Suara
tangisan bayi terdengar begitu keras malam itu, sang ibu segera menghampiri
anaknya dan mengganti popok. Begitu selesai mengenakan popok yang baru untuk
anaknya, sang ibu pun menyusui sang buah hati. Dengan menggumamkan sebuah
nyanyian yang bernada pelan, serta mengayun-ayun secara perlahan, wanita itu
mencoba menidurkan kembali bayi mungilnya. Suasana malam yang sudah larut,
tidak ada yang terjaga selain sang ibu dan anak bungsunya, membuat gumaman itu
terdengar di seluruh sudut rumah. Begitu lembut dan menenangkan, hingga
akhirnya bayinya pun terlelap dan ia segera membaringkannya di kasur.
“Panas
sekali malam ini,” kata ibu sambil mengipasi dirinya dengan sebuah buku,
kemudian berbaring dan melanjutkan tidurnya yang tertunda.
•••
Keesokan
harinya. Anak-anak segera bangun dari tidur masing-masing dan berlari keluar
kamar. Ada yang langsung ke kamar mandi, ada juga yang hanya duduk di kursi,
dan ada yang masuk ke kamar adik terakhir mereka yang masih bayi itu. Sementara
itu, ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur bersama anak tertua. Dalam waktu 30
menit, makanan yang begitu menggugah selera telah terpajang di meja makan.
Anak-anak pun tidak sabar menikmatinya, mereka duduk di kursi dengan baik
kemudian menyantap sarapan yang begitu lezat itu.
“Aldi,
setelah ini antar adik kamu dulu, ya? Setelah itu langsung berangkat ke
sekolah,” kata ibu sambil menyuapi anaknya yang berisi 5 tahun.
“Iya,
Bu,” jawab Aldi.
“Mizan,
buruan mandi. Nanti aku pakai kamar mandinya duluan, lho,” celetuk si anak sulung, Ani, sambil cekikikan.
“Jangan!
Mizan dulu!” Seru Mizan, ia segera menghabiskan sarapannya kemudian berlari ke
kamar mandi.
“Hati-hati,
jangan lari-lari,” Ani menghela napas, ia mengikuti Mizan ke kamar mandi untuk
memastikan kalau anak itu baik-baik saja, “Yaa, aku akan menyiapkan peralatan
sekolah dulu,” gumamnya.
Pukul
6.30, kelima anak itu sudah siap berangkat sekolah. Ani adalah siswa sekolah
menengah kejuruan, setiap sekolah ia berangkat dengan mengendarai sepeda motor.
Aldi, dia adalah seorang siswa sekolah menengah pertama yang setiap sekolah
menaiki sepeda. Setiap pagi, Aldi harus mengantar Mizan ke sekolah dasar dulu
baru ia bisa berangkat ke sekolahnya. Sementara itu, Rafi—anak berumur 5
tahun—akan berangkat ke sekolah diantar ibunya bersama sang adik bayi. Ia masih
berada di taman kanak-kanak, dan terkadang ibu bertahan di sana bersama ibu-ibu
yang lain untuk sekadar mengobrol sekaligus menunggu kepulangan sang anak.
“Belajar
yang bener, ya. Jangan nakal!” Pesan Aldi setelah menurunkan Mizan di depan
gerbang sekolah.
“Iya,
iya. Aku mengerti,” jawab Mizan agak bosan.
“Hehe,
baguslah. Aku berangkat, ya? Nanti kamu dijemput Ayah,” Aldi segera bersiap
untuk mengayuh sepedanya.
“Sebentar,
Kak Aldi. Kak, tadi saat aku ke kamar mandi, apa Kak Ani mengikutiku?” tanya
Mizan sambil menggenggam tas kakaknya.
“Iya,
memang kenapa?” Aldi mengangguk lalu bertanya.
“Sendirian?
Kak Aldi tidak ikut mengikuti?”
“Tidak,
aku masih sarapan,” Aldi menggelengkan kepala, “Bocah kecil jangan berimajinasi
terlalu tinggi. Kamu mau punya dua kakak perempuan? Sayang sekali, kamu sudah
terlanjur lahir,” Aldi cekikikan.
“Bukan
begitu!” Mizan sedikit kesal, “Ya sudah, hati-hati, Kak. Assalamu'alaikum,” Mizan berbalik dan segera masuk ke area
sekolahnya.
“Wa'alaikumusalam,” jawab Aldi, ia
mengamati kepergian adiknya sambil memikirkan sesuatu, “Ini sudah sering
terjadi sebelumnya,” begitu ucapnya dengan lirih, kemudian melanjutkan
perjalanan.
•••
Sore
hari tiba, seluruh anggota keluarga itu telah lengkap berada di rumah. Mizan
dan Rafi bermain di halaman rumah, sambil menemani Ani yang menyapu halaman.
Aldi tampak duduk di teras sambil membaca buku, sedangkan ibu dan ayah ada di
dalam rumah bersama anak bungsu mereka. Jam masih menunjukkan pukul setengah 5
sore, masih banyak anak-anak lain yang bermain di beberapa tempat. Pun ada yang
menghampiri rumah keluarga itu dan segera bergabung bermain dengan Mizan dan
Rafi. Memandang adik-adiknya bermain dengan seru membuat Ani tersenyum dan ikut
merasa senang.
Sementara
itu, Aldi yang sedari tadi sibuk membaca buku kini menatap Ani dengan ekspresi
yang sulit diartikan. Ani tentu tidak menyadarinya, ia fokus menyapu dedaunan
yang berserakan di tanah hingga akhirnya ia mendekati sebuah pohon melinjo yang
besar. Melihat itu, Aldi segera beranjak mendekati kakaknya. Keduanya saling
mengobrol beberapa hal, sampai Aldi pun mengungkit sesuatu yang membuat Ani
sulit mempercayainya.
“Di
pohon ini?” Ani menunjuk pohon melinjo itu dengan sapu lidi sambil mengerutkan
dahinya.
“Iya,
aku yakin semuanya karena pohon ini!” Seru Aldi.
“Tidak
mungkin, itu hanya opinimu saja,” Ani menghela napas, “Lebih baik kamu suruh
adik-adikmu untuk berhenti bermain dan segera mandi. Kamu juga jangan lupa
mandi,” pinta Ani.
Aldi
membuang napas kasar, ia cukup kesal karena Ani tidak percaya tentang apa yang
ia ceritakan tadi. Apa boleh buat? Hal seperti itu memang sulit dipercayai
secara langsung kalau belum pernah mengalaminya. Begitu pikir Aldi, dan segera
ia melakukan apa yang Ani suruh kepadanya.
•••
Malam
itu, anak bungsu di keluarga tersebut kembali menangis. Namun, saat itu belum
ada anggota keluarga yang terlelap. Semuanya masih bangun. Sang ibu segera
mengurus anaknya, sambil terus mengajak berbicara agar sang anak bisa segera
diam. Ketika ibu hendak mengambil popok baru untuk dikenakan pada anaknya, ia
tidak menemukan satupun tersisa di lemari. Ia pun menyuruh anaknya—Mizan—untuk
mengambil persediaan popok di kamar yang berdekatan dengan halaman belakang.
Dengan
langkah tegap, Mizan segera melaksanakan perintah ibunya. Ia memasuki kamar
yang dimaksud, mencari-cari popok untuk adiknya di sebuah lemari, tetapi ia
tidak kunjung menemukannya. Akhirnya, ia mengecek ke tempat lain seperti bawah
selimut, tumpukan baju, hingga ke kolong tempat tidur. Dan di bawah kolong
tempat tidur itulah ia baru menemukan popok yang masih baru. Mizan pun merak
popok itu dan tidak sengaja menyenggol sesuatu hingga ia mendengar suara
rintihan.
“Eh?”
Mizan cukup bingung.
Akan
tetapi, anak itu segera menarik popok itu dari kolong tempat tidur dan
membawanya ke tempat ibu. Ia berikan popok itu kepada ibunya dan memperhatikan
sang ibu menggantikan popok untuk sang adik. Tidak lama, Mizan teringat tentang
apa yang ia dengar tadi ketika mengambil popok itu.
“Ibu,
siapa sih yang tidur di bawah kasur di kamar belakang?” tanya Mizan dengan
wajah polosnya.
“Huh?
Apa maksudmu?” tanya ibu yang kini menggendong bayinya.
“Tadi
Mizan rasa seperti ada yang tidur di bawah kasur,” jelas Mizan.
“Salah
dengar kamu, tidak ada yang tidur di sana. Dingin juga, bukan?” sahut ibu
sambil mengusap rambut Mizan.
Mizan
berpikir sejenak kemudian mengangguk mengiyakan perkataan ibunya. Tidak mungkin
ada seseorang yang mau tidur di bawah kolong tempat tidur ketika hawa begitu
dingin seperti ini, lagipula seluruh anggota keluarga yang lainnya sedang sibuk
dengan urusan masing-masing.
•••
Suatu hari ketika
malam tiba, Ani baru saja pulang dari acara yang diselenggarakan di kampungnya.
Meskipun jarak tempat acara dengan rumahnya sangat berdekatan, ia tetap pulang
agak larut dari yang lainnya karena termasuk sebagai panitia. Sekitar pukul 11
malam, gadis 17 tahun itu baru tiba di rumah.
Ketika Ani
melewati pohon melinjo di halaman rumahnya, ia melihat seseorang berpakaian
serba putih sedang bersandar di pohon itu. Selain itu, ia juga mencium bau amis
yang benar-benar mengganggu. Setelah Ani amati dalam-dalam, ia merasa seseorang
itu mirip ayahnya. Ia pun sumringah karena sejak dua hari yang lalu ayahnya
pergi bekerja ke luar kota. Namun sayang, ketika ia ajak bicara, ‘ayah’ tidak
memberi respon bahkan tidak menatapnya. Ani pun mencoba menatap wajah orang
itu, seketika ia merinding dan berlari memasuki rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Ani begitu
memasuki rumah.
“Wa’alaikumusalam, Nak. Bagaimana
acaranya? Lancar?” tanya ibu yang masih terjaga.
“Alhamdulillah lancar,” jawab Ani sambil
mencium tangan ibunya, “Bu, Ayah sudah pulang?” tanya Ani mencoba terlihat
baik-baik saja di hadapan ibunya.
“Belum, ada apa?
Rindu?” balas ibu, ia kini tengah mematikan lampu di beberapa ruangan dan sudah
siap untuk tidur.
“Kalau rindu sih
iya, tapi aku penasaran siapa yang di halaman depan? Tadi seperti Ayah,” kata
Ani sukses membuat ibunya terkejut.
Ibu pun segera
berlari ke ruang tamu dan mengintip dari jendela, mengamati halaman depan
rumahnya yang luas dan diapit oleh kebun buah nangka. Sayang sekali, sang ibu
tidak mendapati suaminya, bahkan tidak ada siapapun di sana. Ia pun kembali ke
tempat anaknya, alangkah terkejutnya ia melihat Ani telah terkapar tak sadarkan
diri di kamar.
•••
Setelah memutuskan
perkara tersebut dengan mantap, maka dua orang warga desa segera menebang pohon
melinjo itu. Begitu pohon tersebut ditebang, suasana halaman rumah keluarga itu
terlihat lebih hidup dan asri. Tiga hari kemudian, anak sulung di keluarga itu
mulai sembuh dari demam yang dideritanya selama satu minggu ini. Selain itu,
sang orang tua juga jarang mendapat laporan dari anak-anak mereka tentang
hal-hal misterius yang sulit dipahami atau dipercaya. Semuanya benar-benar
berubah menjadi lebih baik.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.