SI NENG BERGAUN MERAH

 

Oleh : Diah Pitasari

 

Warga Desa Cialas biasa memanggilnya Mang Ijum. Pria lima puluh tahun, yang berprofesi sebagai pedagang sayur keliling di desa tersebut. Biasanya, Mang Ijum berangkat menuju pasar saat dini hari.

 

Ia membawa dua keranjang terbuat dari bambu, yang dianyam berbentuk tabung lebar berdiameter 30 cm. Mang Ijum menggunakan bilah bambu untuk memikul dua keranjang itu di depan dan belakang tubuhnya. Langkahnya ringan, melintasi jalan setapak di antara rimbun pohon rambutan dan kecapi. Semak belukar tampak basah oleh embun, melembapkan sandal karetnya yang sudah tipis.

 

Mang Ijum biasa membeli sayuran ke pasar untuk kemudian dijual kembali. Saat subuh, biasanya ia sudah sampai di pasar, kemudian kembali ke desa dan mulai berkeliling menjajakan dagangannya pada pukul tujuh pagi. Kalau sampai siang dagangannya tak habis, ia menaruh sisa sayuran itu di warung Ipat, istrinya. Perempuan 45 tahun itu meneruskan berjualan, sementara sang suami beristirahat.

 

Kabut mulai menipis. Mang Ijum mempercepat langkah. Ia tak mau terlambat. Kesiangan, artinya rezeki akan dipatuk ayam. Makin pagi, maka  makin banyak pilihan sayuran yang bisa dibawa pulang. Pembeli pun akan senang, dan makin loyal berlangganan padanya.

 

Tengah asyik berjalan, telinga Mang Ijum menangkap suara ayam betina yang tengah berkotek di dekatnya. Pria jangkung itu mencari-cari arah sumber suara, yang ternyata berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.

 

Penasaran, ia menghampiri ayam betina berbulu hitam yang tengah duduk di tengah jalan setapak itu. Ayam tersebut tak sendirian. Ia rupanya sedang melindungi anak-anaknya di balik bulu sayap yang tampak menggelembung.

 

Mang Ijum menoleh ke arah kiri dan kanan, mencari-cari rumah pemilik ayam betina di hadapannya. Namun, tempatnya berdiri saat ini, berada di tengah kebun yang tak ada rumah penduduk.

 

‘Mungkinkah ayam ini tersasar, atau ini adalah ayam liar tanpa pemilik?’ batin Mang Ijum.

 

Setelah menimbang-nimbang, Mang Ijum memutuskan untuk membawa ayam tersebut. Kalau laku, ia akan menjualnya di pasar. Kalau tidak laku, ia akan membawanya pulang ke rumah untuk dipelihara. Benar-benar rezeki nomplok. Pagi ini, rezekinya tidak dipatuk ayam.

 

Ayam betina itu berkotek makin kencang saat Mang Ijum makin mendekat. Namun, si ayam tak bisa menghindar. Sepertinya ia kerepotan dengan anak-anak ayam yang berciak-ciak di bawah tubuhnya. Sang induk hanya bisa berkaok-kaok marah, saat Mang Ijum meraup tubuh serta anak-anaknya untuk kemudian dimasukkan ke pikulan keranjang di bagian belakang. Setelah itu, Mang Ijum menutupi ayam tersebut dengan kain sarungnya.

 

Dengan langkah riang, Mang Ijum melanjutkan perjalanannya kembali. Sebentar lagi mentari akan terbit. Ia tak mau membuang-buang waktu.

 

Ayam betina di keranjang belakang sudah tak lagi berkotek. Mungkin ia sudah nyaman dalam kehangatan kain sarung milik Mang Ijum.

 

Langkah pria berkulit sawo matang itu mendadak berhenti pada persimpangan dua jalan setapak di hadapannya. Biasanya ia mengambil jalur sebelah kiri, yang berbeda setengah jam waktu tempuh daripada jalur yang sebelah kanan. Namun, Mang Ijum tak pernah lagi melewati jalur sebelah kanan, karena di sana ia akan melewati pohon mangga tua yang terletak di pinggir jalan desa.

 

Beberapa waktu lalu, di pohon itu pernah ada gadis muda yang meninggal bunuh diri, karena malu telah hamil di luar pernikahan. Sang kekasih tak mau bertanggung jawab  hingga si gadis menjadi putus asa, dan mengambil jalan pintas.

 

Sejak itu, konon di Desa Cialas kerap berkeliaran sosok hantu perempuan yang sedang hamil besar, memakai gaun panjang berwarna merah, dengan rambut panjang tergerai. Menakut-nakuti warga yang tidak sengaja bertemu dengannya. Atas ritual yang dilakukan seorang sesepuh desa, hantu bergaun merah itu, kini tak lagi berkeliaran. Namun, pohon mangga tempat gadis itu melakukan bunuh diri, tetap menjadi tempat menyeramkan bagi warga desa.

 

Melewati tempat itu pada siang hari saja, hawanya sudah berbeda. Apalagi melintas saat malam.

 

Mang Ijum terdiam sejenak. Menimbang-nimbang hendak lewat jalan yang mana. Ia ingin secepatnya sampai ke pasar, menjual ayam temuan, serta membeli bahan dagangan.

 

Akhirnya ia memutuskan mengambil jalur sebelah kanan saja. Walau harus melewati pohon mangga berhantu, ia tak peduli. Yang penting, bisa secepatnya sampai di pasar.

 

Langkah Mang Ijum berhenti di ujung jalan. Menatap lurus pohon mangga tua di pinggir jalan beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ada rasa gentar merayapi hati. Namun, ia sudah terlanjur sampai di sini. Sudah terlambat kalau harus memutar balik, dan mencari jalan lain.

 

Dengan menguatkan hati, Mang Ijum melanjutkan langkah. Berkali-kali mengingatkan diri, bahwa semua akan baik-baik saja. Ia merasakan hawa yang berbeda, saat langkahnya makin mendekati pohon mangga. Seperti dingin yang tak lazim. Membuat bulu kuduknya merinding tak nyaman.

 

Tiba-tiba ayam betina dalam keranjang terdengar berkotek-kotek. Sahut menyahut dengan bunyi berciak anak-anaknya. Suaranya ribut sekali. Membuat Mang Ijum hilang fokus. Ia memukul keranjang di belakangnya, untuk menenangkan si ayam. Namun, bukannya berhenti, suara ayam itu malah makin nyaring dan berisik.

 

“Hush!” Mang Ijum kembali memukul keranjang berisi ayam, yang entah mengapa, pikulan itu terasa makin berat membebani bahunya.

 

Langkah Mang Ijum jadi terseok. Ia terhuyung, kala mencoba berjalan. Mencoba menyesuaikan diri dengan berat pikulan di keranjangnya. Ia ingin menoleh dan mencari tahu, mengapa keranjangnya terasa makin berat. Namun, kerepotan menyesuaikan beban pikulan, membuatnya sulit menggerakkan leher.

 

Ayam betina di belakangnya tak lagi berkotek, tapi berganti dengan suara berkaok marah, yang makin lama terdengar makin nyaring. Tak hanya itu, si ayam, kini terdengar sedang mengepak-ngepakkan sayapnya. Bersahut-sahutan dengan suara kaoknya.

 

“Hush!” Mang Ijum kembali menyuruh si ayam untuk diam. Namun, suara kepakkan sayap itu terdengar makin kuat.

 

Si ayam betina tiba-tiba melompat dari dalam keranjang, sambil terbang melewati kepala Mang Ijum, sambil berkaok-kaok nyaring. Tepat saat ayam itu melewati kepalanya, si ayam berbulu hitam itu, mendadak berubah menjadi sosok perempuan berambut panjang tergerai, dengan gaun merahnya yang melambai, melayang terbang menuju dahan pohon mangga tua di hadapan Mang Ijum.

 

Untuk sesaat, pria berkumis itu terpaku di tempatnya berdiri. Menatap lekat pada sosok perempuan berwajah samar, yang kini sedang duduk santai sambil mengayun-ayunkan kakinya. Sementara, tangannya tak henti mengelus-elus rambutnya yang panjang terurai. Sekilas, terdengar senandung lirih dari perempuan bergaun merah itu.

 

Mang Ijum mendadak tersentak. Sebuah kesadaran menariknya pada kenyataan. Ia harus secepatnya pergi dari tempat ini.

 

Maka, tanpa pikir panjang, Mang Ijum bergegas lari meninggalkan tempat itu. Kembali pulang, tak jadi berbelanja sayur.

 

Sepanjang pelarian, telinganya tak henti mendengar suara sayap ayam yang terkepak, bercampur dengan suara berkotek dan berkaok nyaring. Sesekali diselingi suara tawa perempuan yang melengking nyaring.

 

...

 

“Makanya lain kali jangan asal ambil barang orang sembarangan. ¹Tah geuning hayamna jadi kunti.” Ipat, sang istri memijat-mijat kaki Mang Ijum yang sedang meringkuk di balik selimut.

(¹Tuh, ayamnya malah jadi kunti.)

 

Ini sudah hari kedua, Mang Ijum merasakan tubuhnya meriang. Sejak dini hari itu, Mang Ijum seperti trauma. Enggan keluar rumah.

 

“Nanti sore, saya mintakan air ke Ustad Agum, ²ambeh maneh rada cenghar.” Ipat kini memijat-mijat lengan sang suami.

(²Biar kamu rada sehat.)

 

Mang Ijum tak menjawab. Ia memejamkan mata, kala suara kepak sayap ayam yang bercampur dengan suara ayam berkotek dan berkaok nyaring. Sesekali diselingi suara tawa perempuan yang melengking nyaring kembali terngiang-ngiang di telinganya.

 

Bekasi, 14 Januari 2021

 

 

 

 

 

 

0 Komentar