Oleh. Gaby Yani Aulia
Memancing adalah salah satu hobi yang
mengasyikkan bagi sebagian orang. Walau hasilnya tidak memadai dari waktu yang
telah mereka buang. Tetap saja mereka datang dan datang lagi, seolah sudah
menjadi candu dalam otak para pemancing mania.
Sebut saja Santo, Rudi dan Yatno mereka
bertiga bak lem yang susah dilepas satu sama lain. Ketiganya mempunyai hobi
yang sama yaitu memancing. Dalam hal memancing, mereka akan selalu bersama.
Memancing di Waduk, Sungai, kolam atau pun parit mereka lakoni tanpa kenal lelah baik siang atau malam.
Namun, lelah mereka terbayar jika memperoleh
hasil yang banyak. Ikan yang mereka dapat bisa untuk lauk. Kalau lebih, bisa
dijual.
Hobi yang sudah mendarah daging terkadang juga
tak ingat waktu melakukan. Mereka sering memancing ikan di sungai pada malam
hari. Karena pada waktu itu biasanya ikan-ikan besar sedang menampakkan diri.
Tak jarang, peristiwa mistis pasti sering
mereka alami, tapi tak pernah kapok ketika memancing di sungai pada malam hari,
gangguan silih berganti. Pernah jam tiga dini hari memancing di tempat yang
jarang dijamah orang. Sepertinya ada banyak anak kecil yang mengikuti di
belakang mereka ketika akan pulang memancing. Setelah ditengok, ternyata tak
ada siapapun.
"Dengar nggak, tadi seperti ada suara
anak kecil ketawa-ketiwi di belakang kita?" tanya Santo.
"Iya, denger. Tapi sekarang nggak ada,
kan," sahut Yatno.
"Ah, biarin aja. Paling mereka cuma mau
main-main dengan kita," sela Santo.
"Main-main gimana, mereka pasti bukan
manusia melainkan setan, hii ...." Rudi tampak bergidik. Dia memang yang
agak lebih penakut dari pada yang lain.
"Alahh ... bilang aja elo takut, nggak
asyik kalau gak ada tantangan, nih," ujar Yatno dengan nada pongahnya. Dia
memang terkenal paling berani di antara yang lain.
"Elo pengin liat yang serem-serem. Oke
besok malam kita memancing di hulu sungai sana. Selain banyak ikan, tempatnya
adem dan agak serem-serem gitu," tantang Santo.
"Ih, jangan suka nantangin yang begituan,
ah. Nanti bisa kejadian beneran lho," sahut Rudi mengingatkan.
"Bilang aja kalau elo takut. Kalau takut,
mending nggak usah ikut. Tidur sono, minta kelonin bini. Ngumpet di ketiak bini
elo aja, anget. Haha ...." Tawa Yatno dan Santo terdengar mengejek di telinga
Rudi. Iapun merasa tertantang.
"Nggaklah, nggak takut. Oke besok aku
ikut, siapa takut," ucap Rudi akhirnya.
"Nah, gitu dong, bro. Itu yang namanya
setia kawan," sahut Santo sambil menepuk bahu Rudi.
Benar saja, pada malam harinya, mereka
berangkat berempat, ada Jono yang mau ikut bergabung.
"Kebetulan jadi rame tak sepi-sepi
amat," batin Rudi. Walau rasa gentar masih merajai.
Mereka berjalan menyusuri tepian sungai
melalui jalan setapak. Dengan penerangan beberapa lampu senter dan lampu cas
yang telah disiapkan, mereka dapat melihat jalan setapak walau tertutup
rerumputan yang mulai meninggi, untuk memudahkan perjalanan, rumput yang telah
meninggi itu, mengharuskan mereka
membabatnya. Santo sudah siap membawa parang untuk hal itu. Langkah mereka
harus hati-hati jika tak ingin menginjak ular atau binatang berbahaya lainnya.
Sampailah mereka pada tempat yang dituju.
Beberapa peralatan memancing segera mereka siapkan. Tak lupa umpan spesial yang
mereka bikin sendiri siap dikeluarkan. Satu persatu menempati posisi
masing-masing.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah
menjulurkan alat pancing ke dalam sungai lengkap dengan umpannya. Lama mereka
menunggu, belum ada satu ekorpun yang memakan umpan mereka.
Namun, sebagai pemancing. Mereka pantang
menyerah.
Menjelang tengah malam, baru beberapa ikan
telah mereka dapatkan, walau hanya dua ekor kecil yang diperoleh Santo dan
Rudi. Di saat mereka nyaris putus asa, tiba-tiba kail Yatno bergerak-gerak
begitupun dengan kail Jono. Mereka mengurungkan niat untuk pindah tempat.
Benar saja, ikan besar telah terjebak di mata
kail Yatno dan Jono. Mereka berteriak kegirangan tanpa menyadari, sedari tadi
tubuh Rudi sudah menggigil ketakutan. Rupanya mata Rudi telah menangkap sesuatu
yang menyeramkan hingga tubuhnya gemetar, bulu kuduk sudah berdiri sejak tadi.
Rudi menyikut lengan Santo berkali-kali. Tapi
Santo cuek saja. Ia ikut senang dengan Yatno dan Jono yang dapat Muhajir besar.
Mungkin beratnya hampir dua kiloan. Sedang Yatno ikan lele yang beratnya bisa
mencapai satu kilogram.
Mereka belum menyadari, kalau di sebelah
mereka, sedari tadi telah duduk sesosok wanita berambut panjang, bergaun putih.
Mukanya yang sebagian tertutup rambut dengan lingkar mata menghitam. Wajah
rusak penuh belatung. Ikut mendampingi kehebohan Yatno dan Jono karena mendapat
ikan.
Rudi yang sejak tadi telah menyadari hal itu.
Dari seekor burung yang datang, lalu hinggap di rerumputan. Tadinya, Rudi
menganggap burung itu burung biasa yang ingin bergabung dengan mereka. Malah
ada keinginan menangkap burung itu untuk dibawa pulang nantinya. Tidak dapat
ikan besar, satu ekor burung cukuplah sebagai pengganti.
Namun, setelah dilihat dengan seksama, burung
itu lama-lama berubah menjadi besar. Rudi sempat bergidik ngeri hingga menyikut
Santo berkali-kali, supaya melihat ke arah perubahan burung tersebut. Tadinya
Santo tak mengindahkan. Ia masih ikut senang melihat kegirangan Yatno dan Jono
yang telah mendapat ikan besar. Santo jadi ikut bersemangat untuk meneruskan
acara memancingnya.
Dengan senggolan lengan Rudi yang
berkali-kali, akhirnya Santo menatap ke arah tempat yang di tunjuk oleh Rudi.
Dengan penerangan lampu cas yang mereka bawa, terlihat dengan jelas oleh mata
Santo dan Rudi. Bagaimana perubahan burung yang tadinya kecil tumbuh menjadi
besar. Keanehan itu masih mereka berdua yang menikmati. Sedang Yatno dan Jono
masih belum menyadari akan hal itu. Mereka masih asyik dengan hasil
pancingannya.
Santo dan Rudi sudah bersiap membenahi barang
bawaan mereka. Setelah itu baru berbisik-bisik pada Yatno dan Jono.
"Jon, kita lari, yuk," ajak Santo.
"Kau ini, mau main lari aja. Tak suka ya,
kalau hari ini aku dapat rejeki nomplok," sungut Jono yang masih belum
menyadari bahwa di sebelahnya sudah duduk sesosok makhluk yang tadinya
berbentuk burung kecil berubah menjadi sebesar manusia. Perlahan, berubah
menjadi sesosok wanita berambut panjang dan bergaun putih. Wajah rusak penuh
ulat menggeliat. Menjijikkan.
Jono masih mengira bahwa yang sedari tadi
duduk di sebelahnya adalah Rudi. Karena ia tak begitu menghiraukan, saking
asyiknya dapat ikan, besar lagi. Senyumnya masih terkembang tiada henti.
Namun, ketika melihat ketiga temannya sedang
membereskan peralatan memancing mereka, Jono merasa heran.
"Ada apa, sih. Apa kita akan pindah
tempat mancing?" tanya Jono masih tak mengerti isyarat yang mereka
tunjukkan.
"Lihat di sebelahmu!" bisik Yatno.
"Apaan, sih. Jangan coba-coba
menakut-nakuti, ya," sahut Jono masih belum paham juga.
"Lihat! Siapa yang duduk di
sebelahmu!" ulang Yatno mulai geram.
"Siapa? Bukankah ia Rud_." Jono tak
meneruskan kata-katanya lagi. Ketika sempat menoleh ke sampingnya. Sosok itu
sangat jelas sedang menatap ke arah Jono. Mata Jono terbelalak, suaranya seolah
tercekat bongkahan batu hingga dirinya tak bisa berteriak. Makhluk itu mulai
menyeringai ke arahnya. Jono semakin ketakutan. Kail di tangannya telah lolos
begitu saja. Ia tak dapat berdiri karena tubuhnya terasa lemas tak bertulang.
Ketiganya berusaha menarik tubuh Jono agar
menjauh. Terseret beberapa langkah. Tubuh Jono yang berat tak bisa ditarik
lagi. Ternyata ia sudah pingsan. Akhirnya, ketiganya lari tunggang langgang
meninggalkan Jono, karena suara tawa makhluk itu terdengar sangat menyeramkan.
Suara kikiknya seolah terdengar membaha ke setiap sudut sungai. Membuat
siapapun, seberani apapun, memilih untuk mengambil langkah seribu.
Bagaimana dengan nasib Jono yang ditinggalkan
oleh ketiga kawannya. Ternyata, ia cepat sadar dari pingsannya dan berhasil
melarikan diri juga. Walaupun dalam keadaan celana basah kuyup bau pesing.
Peristiwa itu menjadi bahan olokan dan tertawaan mereka jika teringat kejadian
itu. Tapi dasar hobi yang sudah mendarah daging tak menyurutkan mereka untuk
berhenti dari kesenangan mereka.
"Tega, kalian. Masa gue ditinggalin
sendiri dengan Miss Kunti itu. Kalau tubuhku dicolong dan dibawa si Nona Kunti
gimana. Bisa berabe ntar. Anak bini gue bisa nyariin."
"Nggak bakalan mau Miss Kunti bawa elo. Berat
banget tubuh, elo. Lagian bau pesing. Mana mau Miss Kunti gendong, elo.
Bisa-bisa baju kebesarannya bau pesing akibat elo terkencing di celana, haha
...!" Muka Jono mencelos berubah merah padam menahan malu.
Tamat
Banjarnegara, 12 Januari 2021
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.