Suara tangisan itu
meremangkan bulu kudukku. Aku memperlambat laju sepeda motor. Sial mengapa aku
harus mendengar suara seperti ini di tikungan jalan nan tajam dan sepi ini?
Dengan setengah takut, kuarahkan pandangan ke sekeliling. Tak kulihat apa-apa.
Baru saja aku hendak
menarik stang gas, suara tangisan itu terdengar lagi. Kali ini lebih memilukan.
“Kula
nuwun, Mbah. Ndherek langkung(1),” ucapku gemetar.
Sesosok bayangan hitam
berkelebat. Aku terkesiap. Dengan mulut yang tak henti-henti berkomat-kamit
doa, kupercepat laju sepeda motor, meninggalkan tikungan jalan itu.
***
Pekerjaan sebagai
pramuniaga di sebuah toko waralaba 24 jam, ternyata tidak semudah bayanganku.
Impian duduk di balik meja kasir, atau setidaknya berdiri dengan kedua tangan
di pinggang, berjalan ke sana ke mari menyisir tiap lorong rak barang yang
tingginya dua meteran itu sambil mengecek barang dagangan, sungguh-sungguh
tidak sesuai kenyataan.
Belum lagi saat
perhitungan rugi laba di akhir bulan. Jika memenuhi target penjualan, apalagi
melampaui, bos akan tertawa senang, dan dengan moodnya yang sedang baik itu, ia akan memperbaiki ketebalan dompet
para karyawannya meskipun hanya beberapa lembar uang limapuluhan ribu.
Sebaliknya, bila toko
sedang sepi pembeli, berbagai damprat dan ceramah menghiasi akhir briefing.
Yang paling membuat galau
adalah saat pergantian shift. Jika
biasanya aku masuk pagi yang dimulai dari pukul 06.00-14.00, harus bergeser ke shift yang dimulai dari pukul
14.00-22.00. atau saat harus masuk shift malam,
aku harus rela masuk kerja mulai pukul 22.00-06.00. pergantian shift diberlakukan setiap tujuh hari
kerja dan ada dua kali libur saja dalam sebulan.
Suatu ketika, aku
mendapatkan giliran shift malam. Aku
sudah berlayar ke pulau kapuk ketika hari masih siang dengan maksud agar dapat
terbangun tepat pada waktunya nanti.
Dengan setengah hati aku
bangun pukul 21.00, lalu menyalakan kompor untuk memanaskan air yang akan
kupakai mandi. Tempat kosku memang agak jauh dari tempat kerja, kira-kira 20
menit perjalanan jika ditempuh dengan sepeda motor. Ada sebuah jalan pintas,
tetapi harus melewati kebun-kebun jagung milik warga sekitar dan tikungan jalan
yang angker menurut orang-orang.
“Hati-hati, Bro, kalau
lewat tikungan sehabis kebon. Siapa tahu si mbak yang mati kemarin
gentayangan,” gurau salah satu teman kos.
“Halah, ngaco aja kamu,”
balasku.
“Kan matinya penasaran.
Dengar-dengar, ada orang jail yang sengaja menyiram bekas darahnya di aspal itu
dengan cuka dan air jeruk nipis.”
“Iiih, untuk apa?”
“Biar arwahnya kesakitan.
Salah sendiri pake ngebut.”
Aku bergeming, sebisanya
kutenangkan diri, berusaha melawan takut yang mulai menghinggap.
***
Suara tangisan itu
benar-benar mengusik konsentrasiku bekerja. Sejak baru sampai di toko, hingga
waktu berlalu jam demi jam, dadaku masih saja berdebar-debar tak karuan. Dua
orang temanku sesama shift malam tampak
asyik membicarakan peristiwa kecelakaan yang terjadi kemarin di tikungan jalan
itu. Namun sedikit pun aku tidak tertarik untuk ikut membahasnya.
Kira-kira pukul 02.00,
pintu toko terlihat dibuka oleh seseorang. Bunyi deritnya membuatku terkejut,
lebih-lebih karena malam itu sepi sekali. Hanya ada satu-dua pengunjung, itu
pun seolah tergesa-gesa, sehingga menambah suasana mencekam.
Seorang perempuan
semampai, wajahnya cukup manis menurutku, berambut coklat yang dibiarkan
tergerai kusut sebatas bahunya, masuk. Ia langsung berjalan menuju rak air
mineral tanpa memedulikan ucapan selamat datang dariku.
Aku menghela napas.
“Yaaah, pembeli adalah raja.”
Tak berapa lama,
perempuan manis itu sudah berdiri di hadapanku, lalu menyodorkan sebotol air
mineral berisi dua liter dan segera kucek harganya di mesin kasir.
“Enam ribu rupiah, Mbak,”
kataku. Perempuan itu menyingkapkan sedikit ujung kaos oblongnya yang berwarna
hitam, lalu merogoh kantong celana jinsnya yang sobek-sobek di bagian lutut.
Selembar uang limaribuan berikut satu keping uang logam bernilai seribu rupiah
ia letakkan di atas meja.
“Pas ya Mbak. Mau pakai
palstik?” tanyaku. Perempuan itu menggeleng. Disahutnya dengan cepat, botol air
mineral itu, lalu bergegas meninggalkan toko.
“Kamu liat mbak-mbak
tadi?” tanya seorang temanku. Aku mengangguk.
“Aneh aja, jam segini
masih keluyuran, mana penampilannya berantakan begitu,” lanjutnya.
“Bisa jadi dia emang anak
jalanan. Liat aja rambutnya kayak belum kramas setahun,” timpal temanku satu
lagi. Tawa kami berderai, tetapi aku yakin, itu bukan sedang menertawai
kelucuan, melainkan sekadar mengurangi rasa takut.
Aku masih mempunyai enam
hari lagi untuk shift malam. Huft,
semoga aku selamat.
Suara tangis yang sama,
masih kudengar di tikungan jalan itu, membuat bulu kudukku meremang dan jantung
berdebar jauh lebih kencang. Segala salam, berikut bunyi klakson kendaraan
telah kulepaskan, berharap sang empunya tangisan berhenti menggangguku.
Tiba-tiba sebuah bayangan
hitam berkelebat melintasi jalan. Nyaris saja aku menabraknya.
“Woooi, kalau nyebrang,
tengok-tengok dulu kenapa?!” teriakku. Suara jangkrik menjawab sumpah
serapahku. Bulu kudukku kian kaku. Kuputuskan untuk melarikan kendaraan dengan
kecepatan maksimal agar aku segera meninggalkan tempat sialan itu.
Pukul 02.00, perempuan
berkaus hitam itu datang lagi, masih dengan raut datar dan barang belanjaan
yang sama. Belum juga aku menyebutkan harga, ia sudah menyerahkan uang pasnya
ke meja kasir.
“Terima kasih, Mbak. Mau
pakai kantung plastik?” tanyaku berbasa-basi.
Bukan jawaban yang aku
terima. Perempuan itu segera mengambil air mineral yang belinya dan segera
berlalu dari hadapanku.
“Dasar, nggak punya sopan
santun,” gerutuku disambut tawa cekikikan kedua temanku.
“Nggak usah diambil hati
yang penting dia bayar.”
***
Ini hari keenam ketika
kulihat sosok perempuan kurus berkaus kaki hitam itu memasuki toko di mana aku
bekerja. Pakaiannya tetap sama, seperti malam-malam sebelumnya. Yang dibelinya
juga sama, sebotol air mineral berisi dua liter, menyebabkan aku yang semula
cuek mulai bertanya-tanya untuk apa ia selalu membeli air mineral itu setiap
pukul dua dini hari?
Diam-diam kuamati
dirinya, mencoba menemukan apa yang ganjil di sana. Namun selain wajah pucat,
kulit menghitam, dan pakaian lusuhnya itu, aku tak menemukan sesuatu yang
‘lain’.
Perempuan itu sudah
menuju kasir, kuberanikan diri menyapanya. “Mbak tinggal di mana? Mengapa
sepagi ini sudah ke mari membeli air mineral?”
Perempuan itu tersenyum.
“Penting?” tanyanya sinis.
Tampak bagiku cekung mata
pandanya seperti kurang tidur.
“Ma-maaf, Mbak,” jawabku
terbata. Dalam hati aku mengutuki diri karena lancang menanyakan hal yang tidak
penting. Bukankah tugasku di sini hanya melayani pembeli?
Perempuan itu segera
meninggalkan toko setelah membayar dengan uang pas, sama dengan malam-malam
sebelumnya.
Hari ketujuh dia datang
lagi, kaus hitamnya mulai menebarkan aroma tak sedap, seperti bau bangkai.
Entah sudah berapa hari perempuan itu tidak mandi, terlihat dari kuyu tubuhnya
itu. Sudah kupastikan benda apa yang akan dibelinya.
Aku mendengkus menahan
rasa jijik. Susah payah aku menahan napas demi menghindari bau busuk itu.
Sempat kulihat teman-temanku menaikkan kerah kemejanya untuk dipergunakan
sebagai penutup hidung.
Dadaku tiba-tiba sesak.
Gemuruhnya tak wajar, ketika perempuan itu mulai mendekati kasir.
“Terima kasih, Mas, untuk
air mineralnya. Aku membutuhkannya untuk menghilangkan sisa cuka yang sengaja
dituang orang jahil di atas aspal, di tikungan jalan itu. Rasanya perih, Mas,
karena sengaja ditumpahkan di atas genangan darahku dan membuatku tidak dapat
tenang kembali kepada-Nya,” ujar perempuan itu.
Aku tertegun, mataku tak
mampu berkedip. Hanya ingatan yang mengembara tentangnya di malam-malam
kemarin, juga suara tangisan pilu di tikungan jalan itu.
Catatan kaki :
1. Ndherek langkung : numpang lewat.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.