MALAM-MALAM KELAM YANG
TAK PERNAH JADI TERANG
Malam
selalu berhasil menyamarkan banyak hal, termasuk rahasia yang paling rahasia.
Seperti halnya hadirnya seorang lelaki tampan dalam mimpi Sasi.
Lelaki
itu datang bertelanjang dada dan wajahnya begitu rupawan. Sepertinya Sasi belum
pernah melihat wajah itu seumur hidupnya. Saat si lelaki mendekat, Sasi melihat
mata yang demikian dingin dan kelam, seperti telaga di atas pegunungan.
“Kau
sangat cantik,” puji si lelaki dan itu membuat hati Sasi tergetar. Bunga-bunga
asmara muncul begitu saja, meluas dan terus meluas. Sungguh aneh, padahal dia
belum pernah mengenal lelaki itu sebelumnya. Semerbak harum tubuh dari sosok
yang berdiri di depannya, membangkitkan sesuatu dalam diri Sasi hingga membuat
jantungnya berdegup lebih cepat. Mendadak dia seperti gadis belia yang baru
saja mengenal cinta.
Dengan
gugup, Sasi merapikan lingerie
sederhananya yang sedikit tersingkap. Peluhnya menetes, meskipun malam cukup
dingin. Tangannya gemetar dan sedikit basah oleh keringat
“Aku
menyukaimu, sangat menyukaimu. Apakah kamu mau bercinta denganku?” tanya si
lelaki.
Sesaat,
bumi seperti berhenti berputar dan jarum detik seolah tak bergerak maju. Hening!
Sasi
bergeming. Dia tersihir oleh wujud yang ada di depannya. Dia tak lagi mengingat
Rimba dan Rinai, suami dan anaknya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh lelaki asing
itu.
Lelaki
itu kian mendekat sehingga Sasi dapat merasakan hangat embusan napas di
wajahnya. Sosok itu mulai menjamah tubuhnya. Sasi mengutuk dirinya sendiri
karena meski pikiran warasnya berusaha menolak, tetapi tubuhnya memberi reaksi
lain. Sasi merasakan gairahnya seperti obor yang disulut api. Dia menggumam,
serupa kucing betina di masa kawin.
Sasi langsung menyukai si lelaki dan cara bercintanya yang begitu liar. Dia merasakan puncak asmara yang demikian hebat, melebihi kepuasan saat bercinta dengan suaminya.
Pagi itu, Sasi terbangun dengan tubuh sangat lelah, tetapi wajahnya terlihat semringah. Dia memandang tempat tidurnya, tersenyum tipis, lalu melangkah keluar. Di ruang keluarga dia melihat Rimba tidur bersama Rinai, di depan televisi yang masih menyala.
Rimba terbangun saat mendengar suara langkah. “Hai, Ma,” sapanya. “Kenapa wajahmu terlihat sangat lelah? Kamu seperti habis bertempur,” guraunya.
Sasi merasa seperti maling jemuran yang tertangkap basah. “A-apa-apaan, sih, Papa? Aku haus,” jawabnya seraya pergi ke dapur.
Pagi itu semua berjalan seperti biasa, Sasi menyiapkan sarapan untuk Rimba yang akan berangkat kerja di pabrik dan mereka makan bersama tepat pukul enam lewat tiga puluh menit.
“Mama bau!” seru Rinai tiba-tiba.
“Mandi sana, Ma, kata Rinai bau tuh!” ujar Rimba.
“Enak saja, mama sudah mandi, kok.”
Rimba mengendus-endus tubuh Sasi. Benar kata anaknya, dia mencium bau langu seperti perpaduan air kencing kucing dan daun-daun yang ditumbuk. “Mandimu kurang bersih kali, Ma,” katanya.
Sasi mencium lengannya. “Harum, kok,” elaknya.
Rimba tak membahas bau tubuh Sasi lagi. Dia segera meraih tas kerja dan melangkah keluar. Rinai berlari-lari mengikutinya dari belakang.
“Papa, ikut,” kata gadis
kecil berusia lima tahun itu.
“Papa mau kerja, Sayang.
Itu ada Mama.”
“Nai takut, Pa, di rumah
ada hantu. Nai dengar suaranya tadi malam.”
“Nggak ada hantu, Nai,”
ujar Rimba.
“Nai, ayo sama mama,
nanti papamu telat,” kata Sasi membujuk anaknya. Namun, Rinai memeluk kaki sang
ayah begitu erat.
“Nai mau di rumah Nenek
saja,” katanya.
Rimba menghela napas
panjang kemudian menaikkan sang anak ke atas motornya.
Sasi mendesah dan
membiarkan keduanya pergi tanpa lambaian tangan. Wanita itu kemudian melangkah
ke kamar. Saat membereskan kasur, dia hampir tak mempercayai penglihatannya.
Setumpuk uang kertas berwarna merah teronggok di bawah bantal. Matanya seketika
berkilat-kilat. Belum pernah dia melihat uang sebanyak itu. “Dari mana
datangnya uang sebanyak ini?” desisnya. Tangannya terjulur menuju
lembaran-lembaran merah itu, meski sedikit tergetar oleh keraguan.
Setelah
beberapa saat dilambungkan euforia, Sasi terburu-buru melangkah menuju lemari.
Dia mengambil tas cangkong yang biasa dipakainya pergi arisan, lalu meletakkan
semua uang itu ke dalamnya.
Sasi
terduduk di sisi ranjangnya. Pipinya bersemu merah ketika mengingat mimpinya tadi malam. Apakah uang-uang itu ada
hubungannya dengan mimpi itu?
“Ah,
mustahil!” kata Sasi pada dirinya sendiri. Pasti itu uang bonus sang suami yang
diam-diam diletakkan di bawah bantalnya sebagai kejutan. “Ternyata Rimba
romantis juga,” bantinnya seraya tersenyum.
Sasi
berusaha melupakan mimpi itu. Namun, malam-malam berikutnya, si lelaki asing kembali
datang dalam mimpinya dan keesokan harinya ada setumpuk uang di bawah bantal. Perlahan-lahan,
Sasi mulai menyukai semua itu. Percintaannya dengan sosok itu, juga uang di
bawah bantalnya. Sekarang, dia tidak perlu takut kekurangan. Tak lama lagi,
bukan tidak mungkin mereka bisa membeli rumah sendiri, tidak mengontrak seperti
sekarang ini.
Sasi tersenyum semringah,
meskipun dalam hati kecilnya ada yang memberontak. Dia tahu bahwa apa yang
terjadi pada dirinya itu sesuatu yang salah. Namun, Sasi merasa bahwa itu bukan
salahnya. Sama sekali bukan.
Sasi melangkah keluar
rumah sendiri. Rinai kini lebih sering berada di tempat neneknya. Gadis kecil
itu tidak pernah mau berada di rumah jika papanya kerja. Sasi menuju rumah
Dinar, tetangga sekaligus sahabatnya. Dia ingin menceritakan segala keanehan
yang terjadi pada dirinya.
Dinar menerima kedatangan
Sasi dengan senyum lebar. Mereka segera duduk di beranda rumah yang halamannya
dipenuhi pohon-pohon rindang. Pandangan Sasi tampak menerawang jauh. Dinar
menyenggol lengannya. “Ada apa, sih?”
Sasi menghela napas
dalam-dalam kemudian memandang Dinar dengan tatapan sangat aneh. Setidaknya
Dinar baru melihat tatapan itu sekarang.
“Aku ingin menceritakan
sesuatu padamu. Tapi tolong, jangan pernah bilang kepada siapa-siapa, termasuk
kepada suamiku.”
Hati Dinar mendadak
tegang. Dia balas menatap sang sahabat. Mungkinkah Sasi telah berselingkuh?
Pikiran Dinar langsung mengarah ke sana.
“Mungkin kamu tak akan
percaya ceritaku, tetapi ini nyata.”
“Aku siap
mendengarkannya,” kata Dinar dengan dada berdebar-debar.
Dengan tersendat-sendat,
Sasi menceritakan semua yang telah terjadi padanya. Dinar mendengarkan dengan
perasaan mual seperti ibu hamil di trimester pertama. Cerita Sasi
sungguh-sungguh gila! Entah bagaimana sahabatnya itu terlibat dengan makhluk
yang mungkin jin atau ....
“Si, kurasa kamu harus
pergi ke orang pintar, atau lebih bagus lagi ke kyai. Kalau lama-lama dibiarkan,
bukan tidak mungkin kamu akan terjebak selamanya dengan makhluk yang bahkan
kamu tidak tahu itu apa.”
“Tapi, Nar, aku mulai
menyukainya,” jawab Sasi dengan wajah murung.
“Apa? Kamu gila! Sadar
nggak, kalau keluargamu bisa hancur? Pelan-pelan kamu akan mulai dijauhi Rinai dan
mungkin Rimba bisa menceraikanmu jika tahu tentang semua ini.”
“Rimba tidak akan tahu
jika kamu tidak cerita.”
“Yah, aku tidak mungkin
menghianati kamu. Entah kalau Rimba tahu sendiri. Ketika kamu mendesah-sedah
dalam mimpimu misalnya?” Dinar menatap Sasi tajam. “Bagaimana kamu bisa
melakukan itu setiap malam? Apa Rimba tidak pernah menyentuhmu?”
“Tidak. Sejak aku
bermimpi tentang sosok itu, dia selalu tidur di depan televisi, karena anakku
tidak mau tidur di kamar kami.”
“Dia tidak pernah meminta
jatah?”
Sasi menggeleng.
“Kurasa makhluk itu juga
mempengaruhi pikiran suamimu.” Pandangan Dinar meredup. Ada yang mengusik dalam
benaknya.
Sasi menatap sepasang
mata Dinar dengan tatapan yang sama. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu.
“Kamu harus pergi ke
kyai, Si. Aku akan mengantarmu,” kata Dinar.
“Aku belum siap, Nar. Aku belum siap
kehilangan semuanya.”
“Si, berhentilah sebelum
semuanya terlambat.”
Sasi tidak menjawab.
Wanita itu kemudian berpamaitan kepada Dinar.
Sore harinya, saat Rimba
pulang kerja, Dinar mengintipnya dari jendela. Lelaki itu terlihat pulang
bersama Rinai, dengan motornya baru. Hanya dengan melihatnya, Dinar tahu harga
motor itu cukup mahal. Peluh menetes di keningnya, tengkuknya tiba-tiba terasa
dingin.
Rimba segera masuk rumah.
Dia memanggil-manggil Sasi yang sedang asyik memasak di dapur. Rimba merasakan
suasana rumahnya yang begitu dingin dan suram, meskipun lampu-lampu terlihat
sudah menyala.
“Sudah pulang, Pa?”
Rimba menurunkan Rinai
dari gendongannya kemudian mencium pipi istrinya. Aroma langu campuran bau
kencing kucing dan daun-daun tumbuk yang langsung menyengat hidung. Dia
memandang istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kenapa, Pa?”
“Kamu bau!” ujar Rimba
seraya duduk dan mencomot sepotong tempe goreng.
Sasi mencebik kemudian
segera mengangkat Rinai dan mendudukkannya ke kursi.
“Ma, ada kejutan
untukmu,” kata Rimba. Dia menunjukkan sebuah kunci.
“Kunci apa ini, Pa?”
“Motor, Ma. Motor yang
selama ini aku impi-impikan.”
“Benarkah?” Sasi
terbelalak tak percaya.
“Iya, Ma. Dan motor tua
kita sudah aku jual sama Parmin. Cuma laku empat juta.”
“Tapi, Pa, dari mana kamu
mendapat uang begitu banyak untuk membelinya? Bukankah harganya sangat mahal
dan gajimu hanya cukup buat kita makan, bayar kontrakan dan sedikit menabung
untuk pendidikan Rinai?”
“Pokoknya ada deh. Kamu
nggak usah mikirin itu.”
Sasi terpaku di tempat
duduknya. Dia teringat sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak bertemu Dinar
tadi. Mungkin tadi Dinar juga ingin menyampaikan padanya. Sial! Sasi benci
pikirannya kali ini. Matanya menatap tajam sang suami. Mungkinkah lelaki itu
menjadikan dirinya tumbal pesugihan?
Palembang, 13 Januari 2021
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.