hampir dipastikan itu adalah petugas bank yang siap menagih. Beberapa kali, rekannya di satu perguruan memergoki Pak Ilyas memasang tambang di pohon jauh di dalam kebun, tetapi tak terjadi apa-apa. Pak Ilyas juga terlihat normal setelahnya.

    Kabar itu justru menambah kelam kisah pak Ilyas dan juga menambah intensitas ketegangan suasana desa. Apalagi setelah beberapa warga mencium aroma anyir tiap menjelang maghrib. Beberapa yang sedang apes bahkan melihat sosok yang mirip pak Ilyas berdiri di bawah remang cahaya rembulan dengan darah memenuhi wajahnya. Matanya melotot tak berkedip.

     Hal itu membuat pekerja di lahan melon enggan jaga malam. Sholat maghrib berjamaah di langgar juga ditiadakan sementara waktu. Orang-orang tak pernah terlihat keluar rumah menjelang maghrib atau setelahnya.

    Itu menjadi kisah teror tak terlupakan bersama dengan kisah kedua yang datang dari tahun 1997. Kisah yang disinyalir menjadi awal bagi angkernya rumah Mbah Yono. Saat itu, penduduk desa dikejutkan dengan berita kecelakaan pesawat yang dialami salah satu anak Mbah Yono.

    Kecelakaan di Deli Serdang, Sumatra Utara tersebut menewaskan 234 korban dengan 48 diantaranya tak teridentifikasi lantaran hangus terbakar. Anak Mbah Yono termasuk korban yang bisa diidentifikasi dengan temuan dompet di saku celana. Namun, beliau ditemukan dalam keadaan tak utuh. Tubuh yang ditemukan adalah batas pinggang ke bawah sampai kaki.

    Selang beberapa hari setelah dimakamkan, teror penampakan setengah badan menggegerkan desa. Mereka kemudian menyebutnya kembung. Ada yang melihat sekilas saja, ada yang begitu jelas melihatnya melayang-layang di jalanan hingga membuat yang melihat pingsan. Kembung ini juga sesekali terlihat berdiri di atas makam di siang bolong, membuat petani yang melintas lari tunggang langgang.

    Takdir Tuhan, setelah kejadian itu, secara beruntun sanak saudara Mbah Yono berpulang dengan cara yang sama tak wajar. Ada yang kecelakaan tunggal. Ada juga yang tabrakan. Satu diantaranya meninggal dalam keadaan kepala tertusuk penyeka kaca mobil.

    Rentetan kejadian-kejadian malang itu mengudarakan gosip-gosip tentang tumbal dan sebagainya. Terlepas dari semua itu, rumah Mbah Yono sendiri sekarang tak berpenghuni dan memiliki fungsi sebagai gedung serbaguna. Kadang untuk bazar, kegiatan amal, tempat les, bahkan pernah dipakai untuk persemayaman jenazah.

    Rumahnya bergaya kuno dikelilingi pepohonan dengan halaman paving luas dan berlumut. Di dalamnya terdapat dekorasi khas jawa, lukisan, dan patung. Beberapa orang mengaku diganggu dengan suara tangis, aroma anyir, atau penampakan wanita tinggi berbaju putih. Bahkan saat sekolah renovasi di tahun 2010, siswa yang terpaksa belajar di sana diganggu dengan kemunculan taburan bunga mawar dari atap.

    Itu kisah yang cukup populer di sini. Dua kisah itu belum semuanya. Wanita tersebut punya banyak cerita. Termasuk di rumahnya sendiri pun ada begitu banyak gangguan. Ada saatnya ia merasa takut, tetapi sebagian besarnya ia memiliki cukup keberanian jika dibandingkan anak-anak lain pada zamannya.

    Wanita pemberani itu adalah emakku. Aku mengenalnya dengan baik. Juga tentang cerita mistis yang ia alami. Termasuk dua kisah teror yang ia ceritakan berulang. Beberapa keganjilan di sekitar rumah tak menjadi soal untuknya. Sebelum, malam itu mengubah emak.

    Malam di mana aku mendengarnya ber-istighfar dengan begitu keras. Seperti menghentak. Aku mendapatinya meringkuk dengan tubuh menggigil. Tangannya dingin sekali sementara bibirnya bergetar, sibuk membaca doa. Aku ikut membaca doa dengan memeluk emak.

    Aku menyimpan pertanyaan 'ada apa?' dengan menunggu emak tenang. Ini kali pertama melihat emak seperti itu dan aku tak mau bohong bahwa kekhawatiranku terus memuncak. Emak yang di mataku terlihat selalu berani tampak berbeda sekarang.

    "Emak mimpi buruk?" tanyaku selepas memastikan emak mengahabiskan air putih yang kubawa. Emak mengangguk pelan. Bibirnya masih bergerak sesekali. Beristighfar dengan mata yang begitu kosong.

    Saat itu hanya ada aku di rumah. Aku terlalu bingung untuk mengambil tindakan dan hanya bisa terus berdoa. Setelah menemani emak tidur, aku mengambil wudhu lalu membaca al-quran. Tak lupa memanjatkan doa untuk menjauhkan kelurga kami dari segala keburukan.

    Akan tetapi, sepertinya doa itu belum bisa terkabul karena beberapa hari setelahnya, emak masih bertingkah aneh. Itu berlanjut menjadi kisah teror pertama bagiku—yang kuharap sekaligus terakhir. Emak banyak melamun dan mengatakan sesuatu soal aroma aneh yang ia pun tak tahu itu apa.

    "Busuk tidak. Wangi juga tidak," keluh Emak di suatu sore saat aku mendapatinya mengernyit. "Emak nggak tahu, tapi emak pusing tiap kecium aromanya."

    Aroma itu muncul di waktu yang tak bisa ditentukan. Tak disertai tanda apapun. Pikiranku mengembara pada hal-hal ganjil. Tentang sesuatu tak kasat mata yang mungkin mengikuti emak dari suatu tempat. Atau, adakah seseorang yang punya niat jahat?

    Pikiran itu mungkin termasuk prasangka buruk, tetapi aku tak bisa tak menghiraukannya sebab kami pernah mencium aroma dupa di suatu malam. Paginya, betulan ada bekas bakaran itu di pojok rumah. Masih misterius sampai sekarang.

    Lebih dari itu, kejadian yang sama ketika emak histeris kembali terulang di  beberapa hari setelahnya. Saat itu dini hari, bersamaan dengan mataku yang belum bisa terpejam. Jantungku terpacu. Langkah yang kulakukan masih sama dengan dahulu. Emak lebih menggigil lagi.

    Tak putus bacaan yang keluar dari bibirku diyakini dengan doa akan akhir dari teror ini. Sepenuh hati kupanjatkan.

    "M-mukena putih," ucap Emak saat dirinya sudah lebih tenang. Ia menunjuk pintu yang bersebelahan langsung dengan kamarku.

    "Makhluk itu ke kamarmu."

 

***

 

    Aku memanjatkan syukur setelah beberapa hari tak ada hal aneh terjadi pada emak. Setelah hari itu, teror berakhir. Tak ada lagi aroma aneh, atau penampakan perempuan bermukena yang ternyata mengganggu emak di malam saat emak histeris.

    Perempuan itu melambai. Bukan wujud terburuk yang pernah emak lihat, tetapi membawa perasaan tak nyaman. Kecurigaanku soal kemungkinan ulah jahil seseorang berakhir tak berjawab dan kuputuskan melupakannya. Sebab lebih bagiku untuk mendoakan saja yang terbaik untuk semua.

0 Komentar