Oleh Emma Septikasari
“Apa, jadi mereka sudah meninggal dua puluh tahun yang silam?” aku kembali bertanya, kepada salah satu warga di pemukiman setempat.
“Iya, aku dengar dari kakekku, mereka di bunuh karena tukang santet,”
jawab pemuda tersebut.
“Apakah sudah terbukti jika dia tukang santet?” aku kembali bertanya.
“ Entahlah, saat itu aku masih kecil, hanya mendengar orang dewasa bercerita,”
kilah pemuda yang bernama Agus.
Agus pun bercerita tentang kisah arwah Hardi yang setiap menjelang malam mengganggu warga sekitar. Dia memanggil nama orang-orang yang telah menghabisinya. Dengan suara yang sangat mengerikan, kadang berteriak, mengumpat, tertawa terbahak-bahak bahkan juga menangis.
Ada pula beberapa warga sering melihat penampakan hantu Hardi di lapangan, tempat dia pukul sampai meninggal oleh masyarakat.
Atas nama kemanusiaan dan janjiku pada seorang tamu asing, untuk membantu Hardi dari sakitnya, maka aku pun terpaksa menginap di pemukiman warga. Untuk mencari titik terang dari permasalahan tersebut. Aku tidak menolak niat baik Agus untuk menginap di rumahnya.
Suara becak terdengar begitu jelas di luar rumah Agus, padahal hari sudah mulai gelap. Azan Maghrib pun sedang berkumandang. Perasaan penasaran membangkitkan naluriku untuk keluar melihatnya.
Namun, setelah di luar tidak ada siapapun. Aku mengumpat pelan, kemudian membaca istighfar. Tersentak bukan kepayang, ketika tubuh gemukku bertabrakan dengan tubuh kurus Agus saat membalikkan badan hendak masuk.
“Itu barusan suara Hardi lewat, dia mau pulang ke rumahnya,” terang Agus, tanpa aku minta.
Aku mengernyitkan dahi berusaha untuk memahami arti di balik kalimat panjang Agus. Di sana lah aku mulai tahu, jika ternyata Hardi dulu indah seorang lelaki pekerja keras, yang menafkahi keluarganya dengan cara menjadi tukang becak di Terminal.
Seusai melaksanakan shalat berjamaah di Mushollah, aku tidak langsung pulang ke rumah Agus. Suara burung hantu dari balik pohon kenari, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Ditambah lagi dengan keadaan pemukiman warga yang belum ada lampu listrik.
Langkah kakiku terhenti ketika melihat sosok pria berbaju putih polos duduk termenung di lapangan bola, tepatnya bersandar pada tiang pancang. Mataku menatap nanar, berusaha memanggil. Namun, lidah terasa kelu.
“Assalamualaikum,” ucapku. Namun, tidak mendapat jawaban.
Aku yang merasa dicuekin, akhirnya datang mendekati pria separuh baya itu. Sesampai di depannya aku pun berjongkok. Menatap wajahnya yang sama sekali tidak bergeming dari tatapan kosongnya.
‘Pak Hardi,’ ucapku dalam hati.
Aku membacakan beberapa ayat Alquran dan
mengerahkan kekuatan spiritual yang aku miliki. Sebuah hamparan ilalang luas
terpampang di depan mata.
“Hardi, mengapa kamu berada di sini?” tanyaku, dengan suara pelan.
“Aku sedang menunggu mereka, orang-orang kampung yang telah memukuli kami seperti seekor anjing!” bentak Hardi, membuat jantungku hampir lompat.
“Kami? Berarti kamu tidak sendirian?” tanyaku kembali.
“Kami berdua di pukuli oleh warga, mereka tersihir oleh hasutan para pemimpin adat yang korupsi, menuduh kami seorang dukun santet, padahal aku hanya tukang becak biasa, yang memiliki sedikit keahlian memijat orang yang kecapekan,” Hardi menerangkan.
“Apa tujuan kamu berada di sini, dan mengganggu warga sekitar?” selidikku, dengan pelan.
“Aku hanya ingin mendapatkan nama baikku
kembali, supaya para keturunanku tidak lagi di benci warga, maka aku pun bisa
hidup tenang di alam sana,” ucapan Hardi, yang membuat aku mengangguk.
Perlahan tubuh kurus pucat itu bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan diriku yang terpaku dalam keheningan malam. Setelah menyebut kalimat syahadat, aku kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah Agus.
Berbagai macam pikiran berterbangan di
pikiranku. Tidur malam yang seharusnya indah pun menjadi tidak nyenyak. Bahkan
Hardi pun hadir di dalam mimpiku, dengan mengatakan beberapa pesan, yang terus
terngiang di telingaku.
Dini hari yang begitu hening mencekam di pemukiman warga yang terletak di pelosok kampung, membuat suara azan subuh dari mushollah yang berjarak satu kilo meter, terdengar begitu jelas dan merdu, membuat orang yang malas pun, segera bangkit dari tidurnya, untuk menjalankan perintah Nya.
Penduduk sekitar hampir semua muslim, jadi
mushollah yang tidak seberapa besar pun hampir penuh oleh para jemaah.
Siang itu aku bersama Agus menuju hutan yang sepi dan terkenal
angker itu. Mencoba untuk mencari tempat dikuburnya jasad Hardi, dengan
berbekal ala kadarnya yang akan dibutuhkan di sana.
“Kiki kik Kik,” terdengar suara tawa, entah berasal dari mana.
“Hei hei hei,” suara seseorang berteriak.
“Kang, aku takut, kita pulang saja yuk?” rengekan Agus, sambil menarik pergelangan tangan kananku.
“ Laki-laki itu harus pemberani!” tegasku.
Kembali terdengar suara tawa yang bersahutan, juga teriakan yang tidak jelas sumbernya. Bunyi ranting kering yang terinjak membuat suasana semakin bertambah seram, ditambah lagi dengan suasana hutan yang gelap, akibat rindangnya pepohonan.
Agus seperti anak kecil yang takut
ditinggalkan oleh bapaknya. Dia memegang erat ujung bajuku bagian belakang,
sehingga membuat jalanku semakin susah.
“Meong meong meong,” beberapa kucing melintas di depan kami, memotong jalan yang sedang aku dan Agus lalui.
Kucing-kucing itu berjalan begitu santai. Namun, kelihatan sangat anggun. Mereka tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami. Aku dan Agus pun berhenti sesaat, supaya kehadiran kami tidak diketahui oleh mereka.
“Mengapa ada kucing di tengah hutan?, kucingnya cantik-cantik,” celetuk Agus, pelan.
Aku langsung membungkam mulut Agus, sambil menutup mulutku dengan jari telunjuk lainnya. Agus pun mengangguk, pertanda bahwa dia mengerti.
Tidak cukup di situ kejadian aneh yang kami
alami, bahkan ada banyak ular yang berkeliaran di sekitar langkah kaki kami.
Membuat Agus semakin ciut nyalinya.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan jauh yang
cukup melelahkan dan penuh hal mistis yang jauh dari logika. Perjalanan kami
juga melintasi bukit, sungai bahkan tebing yang curam. Tepat di sebuah lembah
di bawah pohon besar, terdapat dua gundukan tanah yang tidak begitu tinggi. Ada
dua pasang batu pipih yang terletak saling berhadapan. Sepintas ada bayangan
Hardi dan temannya berdiri di atas batu
pipih tersebut. Dia tersenyum sepertinya bahagia dengan kedatangan kami berdua.
Aku pun memfokuskan pikiran supaya bisa berkomunikasi dengan arwah Hardi yang penasaran.
Layaknya seperti berkomunikasi dengan teman, Hardi berjanji tidak akan menggangu warga lagi, jika para warga meminta maaf kepada ahli warisnya yang masih hidup.
Aku pun membacakan surat Yasin dan beberapa surat pendek lainnya, supaya arwahnya tenang di alam sana.
Setelah selesai aku pun kembali pulang ke
pemukiman warga, yaitu di rumah Agus.
Namun, perjalanan pulang kami tidak begitu menyeramkan seperti tadi
ketika berangkatnya.
Aku di temani oleh Agus mendatangi rumah perangkat desa setempat, untuk menceritakan peristiwa dua puluh tahun yang silam, tentang kejadian yang menimpa Hardi dan temannya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapku begitu berada di depan pintu rumah Pak lurah.
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut dari dalam rumah bercat putih itu.
Pemilik rumah yang bijaksana itupun
mempersilahkan kami memasuki kediamannya, yang rumahnya lebih megah dari pada
milik warga lainnya.
Aku menerangkan maksud dari kedatangan diriku, dan juga berusaha menjelaskan semua kejadian beberapa tahun silam, dengan bahasa yang mudah dimengerti, tepatnya lebih masuk akal.
Pak lurah pun sepertinya merasa keberatan, jika beberapa warga harus meminta maaf kepada ahli waris Hardi. Bahkan dia masih bersikukuh bahwa Hardi memang bersalah.
“Hei!”
Terdengar suara teriakan Hardi dari luar rumah, yang dibarengi dengan pecahnya jendela kaca tanpa sebab, milik Pak lurah.
“Astaghfirullah.”
Kami mengucapkan secara serempak tanpa
dikomando.
“Baiklah, malam ini juga aku akan menyuruh warga meminta maaf kepada ahli warisnya,” ucap Pak lurah datar.
“Terima kasih atas kerja samanya, Pak,”
ucapku, sambil berjabat tangan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan warga. Aku pun ikut serta bersama para warga lainnya termasuk Pak lurah, mendatangi rumah almarhum Hardi untuk meminta maaf. Kami pun membawa oleh-oleh beras, gula pasir, minyak makan dan sejumlah uang dari hasil iuran kami semua, sebagai tanda permintaan maaf.
Keluarga almarhum Hardi menyambut kedatangan kami dengan sangat baik. Tidak ada lagi kecanggungan, yang biasanya terjadi di antara mereka. Malam kian larut kami pun berpamitan, untuk pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya pun aku pulang ke desaku. Meninggalkan pemukiman warga yang sudah kembali normal, tanpa adanya gangguan dari arwah Hardi yang penasaran.
Begitulah perjalanan singkat dari hidupku yang penuh dengan misteri, setiap kali menyinggahi satu tempat ke tempat lainnya.
Flashback
Seseorang tidak dikenal datang kerumahku di malam hari. Dia meminta tolong kepadaku, supaya membantu doa kepada saudaranya yang sedang berada di rumah sakit. Tanpa merasa ragu aku pun ikut dengannya, naik kendaraan miliknya menu rumah sakit.
Sesampainya di sana tidak ada keanehan apapun, semua berjalan normal seperti di rumah sakit pada umumnya. Perasaan iba terbesit di hatiku, ketika melihat sesosok tubuh kurus dalam keadaan tak berdaya. Bahkan aku tidak bisa menolak pintanya, untuk datang lagi keesokan hari guna menemui dirinya.
Malam itu perjalanan terasa sangat singkat
dari rumah sakit ke rumahku. Membuat aku
tidak merasakan sedikit pun kecapekan.
Seperti yang aku janjikan, pagi itu aku mendatangi rumah sakit tadi malam. Namun, semua terasa berbeda, sudah melakukan perjalanan yang sangat lama, tetapi kami belum juga menemukan alamat, yang tertera di selembar kertas tersebut. Bahkan kami melewati hutan yang lebat dan sudah memakan waktu selama sepuluh jam lamanya.
Di tengah keputusasaan nampak lah sebuah
pemukiman warga dari kejauhan. Harapanku kembali muncul untuk bertemu Hardi,
seorang pasien di rumah sakit dengan badan penuh luka lebam bekas pukulan.
Aku sangat terkejut setelah mengetahui siapa
Hardi sebelumnya. Dia seorang pria malang korban dari fitnah yang berakhir
dengan kematian, pada dua puluh tahun silam.
Tekat dan jiwa sosial yang tinggi membuat
diriku merasa tertantang untuk mengungkapkan kejadian salah paham itu, dalam
kata lain membersihkan nama Hardi, serta meminta para warga yang bersalah untuk
minta maaf kepada ahli waris Hardi.
Tamat.
Pringsewu, 6 Januari 2021.
Pesan dari penulis;
Tidak semua orang benar juga tidak semua orang bersalah. Ada baiknya sebelum berbuat sesuatu sebaiknya di teliti dulu sebelumnya, apalagi yang berhubungan dengan nyawa orang lain. Tidak semua orang berkata jujur, juga tidak semua kejujuran bisa diungkapkan dengan siksaan. Betapa indahnya dunia jika semua orang saling mendengarkan pendapat dan penjelasan orang lain. Pelajaran yang kita dapat dari sepenggal kisah ini adalah “ Jangan main hakim sendiri dan ada sebab pasti ada akibat.”
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.