Misteri Atap Terbang

Oleh : Nuriati

 

Malam telah larut. Jiran meraih selimutnya dan membalut tubuhnya dengan rapat. Perlahan ditengoknya jam dinding yang menunjukkan pukul 11.15 malam. Bayangan pohon mangga menari-nari di dinding kamarnya. Criit…criit…sesekali bunyi derit terdengar samar dari sebuah bangunan gedung baru yang terletak di sebelah jalan depan rumahnya. Masih jelas di mata Jiran bayangan yang baru saja dilihatnya di gedung baru itu. Ia bisa mengintip bangunan baru itu dari jendela ruang tamu rumahnya.

            Siapa malam-malam begini di bangunan gedung baru itu? Gumam Jiran dalam hati sambil menggigil ketakutan. Ia berniat membangunkan ayah dan ibunya beserta bibi Mila yang saat itu sedang berkunjung ke rumahnya, liburan awal tahun masehi. Ia tahu mereka sudah tidur lelap. Jiran mengurungkan dahulu niatnya itu sembari menengok lagi bangunan gedung baru di depan rumahnya. Sontak, ia terperangah dan terkejut ketika melihat kap (kerangka atap) bangunan itu, yang belum selesai diatapi melayang-layang di udara. Jiran makin ketakutan dan gelisah. Ia lalu memberanikan diri membangunkan Pak Danar, ayahnya dan Bu Raisa, ibunya.

“Tok…tok…tok”, Jiran mengetuk pintu kamar ayah ibunya.

“Ayah, ayah, bangun ayah”, panggil Jiran

“Siapa”, sahut Pak Danar, ayah Jiran

“Aku, ayah, Jiran”, terang Jiran

“Kenapa nak, malam-malam begini belum tidur? Ada apa?”, tanya ayah Jiran

“Itu, itu… tu… ayah. Mari, ke sini ayah. Lihat  sana ayah”, jawab Jiran sambil mengajak ayahnya ke kamar tamu. Bu Raisa dan bi Mila rupanya mendengar percakapan Jiran dan ayahnya. Sehingga mereka juga keluar kamar masing-masing lalu ke ruang tamu juga menghampiri Jiran dan ayahnya. Melalui jendela Jiran mengisyaratkan dan mengarahkan kepada mereka untuk melihat bagian atap bangunan yang melayang. Bangunan itu adalah sebuah gedung perkantoran yang baru didirikan. Semua terperanjat. Mereka saling bertatap-tatapan. Silih berganti memandangi satu dengan yang lainnya. Belum beberapa jenak, tiba-tiba terdengar, braaakk…braaakk…braaakk. Bunyi menggelegar. Jiran dan yang lainnya cepat-cepat menoleh ke arah suara itu. Rupanya suara itu berasal dari bangunan gedung baru yang tadi mereka pandangi karena ada sesuatu hal yang aneh. Mereka juga sontak kaget, karena bagian atap bangunan itu, yang tadinya tampak melayang-layang, kini sudah hilang, seolah sirna bersama hembusan nyiur malam yang mencekam.

Mereka semakin ketakutan dan penasaran. Apa yang terjadi? Jiran melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Menunjukkan pukul 12.15. Dalam hati Jiran bermonolog, “Pantas saja aku mengantuk sekali, mata terasa perih, kepala pusing, rupanya malam sudah semakin larut.” Kemudian Jiran kembali mengajak ayah, ibu, dan bibi Mila untuk tidur karena malam semakin larut. Sebentar lagi harus bangun untuk menunaikan kiyamul lail. Cepat saja mereka semua langsung masuk kamar tidur masing-masing dengan membawa rasa takut dan penasaran. Jiran langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan meraih kembali selimut yang tadinya di lepas. Jiran kini menikmati buaian bunga tidur yang indah, menyusuri kolong langit peraduan malam.

“Ayah…ayah…, bangunan itu roboh”

“Tolong…tolong…, jangan…jangan rusakkan bangunan itu”, teriak Jiran dalam mimpinya.

Teriakan Jiran didengar oleh ayahnya.

“Tok…tok…tok, Jiran, ada apa? Kenapa teriak-teriak?”,tanya ayah pada Jiran sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Jiran.

Jiran kaget dan terbangun.

“Haaah? Aku mimpi”, kata Jiran

Beberapa jenak Jiran menenangkan diri sambil bermonolog, “Peristiwa semalam terbawa mimpi”.

Lalu Jiran beranjak dari tempat tidur menuju pintu lalu membukanya. Di situ masih berdiri Pak Danar, ayah Jiran menunggu jawaban Jiran.

“Aku mimpi ayah. Dalam mimpi aku melihat bangunan gedung baru depan rumah kita ini roboh. Aku melihat ada sosok yang merusaknya, lalu aku berteriak melarang. Rupanya peristiwa semalam kulihat pula dalam mimpiku.” terang Jiran pada ayahnya.Jiran lalu melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 03.00. Jiran dan ayahnya bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu untuk menunaikan shalat sunnah tahajjut, yaitu shalat yang diwajibkan bagi Rasulullah saw. oleh Allah Azza Wajalla itu. Bu Raisa dan bi Mila juga tidak ketinggalan melaksanakan shalat ini.

 

            Waktu begitu cepat bergulir. Lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an sebagai penanda azan shubuh sudah dekat,  mulai terdengar. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Karena kutahu manfaat dan keutamaan mandi sebelum shalat shubuh. Kemudian mengambil wudhu.

“Allahu akbar…Allahu akbar” terdengar indah alunan suara sang muadzin yang sangat merdu. Aku langsung bangkit untuk menunaikan shalat shubuh. Karena aku pahami shalat di awal waktu memiliki faedah menumbuhkan kedisiplinan. Yang mengantarkan pada ketaatan terhadap suatu aturan. Sedangkan ayah menunaikan shalat subuh di masjid dekat rumah.

Setelah selesai shalat subuh, Aku, ayah, ibu, dan bi Mila langsung ke bangunan depan rumah yang menampakkan keanomalian semalam. Diiringi nyanyian burung-burung yang menyambut mentari pagi dengan alunan suara merdu. Juga mentari pagi menyapa bumi dengan senyuman yang menawan. Memberi harapan hidup pada penghuninya. Kedua ciptaan Allah ini seolah tak tahu dan tak peduli pada gundah gulana yang dirasakan Jiran dan keluarganya akibat fenomena semalam.

            Penduduk desa yang lain juga berbondong-bondong ke bangunan gedung perkantoran baru itu. Setelah semalam mereka juga mendengar suara menggelegar itu. Semua sontak terkejut melihat atap gedung beserta kerangkanya berserakan di tanah. Masing-masing orang berpendapat dengan pemahamannya sendiri. Hingga mengemuka pendapat, robohnya atap gedung baru ini beserta kerangkanya karena makhluk yang menghuni lahan tempat berdirinya gedung marah. Lalu diinisiasilah untuk mengatasinya dengan melaksanakan ritual membaca jampi-jampi dan memberikan sesajian pada makhluk itu. Ditambah lagi dengan adanya anggota keluarga yang terlibat dalam pembangunan kantor baru itu menderita sakit seperti kemasukkan jin. Dia berteriak keras, mengamuk, memberontak jika dipegang. Kondisi ini terjadi terus-menerus dalam waktu yang cukup lama. Maka semakin yakinlah untuk menyelenggarakan ritual itu.

            Ritual pembacaan jampi-jampi atau mantra dan pemberian sesajian kepada jin penghuni lahan tempat didirikannya gedung kantor baru itu dilaksanakan dengan menghadirkan seluruh karyawan kantor dan penduduk desa setempat. Dalam ritual itu disuguhkan berbagai kelengkapan. Ada telur ayam kampong, rokok tembakau, ayam yang disembeli pada tempat tertentu, minuman beralkohol, dan lain-lain. Pelaksanaan ritual tersebut dipimpin oleh seorang yang berkompeten dengan hal itu. Dengan harapan kejadian ini tidak terulang lagi.

            Pembangunan gedung kantor itu telah rampung dan digunakan untuk pelayanan masyarakat. Aktivitas normal kembali seperti sedia kala. Waktu terus bergulir. Karyawan ada yang keluar, juga ada yang masuk. Begitu juga dengan pimpinannya. Ada pergantian.

            Suatu ketika seorang karyawan kantor sakit. Teriak, mengamuk, memberontak. Diobatlah ia oleh seseorang. Dia mengatakan karyawan ini sakit karena kemasukan jin. Beberapa hari kemudian ada lagi karyawan yang sakit. Dan bukan menimpa satu orang saja. Ia menyarankan agar melakukan ritual lagi, seperti saat atap gedung roboh. Sampai kapan ini akan berkelanjutan?

Yakinlah!

Hanya kepada Allah Jalla Jalaluhu tempat menyembah dan hanya kepada Allah Jalla Jalaluhu pula tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Bukan yang lain.

Tamat.


0 Komentar