Kamar 705

 

Jam sebelas malam, dan Pak Taman yang seharusnya masuk shift tiga belum juga datang. Aku yang hari ini dapat giliran shift kedua, belum bisa meninggalkan counter restoran karena belum ada yang menggantikan. Sebenarnya ini agak menyebalkan. Namun, mau bagaimana lagi?

Anak kitchen sudah pamit pulang lima belas menit yang lalu. Ya, enak sekali mereka: tidak ada yang harus jaga malam, jadi tidak perlu menunggu ada yang menggantikan di shift ketiga. Restoran hotel ini memang hanya menjadwalkan satu orang saja untuk berjaga hingga pagi. Selain karena keadaan hotel yang tidak begitu ramai, mereka juga enggan menambah—atau menggaji—karyawan lagi.

Hampir tiga puluh menit, Pak Taman belum juga menampakkan batang hidungnya. Kantuk mulai menyerang. Kuputuskan untuk membuat kopi sambil memutar lagu-lagu slow guna mengusir sepi. Ketika tengah menuangkan air panas ke cangkir, tiba-tiba alunan musik dari speaker ponselku berhenti. Nama Pak Taman terpampang jelas di layar, lengkap dengan dua simbol khas panggilan: merah dan hijau.

“Ratna, maaf ya. Saya telat. Ban motor saya bocor.”

Aku mengembuskan napas kasar. Kuingat-ingat lagi, mimpi apa aku semalam, hingga mendapatkan nasib sial seperti sekarang?

“Kira-kira sampai sini jam berapa, Pak? Saya capek, nih.”

“Maaf ya, saya masih cari tambal ban ini.”

Oh, Tuhan! Benar-benar menjengkelkan! Terpaksa aku mengiakan dan bersedia menggantikan tugas Pak Taman hingga dia datang. Tentunya setelah meminta kompensasi kerugian berupa sekotak terang bulan rasa cokelat keju dan sebungkus nasi goreng ayam. Hei, tidak ada yang gratis bagi tenaga anak kos seperti aku!

Pukul 23.45, dan aku sudah menghabiskan cangkir kopi kedua. Berada sendirian di ruangan sebesar ini, ternyata sangat membosankan. Kenapa Pak Taman belum sampai juga? Sebenarnya, aku juga sedang memikirkan: bagaimana caranya aku pulang? Apa jalanan gang menuju kos masih ramai? Apa Mas Tulus—satpam hotel—bersedia meninggalkan pos sebentar untuk mengantarku pulang? Sepertinya, lain kali aku tidak akan mau menunggu di counter sendirian seperti sekarang. Kenapa tadi aku tidak pulang saja bersama anak-anak kitchen?

Tiba-tiba, telepon di sebelahku berdering keras, membuatku sedikit terlonjak karena terkejut. Huft! Ternyata begini rasanya berjaga malam sendirian. Sebenarnya aku tak habis pikir, kenapa tamu-tamu hotel yang menginap itu tidak tidur saja sampai pagi? Apa mereka begitu kurang kerjaan, sampai-sampai harus membuat karyawan restoran tetap bekerja tengah malam begini?

Di layar telepon, terpampang tulisan: ROOM 705. Aku segera mengangkat dan menyapa dengan suara penuh keramahan, khas pegawai hotel.

Sedetik ....

Dua detik ....

Tiga detik ....

Hingga sekian detik, tidak ada jawaban.

“Halo, selamat malam. Room service departement, ada yang bisa saya bantu?” ulangku sekali lagi.

Kreseeet ... kreseeet ....

Suara dari speaker telepon itu semakin tak beraturan, hingga akhirnya kuputuskan untuk menutupnya. Ah, mungkin orang iseng.

Tak sampai semenit, telepon berdering lagi. Aku mengangkatnya lagi, lalu terdengar suara-suara berisik seperti suara gelombang radio—mendesis panjang. Kuputuskan untuk menutupnya lagi. Telepon berbunyi lagi, kuangkat lagi, berdesis lagi, kututup lagi. Itu terjadi berulang kali.

Kira-kira ketika telepon ketujuh dari kamar yang sama, aku memberanikan diri untuk membentak siapa pun yang tengah iseng dan membuat darahku naik ke ubun-ubun.

“Hei, apa tidak ada yang menyenangkan bagimu selain mengerjai anak magang?”

Hening.

Saat itulah, aku merasakan angin berembus di telingaku. Iya! Di telinga kanan yang saat ini tengah menempel dengan gagang telepon. Seperti ada yang meniup dari samping ... dari speaker yang kini mengeluarkan suara tawa .... Entah bagaimana menyebutnya. Suara itu lirih, berat, setengah menggeram, terdengar serak, dan ....

“Ratna!”

Aku menjerit dan spontan melempar gagang telepon itu. Rupanya Pak Taman yang menepuk pundakku.

“Bikin kaget aja, sih, Pak?!”

Pak Taman hanya diam sambil menatapku, lalu menyodorkan kresek putih.

Aku yang masih berusaha menetralkan degup jantung, menerima kresek itu sambil menggerutu. “Lama banget, sih, Pak. Aku bosen di sini sendirian. Ini gimana ntar pulangnya? Galau, kan, aku?”

Pak Taman hanya tersenyum kecil, lalu membenarkan letak gagang telepon yang tadi sempat kulempar. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Aneh, apa Pak Taman sakit? Oh, mungkin dia lelah karena harus mendorong motornya sampai bertemu tambal ban!

Ah, tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Kulirik jam dinding, sudah lewat tengah malam, dan aku masih harus jalan kaki sendirian pulang ke kos. Jujur saja, kejadian telepon tadi berhasil membuatku semakin jengkel dengan hal-hal tidak menyenangkan yang harus kualami malam ini. Aku juga penasaran, siapa yang menginap di kamar itu?

Kuambil tas dan jaket dari loker karyawan di dekat pantry. Kulihat Pak Taman tengah membaca buku daftar tamu yang menginap malam ini di hotel. Saat aku berpamitan, dia hanya menoleh sekilas. Dasar sok senior! Apa susahnya mengucapkan terima kasih karena sudah menggantikan shift-nya selama satu jam lebih?

Saat keluar dari pintu samping restoran, aku bertemu Mas Tulus. Sepertinya dia baru saja berkeliling hotel untuk memeriksa keamanan.

“Lho, kok baru pulang, Na?” tanya Mas Tulus.

“Iya, Pak Taman telat. Tuh, baru datang.” Aku menunjuk pintu kaca dengan dagu. Dari luar, terlihat Pak Taman masih serius menatap buku tamu.

“Mana? Saya nggak lihat Pak Taman datang.” Mas Tulus celingak-celinguk sambil menyorotkan senternya ke dinding kaca restoran yang kini lampunya sudah mati sebagian. Mulai jam sebelas malam, lampu di dining hall memang dimatikan, sementara lampu meja counter tetap menyala.

“Itu, lagi baca buku tamu di meja counter.

Mas Tulus beralih menatapku. Matanya memindai dari atas ke bawah, dari bawah ke atas lagi. Seperti ingin memastikan sesuatu. “Kamu pulangnya gimana? Saya nggak bisa antar, soalnya si.bos lagi nginep di sini. Nanti saya dimarahi kalau nggak ada di pos jaga.”

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, aku juga tidak berani pulang sendiri. Namun, bagaimana lagi? Tidak mungkin kalau aku aku harus menginap di hotel, bukan?

“Kamu naik motor saya aja, biar cepat sampai kos. Ini kuncinya. Ambil sendiri di parkiran.” Mas Tulus menyodorkan kunci motor dengan gantungan bola basket sebesar jeruk nipis kecil. “Besok pagi-pagi anterin ke sini, ya.”

Aku tersenyum lega. Oh, akhirnya ada yang peduli denganku. “Siap, Mas!”

Setelah berpamitan, aku langsung berjalan menuju parkiran. Namun, langkahku terhenti ketika melewati kamar 705. Entah kenapa, muncul rasa penasaran. Kejengkelan yang tadi sempat terlupakan, sekarang muncul lagi.

Alu berjalan mendekati teras kamar 705. Aneh, pikirku, kenapa lampunya mati sementara pintunya dibiarkan sedikit terbuka? Atau jangan-jangan ... ada maling masuk kamar tamu?

Masih dengan rasa penasaran yang tinggi, aku mengendap-endap mendekati pintu kamar. Tiba-tiba aku merasakan angin berembus menerpa wajahku, meninggalkan bau anyir di hidung. “Bau apa ini?”

“Ratna, kamu ngapain di sini?”

Sebuah suara membuatku terlonjak, jantungku seperti mau meledak. Lagi-lagi Pak Taman membuatku terkejut. Sial! Apa lagi kali ini?

“Maaf ya, sudah bikin kamu telat pulang. Saya tadi muter-muter cari penjual nasgor yang masih buka. Ketemunya agak jauh. Nih!” Pak Taman menyodorkan kresek putih kepadaku.

Aku menatapnya, bingung. Bukannya tadi .... “Pak, tadi Pak Taman udah ngasih bungkusan lho, ke saya. Ini?” Aku mengangkat kresek putih yang kubawa.

Pak Taman mengernyitkan dahi. “Itu dari siapa?”

“Dari Bapak lah! Tadi, kan, Pak Taman sendiri yang kasih ini buat saya.”

“Lho, saya baru datang, kok.”

Perasaanku mulai tidak enak. Jantungku semakin berdegup kencang. Tanpa sadar, kresek putih di tanganku terjatuh begitu saja ke lantai. “Pak Taman ... serius?” tanyaku terbata-bata.

Pak Taman hanya menatapku. Ekspresinya terlihat sama bingungnya. “Kamu ngomong apa, sih?”

Aku tak ingin menjawab, melainkan langsung berlari menuju restoran, untuk memastikan: siapa yang tadi datang menemuiku di sana? Terdengar suara Pak Taman memanggil, tetapi tak kuhiraukan. Sepertinya, dia juga tengah berlari menyusulku.

Sampai di depan pintu samping restoran yang terbuat dari kaca, aku berhenti. Sambil mengatur napas, kupandangi area restoran dari balik pintu kaca. Dining hall yang gelap, meja counter, dan ... seorang laki-laki setengah baya masih berdiri sambil memegang buku tamu.

Lututku terasa gemetar. Kakiku kebas, rasanya seperti tak menapak bumi. Laki-laki yang semula menunduk itu, kini mendongakkan kepala. Dari balik pintu kaca, aku bisa melihat wajahnya yang pucat, juga ... mata yang menatap kosong. Benar-benar kosong! Tanpa bola mata!

*

Kamar 705, dulunya adalah TKP pembunuhan seorang pegawai hotel oleh rekan kerjanya sendiri. Aku tidak tahu, juga tidak ingin tahu sebab apa dia dibunuh. Yang aku tahu dari mulut teman-teman senior hotel, di malam-malam tertentu, kamar 705 akan menelepon ke room service departement pada tengah malam. Menurut mereka, laki-laki itu berusaha meminta pertolongan ketika hendak dibunuh. Namun sayangnya, nasib baik tak berpihak kepadanya. Pegawai restoran yang tengah berjaga malam itu sudah bekerja sama dengan si pembunuh. Pegawai itu hanya mengangkat gagang telepon, lalu menaruhnya di atas meja.

Paginya, aku baru sadar bahwa tidak ada yang menginap di kamar 705. Padahal sebelumnya aku juga melihat buku tamu. Namun, entah kenapa malam itu tidak sedikit pun terlintas di pikiranku tentang hal itu.

Sejak malam sialan itu, aku bersumpah, tidak sudi menggantikan shift ketiga lagi meskipun hanya semenit! Yang lebih membuatku takut adalah: bungkusan kresek putih yang diberikan laki-laki—aku tidak mau menyebutnya hantu, arwah, setan, atau semacamnya—itu, ternyata benar-benar berisi terang bulan dan nasi goreng, tapi ... dalam keadaan bercampur tanah dan belatung.

 

Tamat

0 Komentar