Penunggu Pohon Asam

 Oleh : Emma Wijaya

 

   Gendis terpaksa mengikuti titah sang suami, agar ia menumpang tidur di kediaman Bu Wiwik saat malam. Melewati masa kehamilan trimester akhir ini, terlalu mengkhawatirkan jika menghabiskan waktu seorang diri di kontrakan. Efek LDR terkadang membuat seseorang berada dalam situasi sulit. 

 

  Seperti biasa, Gendis menyempatkan berbincang sebentar, sebelum atasan tetapi lebih suka dianggap kerabat itu meninggalkan Gendis bersama putranya. 

 

  “Ya, udah. Mizannya lagi bobo, saya 'tak berangkat ngajar dulu, ya!” seru Bu Wiwik. Guru sekolah dasar, yang tahun ajaran ini mengambil jadwal mengajar siang. 

 

    Selama mengasuh Mizan, Gendis tidak dibebani pekerjaan apa pun. Cukup membersamai anak lelaki itu tidur dan bermain. Siang ini Mizan cukup tidur nyenyak. Rasa kantuk pun menyergap wanita yang tengah mengandung tujuh bulan itu. 

 

  Gendis menggeliat, sesekali bibirnya pun menyunggingkan senyum. 

 

  “Terus, dong! Nyaman belaianmu.”

 

  “Iya, Gendis. Nikmati saja usapan tanganku ini.”

 

  “Kamu baik sekali."

 

  “Tidurlah, Gendis. Aku akan menjagamu di sini.”

 

  “Eh, tunggu, deh! Kamu siapa?” Bulu kuduk Gendis terasa meremang. 

 

  “Aku ... aku mbakmu yang di Jawa. Mbak Sri.” Gendis mengumpulkan ingatan di kepala, dan mencoba menyadari aktivitas yang mulai membuat jantungnya berdetak kencang. 

 

  “Mbak Sri! Mbakku, kan, di Jawa. Kamu bohong! Kamu bukan mbakku.”

 

  “Aku Mbakmu, Gendis!”

 

  “Bukan!” Sekuat tenaga Gendis mencoba membuka kelopak matanya. 

 

  Wanita hamil itu berhasil keluar dari situasi yang mencekam. Dia meraba rambutnya yang masih menyisakan rasa hangat di permukaan kulit. Rasa yang nyata, seperti ada seseorang yang selesai membelai rambutnya. Gendis bergegas mengambil air mineral dan meminum cairan bening itu hingga tandas. 

 

  ‘Siapa barusan yang membelaiku. Ya Allah ... nyata sekali.” Gendis mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.

 

*

  Gendis mencoba mengabaikan pengalaman tidur siangnya ketika bersama Mizan.

 

  Seperti ucapan Bu Wiwik tadi, tamu itu akhirnya tiba. Nenek dari Mizan akan menginap juga di kediaman bernuansa ungu itu. 

 

   Gendis yang sudah mengabdi dalam keluarga Bu Wiwik, memang cukup akrab dengan wanita berusia tujuh puluh tahun, yang akrab dipanggil 'Mbah'. 

 

*

 

   Saat malam tiba, dilema kecil mulai terjadi. Gendis yang memiliki kebiasaan tidur dengan lampu terang sangat berbanding terbalik dengan Mbah. Sebagai kesepakatan, akhirnya diputuskan pintu kamar akan dibiarkan setengah terbuka, agar Gendis masih bisa mendapat pencahayaan dari lampu di ruang tengah.

 

  Suasana rumah kian sepi, hanya ada suara-suara jangkrik dan hewan malam lain. Keluarga Bu Wiwik sendiri tampaknya juga sudah lelap di kamar sebelah.

 

   Gendis mencoba berdamai dengan keadaan. Pencahayaan minim dan  pintu kamar yang setengah terbuka ini, sukses membuat wanita hamil itu susah memejamkan mata. Melihat Mbahnya Mizan napasnya naik turun teratur di ranjang sebelah menandakan ia telah dibuai dalam alam tidur. Gendis merapal doa-doa yang dihafalnya, demi mengusir rasa yang tiba-tiba mengusik keberaniannya. Perlahan mata itu tertutup, dan membawa Gendis dalam alam bawah sadar.

 

   Baru setengah terjaga sepuluh menit, Gendis terbangun karena dikejutkan dengan sapaan Mbah Mizan yang tampak bersandar di salah satu dinding ruang tamu. Gendis bisa melihat jelas, karena searah dengan pintu yang terbuka.

 

  "Mbah, ngapain malam-malam di situ? Bukannya tadi sudah tidur?"

 

  "Udah cukup tidurnya, kok, kamu aja yang tidur. Biar aku yang jaga kamu malam ini."

 

  "Ini masih malam dan gelap, Mbah. Ayo, kita tidur sama-sama."

 

  "Tapi Mbah nggak bisa tidur ini, rasanya lapar--pingin makan."

 

  "Tumben, Mbah. Wong tadi sore udah makan, lagi pula biasanya Mbah tukang malas makan."

 

  "Ayo, kamu bangun! Temani Mbah makan."

 

  "Emang Mbah mau makan apa sih, Mbah?"

 

  "Makan daging, pasti rasanya lezat." Mbah menjulurkan lidah ke kiri dan ke samping. Ekspresi ketika orang membayangkan sebuah makanan lezat.

 

   "Mbah makin aneh ini. Mbah, kan, nggak suka daging. Makanan kesukaannya hanya singkong rebus dan botok tempe."

 

  "Tapi malam ini Mbah mau makan daging. Mbah nggak sabar membayangkan kelezatannya." Wajah Mbah menyeringai.

 

  "Mbah kenapa wajahnya serem, Gendis jadi takut."

 

  "Jangan takut, aku ini Mbahnya Mizan, teman tidurmu malam ini."

 

  "Tunggu, deh, Mbah. Kenapa dadaku sakit. Kenapa badanku sulit digerakkan." Wajah Mbah Mizan semakin menyeringai.

 

  "Usaha bangun makanya. Aku ini mau makan daging, yang ada di perut kamu."

 

  "Mbah, kok, ngomongnya ngaco! Ini badan saya kaku nggak bisa digerakkan?"

 

 Mbah masih tersenyum wajahnya yang tersenyum sinis, terpantul dalam cahaya lampu berukuran lima watt. 

 

  Pikiran Gendis berkecamuk. Dia sering mengalami drama ketindihan, tetapi rasanya tidak pernah senyata ini. Jantung Gendis semakin berdetak 'tak beraturan. Intensiras napas cepat, bagai sedang lari marathon. 

 

  "Kamu siapa? Ngomongmu makin ngaco? Mbah ada di samping ranjangku, kamu pasti bukan beliau."

 

  "Aku ini Mbahnya Mizan."

 

  "Bohong! Kamu bukan Mbah yang asli! Kamu han-hantu, kan?" Sosok yang sedari tadi menjadi lawan bicara Gendis hanya terkekeh. 

 

  "Lezatnya daging itu. Apalagi masih segar."

 

  "Astaghfirullah, Allohu Akbar ... kamu bukan Mbah! Kalau Mbah tidur, berarti kamu ...." Gendis berjuang sekuat tenaga. Memaksa tubuhnya yang kaku bagai batu untuk bergerak. Saat ia berusaha untuk menoleh pada posisi Mbah, lehernya pun susah digerakkan.

 

  "Wajahmu menggemaskan kalau panik."

 

  "Pergi kamu! Kenapa kamu ganggu aku terus! Kalau Mbah ada di sampingku, berarti kamu memang makhluk jahat yang sengaja menggangguku."

 

  "Ayolah! Aku sudah nggak sabar mencicipi daging itu. Sedikit ... saja." Bulu kuduk Gendis meremang. 

 

  Dengan penuh kekuatan dan merapal ayat kursi, Gendis berusaha melepaskan diri dari keadaan yang membelenggu tubuhnya.

 

  Terjadi tarik ulur yang sengit, saat sosok Mbah Mizan berusaha mendekati posisi Gendis. Sudah sangat dekat, hanya tersisa beberapa langkah. 

 

  "Allohu Akbar ...." 

 

  Gendis berhasil keluar dari situasi yang mencekam. Tangannya langsung menggapai saklar lampu, membuat kamar yang gulita itu menjadi terang benderang. Sejurus kemudian dia memutar leher, dan mendapati Mbah tertidur dengan napas teratur, bahkan disertai suara dengkuran halus. 

 

  Saat Gendis melihat pada posisi Mbah berdiri sejak tadi, sosok yang menyerupai Mbah itu sudah tidak ada di tempat semula. 

 

   Gendis membanting daun pintu dan menenggelamkan diri dalam bad cover. 

 

   'Makhluk apa tadi? Rasanya sangat nyata!' Gendis membatin seraya menghapus keringat sebesar biji jagung, yang membasahi area pelipis dan hampir sekujur tubuhnya. 

 

**

 

  Usai drama yang menegangkan itu, Gendis susah memejamkan mata meski sedetik saja. Matanya terus terpanah pada Mbah Mizan yang beberapa saat lalu, berbincang dengan dirinya sangat nyata. Dengkuran dan tidurnya yang teramat lelap, membuat Gendis yakin jika wanita itu tidak mungkin terbangun sejak tadi.

 

 

**

 Keesokan hari Gendis menceritakan pengalaman mistisnya. Mata panda Gendis juga bukti yang nyata, jika wanita berparas ayu itu kurang tidur. 

  Pengalaman Gendis hanya ditanggapi dengan ketidak percayaan seluruh keluarga Bu Wiwik. Mereka hanya meyakinkan jika itu hanyalah khayalan dan bunga tidur semata. 

 

  Saat Gendis merenungi tentang dua kejadian yang masih segar di ingatan. Adrenalinnya pun masih sulit dikendalikan, jika mengingat waktu mencekam semalam 

 

 "Tante Gendis kenapa? Kok kelihatannya murung?" Feby, sepupu Mizan menyapa Gendis yang tengah melamun. 

 

  Gendis pun membagi pengalamannya pada Feby. Berharap gadis yang menyandang sebutan difabel itu mempercayai kejadian yang dialaminya. 

 

  "Sumpah, Feb. Tante Gendis nggak bohong. Sosok itu nyata ... sekali! Se-sebenarnya dari kemarin siang tante udah kayak digangguin."

 

  "Feby percaya kok, Tan."

 

 "Serius kamu percaya, Feb!

 

  Sejenak, Gendis teringat cerita Bu Wiwik, jika Feby memiliki kemampuan melihat makhluk yang tak kasat mata. 

 

  "Siapa dia itu, Feb. Kenapa dia menggangguku?" 

 

  "Dia hantu penunggu pohon itu ...." Mata Feby terpanah pada pohon asam yang tampak rindang. 

 

  "Kenapa aku yang diganggu?" 

 

  "Karena Tante Gendis sedang hamil, dan pancaran aura orang hamil itu menggoda mereka. Makanya Feby kaget, pas tante berniat nginap di rumah Tante Wiwik."

 

  "Ya Allah, Feb. Coba kamu bilang."

 

  "Feby aja baru tahu hari ini, kalau tante ada di sini."

 

  "Aku takut, Feb. Apa yang harus kulakukan?"

 

  "Kalau saranku, sih, Tante Gendis nggak usah bobo di rumah Mizan lagi."

 

  "Emang kalau aku di tempat lain, makhluk itu nggak ngikuti aku?"

 

  "Insya Allah enggak. Dia sejenis makhluk yang menetap."

 

  Saat keduanya larut dalam percakapan bernuansa horor, Mizan tiba-tiba nimbrung. Anak lelaki berusia empat tahun itu mengajak untuk swafoto. Feby yang duduk di kursi roda diminta memotret Mizan dan Gendis yang sudah begitu akrab. Namun, tiba-tiba wajahnya pucat pasi.

 

  "Ada apa, Feb? Kok kayak kaget gitu." Feby hanya tersenyum simpul dan tangannya membuat gerakan,  mengibaskan tangan. Seperti mengusir seseorang.

 

   Setelah Mizan asik kembali dengan mainan lego-lego, Feby membagi penglihatan mata batinnya.

 

  "Tadi itu si Han ... itu mau ikut dipoto juga."

 

  "Ha ... serius! Bukannya kamu udah sering lihat gituan. Tadi wajahmu kok langsung pucet."

 

  "Dia serem banget wajahnya. Makanya dia sering makai wajah orang lain untuk mengelabui." Gendis manggut-manggut sembari bergidik ngeri.

 

  Pengalaman mistis yang tidak akan pernah terlupa seumur hidupnya.

 

Tamat.

 

Samarinda, 14 Januari 2021

 

0 Komentar