Tak Percaya Membawa Petaka

Penulis : Hana Ulfha

 

    Hapsari terus menunduk dan memunguti kayu yang sudah dikumpulkan oleh suaminya. Sesekali matanya mencuri pandang ke belakang. Ada tempat bekas penggilingan padi dan rumah pemilik yang sudah lama tak berfungsi.

 

"Bang, udah, ah! Ayok, pulang!" ajak Hapsari pada suaminya.

 

    Pasalnya, sejak tadi ia merasa ada sepasang mata yang menatapnya. Tak hanya itu, suara lirih seseorang minta tolong pun sesekali terdengar. Itu semakin membuat bulu kuduk Hapsari meremang.

 

    "Tolooong!"


    Hapsari terkesiap dan wajahnya semakin pucat. Ia mendekat ke arah suaminya dan menutup mata.

 

    "Bang, dengar suara orang minta tolong, nggak?" tanya Hapsari. Tangannya tak henti menarik-narik kaus suaminya.

 

    "Telingamu itu sudah lama ngga dibersihin kayaknya, Dek," canda Samsul–suaminya.

 

 

"Ayoklah, Bang," rengek wanita bertubuh kurus itu.

 

    Samsul mencekik dan lekas melilitkan tali ke kayu yang sudah menumpuk. Sepertinya cukup untuk persediaan tiga hari ke depan. Lumayan, bisa menghemat gas.

 

    Keduanya pulang dengan Samsul yang membawa kayu. Sedangkan Hapsari memengang gergaji dan botol air. Akhirnya, ia bisa bernafas dengan lega.

 

***

 

    Hapsari dan Samsul adalah pengantin lama yang baru dikarunia anak. Keduanya membuat rumah yang saat ini ditempati atas bantuan orang tuanya yang tinggal di desa seberang.

 

    Sejauh mata memandang, memang tak begitu banyak rumah di sekitar tempat mereka. Hanya ada satu-satu dengan jarak yang lumayan jauh. Selebihnya didominasi pohon jati dan rumputan liar.

 

    Samsul menjemput anaknya di rumah Bi Utak. Sebelum berangkat mencari kayu tadi, Hapsari menitipkan putri semata wayangnya itu. Seperti biasa.

 

    Dua bulan yang lalu, Samsul diberhentikan dari pekerjaannya di sebuah pabrik tahu. Alhasil, keduanya harus menghemat, di antaranya memanfaatkan kayu untuk memasak.

 

    Hapsari tengah membaluri minyak kayu putih ke area lehernya. Badannya serasa panas dingin sehabis pulang dari mencari kayu tadi. Punggungnya pun terasa berat.

 

    "Astaghfirullah!" serunya saat sepintas bayangan lewat di depan matanya.

 

***

 

    "Jangan ngambil kesana lagi, ah, Bang," ucap Hapsari pada Samsul yang tengah meminum kopi.

 

    Bukan tanpa sebab ia berbicara seperti itu. Beberapa malam setelah mengambil kayu di sana, Hapsari sering mimpi buruk dan aneh. Anaknya juga bilang ada seseatu di belakangnya, hingga tak mau tidur dengan Hapsari.

 

    "Di sana banyak kayu yang sudah berjatuhan, Dek. Kemarin aja ngga kita ambil semua, kan?"

 

    Hapsari mengangguk. Namun, sepertinya ia sekarang mulai percaya dengan desas-desus kalau tempat itu angker. Dulu, ia menganggap omongan itu hanya mitos mitos dan karangan belaka.

 

    Menurut Bi Utak, rumah dan penggiling padi itu adalah milik Pak Hendro, keturunan orang cina. Sengaja membuat usaha di sana karena ada rencana membuat pabrik. Namun nahas, baru beberapa bulan penggiling padi itu beroperasi, orang yang bekerja di sana selalu hilang bak di telan bumi. Sehingga, pemiliknya pun sampai sekarang tak diketahui di mana keberadaannya.

 

    "Ah, sudah, ngga usah banyak melamun. Ayo!" ajak Samsul setelah memakai caping kebanggaannya.

 

    Wanita berusia 35 tahun itu menurut. Meskipun, perasaannya lagi-lagi tak enak. Persis seperti pertama ke sana.

 

    Biasanya, ia dan suami tidak mencari sekitar sana. Isu warga penyebabnya. Namun, karena butuh, akhirnya ia memberanikan langkah dan membuang perasangka-perasangka buruk itu.

 

    "Ami tadi malem kenapa? Kok nangis ngga mau tidur sama kamu?" tanya Samsul sembari mengibaskan capingnya ke wajah.

 

    Peluh menetes dari dahinya, tetapi ia cukup puas dengan tumpukan kayu yang sudah di kumpulkan hari ini.  Senyumnya pun terbit. Menganggur tak semenyeramkan seperti yang ia pikirkan belakangan ini.

 

    "Katanya ada sesuatu di --" Perkataan Hapsari terhenti saat melihat sesuatu di sebelah penggiling padi. Di depan sana.

 

    Posisinya memang menghadap ke timur. Tepat di mana rumah kosong dan penggiling padi yang katanya angker itu. Sedangkan Samsul melihat ke barat, memunggunginya.

 

"Kenapa?" Dahi Samsul mengurut dengan alis yang hampir menyatu melihat wajah istrinya pucat pasi.

 

    "Emm ... ngga apa-apa. Ayok!" sahut Hapsari beranjak dari duduknya, kemudian disusul Samsul.

 

    Sepanjang jalan, benak Hapsari dipenuhi dengan sosok makhluk yang dilihatnya tadi. Hanya sekilas, tetapi sangat melekat. Sosok manusia, penampakan wajahnya hancur, dan berkaki kuda. Sangat aneh.

 

    Wanita itu bergidik dan mempercepat langkah, meninggalkan suaminya yang kesusahan memebawa kayu. Ia ingin cepat sampai. Tubuhnya mendadak panas dingin.

 

***

 

    Jam menunjukkan pukul 9:00 malam. Bunyi cicak di tembok rumah Hapsari yang belum dikuliti sangat mengganggu suasana. Samsul yang tak betah, akhirnya mengambil bambu panjang untuk memukul hewan melata itu.

 

    "Ibu, sudah!" teriak Ami dari dalam kamar mandi.

 

    Anak berusia lima tahun itu memang sudah biasa Hapsari latih ke kamar mandi sendiri. Meskipun ada drama terlebih dahulu.

 

    Hapsari dan Samsul tak menggubris teriakan anaknya. Keduanya sibuk menonton TV yang layarnya hampir dipenuhi bak awan bergerak.

 

    "Ibu, Bapak, takuuut!" jerit Ami lagi.

 

    Hapsari bangun dari baringannya, tetapi kembali merebah lagi. Anaknya memang sudah biasa seperti itu. Berteriak hanya untuk disamperin, padahal belum selesai hajatnya.

 

    "Ck! Kebiasaan ini, Ami," ucap Hapsari seraya membalikkan badan, membelakangi suaminya.

 

    "Pak, Bu, ... hantu ...."

 

    Brak!

 

    Angin berembus pelan, Hapsari semakin merapatkan selimut yang sudah luntur warnanya itu. Dari kamar mandi pun sudah tak terdengar lagi teriakan Ami.

 

    Sepuluh menit berlalu, Hapsari beranjak dan melangkah ke arah dapur. Tiba-tiba, kerongkongannya tercekat. Pun kulitnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Sakit.

 

    Ia melihat ke pojok ruangan. Pintu kamar mandi masih tertutup rapat. Hapsari mendekat dengan alis terangkat.

 

    "Ami, udah selesai belum?" tanyanya sembari melangkah.

 

    Ia memang juga sudah membiasakan Ami untuk menutup pintu jika ke kamar mandi. Anak berumur lima tahun itu juga belum bisa membersihkan dirinya sendiri.

 

    "Am," panggil Hapsari lagi.

 

    Tetap hening. Tak ada jawaban. Karena penasaran, ia mendorong pintu yang terbuat dari seng itu hingga terbuka lebar. Mata Hapsari membelalak, kaget. Tubuhnya luruh bersamaan dengan air mata yang mulai berjatuhan.

 

    "Ba--" Suaranya tertahan di kerongkongan. Badannya pun gemetaran.

 

    "Ba-ba-bang!" jeritnya lagi setelah berusaha mengatur napas.

 

    Di dalam kamar mandi sana, di depannya, Ami tergelak dengan darah memenuhi lantai yang berlapis semen. Kepalanya berada di dekat undakan jamban dan bak mandi.

 

    Mata anak itu tertutup rapat. Tubuhnya juga sudah tak bergerak. Bibir dan wajahnya juga pucat pasi.

 

    Samsul yang mendengar teriakan istrinya langsung menghampiri. "Ada apa, Dek?"

 

    Ia berjongkok di dekat Hapsari. Tak lama, tatapannya mengarah ke dalam kamar mandi. Di mana anaknya tergeletak tak berdaya.

 

    "Amiii!" Samsul tergesa masuk dan memangku kepala anaknya.

 

    "Amiii, bangun, Nak! Bangun!" teriaknya.

 

    Ia tak peduli dengan darah segar yang mengotori celana pendeknya.

 

    "Amiii, kamu kenapa, Nak?!"

 

    Sedangkan Hapsari, ia masih terduduk di pintu kamar mandi dengan wajah syok. Tubuhnya seakan tak bisa digerakkan hanya untuk melangkah ke dalam sana. Ini seperti mimpi.

 

    Suara Amii yang menolak untuk ditinggalkan sendiri di kamar mandi kini kembali terngiang. Anak itu berkata, bahwa ada hantu di belakangnya.  Namun, Hapsari tak percaya. Ia anggap anak itu hanya takut seperti biasanya. 

 

 

    "Di punggung Ibuk ada hantu," kata Ami waktu itu seraya bersembunyi di belakang Samsul.

 

    Sekarang, penyesalannya sudah tak berguna. Jeritan  Samsul ketika memeriksa leher dan pergelangan tangan Ami semakin membuat ia terluka. Anaknya sudah tiada.

0 Komentar