Jam
sebelas malam, dan Pak Taman yang seharusnya masuk shift tiga belum juga
datang. Aku yang hari ini dapat giliran shift kedua, belum bisa
meninggalkan counter restoran karena belum ada yang menggantikan.
Sebenarnya ini agak menyebalkan. Namun, mau bagaimana lagi?
Anak
kitchen sudah pamit pulang lima belas menit yang lalu. Ya, enak sekali
mereka: tidak ada yang harus jaga malam, jadi tidak perlu menunggu ada yang
menggantikan di shift ketiga. Restoran hotel ini memang hanya
menjadwalkan satu orang saja untuk berjaga hingga pagi. Selain karena keadaan
hotel yang tidak begitu ramai, mereka juga enggan menambah—atau
menggaji—karyawan lagi.
Hampir
tiga puluh menit, Pak Taman belum juga menampakkan batang hidungnya. Kantuk
mulai menyerang. Kuputuskan untuk membuat kopi sambil memutar lagu-lagu slow
guna mengusir sepi. Ketika tengah menuangkan air panas ke cangkir,
tiba-tiba alunan musik dari speaker ponselku berhenti. Nama Pak Taman
terpampang jelas di layar, lengkap dengan dua simbol khas panggilan: merah dan
hijau.
“Ratna,
maaf ya. Saya telat. Ban motor saya bocor.”
Aku
mengembuskan napas kasar. Kuingat-ingat lagi, mimpi apa aku semalam, hingga
mendapatkan nasib sial seperti sekarang?
“Kira-kira
sampai sini jam berapa, Pak? Saya capek, nih.”
“Maaf
ya, saya masih cari tambal ban ini.”
Oh,
Tuhan! Benar-benar menjengkelkan! Terpaksa aku mengiakan dan bersedia
menggantikan tugas Pak Taman hingga dia datang. Tentunya setelah meminta
kompensasi kerugian berupa sekotak terang bulan rasa cokelat keju dan sebungkus
nasi goreng ayam. Hei, tidak ada yang gratis bagi tenaga anak kos seperti aku!
Pukul
23.45, dan aku sudah menghabiskan cangkir kopi kedua. Berada sendirian di
ruangan sebesar ini, ternyata sangat membosankan. Kenapa Pak Taman belum sampai
juga? Sebenarnya, aku juga sedang memikirkan: bagaimana caranya aku pulang? Apa
jalanan gang menuju kos masih ramai? Apa Mas Tulus—satpam hotel—bersedia
meninggalkan pos sebentar untuk mengantarku pulang? Sepertinya, lain kali aku
tidak akan mau menunggu di counter sendirian seperti sekarang. Kenapa
tadi aku tidak pulang saja bersama anak-anak kitchen?
Tiba-tiba,
telepon di sebelahku berdering keras, membuatku sedikit terlonjak karena
terkejut. Huft! Ternyata begini rasanya berjaga malam sendirian. Sebenarnya aku
tak habis pikir, kenapa tamu-tamu hotel yang menginap itu tidak tidur saja
sampai pagi? Apa mereka begitu kurang kerjaan, sampai-sampai harus membuat
karyawan restoran tetap bekerja tengah malam begini?
Di
layar telepon, terpampang tulisan: ROOM 705. Aku segera mengangkat dan menyapa
dengan suara penuh keramahan, khas pegawai hotel.
Sedetik
....
Dua
detik ....
Tiga
detik ....
Hingga
sekian detik, tidak ada jawaban.
“Halo,
selamat malam. Room service departement, ada yang bisa saya bantu?”
ulangku sekali lagi.
Kreseeet
... kreseeet ....
Suara
dari speaker telepon itu semakin tak beraturan, hingga akhirnya
kuputuskan untuk menutupnya. Ah, mungkin orang iseng.
Tak
sampai semenit, telepon berdering lagi. Aku mengangkatnya lagi, lalu terdengar
suara-suara berisik seperti suara gelombang radio—mendesis panjang. Kuputuskan
untuk menutupnya lagi. Telepon berbunyi lagi, kuangkat lagi, berdesis lagi,
kututup lagi. Itu terjadi berulang kali.
Kira-kira
ketika telepon ketujuh dari kamar yang sama, aku memberanikan diri untuk
membentak siapa pun yang tengah iseng dan membuat darahku naik ke ubun-ubun.
“Hei,
apa tidak ada yang menyenangkan bagimu selain mengerjai anak magang?”
Hening.
Saat
itulah, aku merasakan angin berembus di telingaku. Iya! Di telinga kanan yang
saat ini tengah menempel dengan gagang telepon. Seperti ada yang meniup dari
samping ... dari speaker yang kini mengeluarkan suara tawa .... Entah
bagaimana menyebutnya. Suara itu lirih, berat, setengah menggeram, terdengar
serak, dan ....
“Ratna!”
Aku
menjerit dan spontan melempar gagang telepon itu. Rupanya Pak Taman yang
menepuk pundakku.
“Bikin
kaget aja, sih, Pak?!”
Pak
Taman hanya diam sambil menatapku, lalu menyodorkan kresek putih.
Aku
yang masih berusaha menetralkan degup jantung, menerima kresek itu sambil
menggerutu. “Lama banget, sih, Pak. Aku bosen di sini sendirian. Ini gimana ntar
pulangnya? Galau, kan, aku?”
Pak
Taman hanya tersenyum kecil, lalu membenarkan letak gagang telepon yang tadi
sempat kulempar. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Aneh, apa Pak Taman sakit? Oh,
mungkin dia lelah karena harus mendorong motornya sampai bertemu tambal ban!
Ah,
tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Kulirik jam dinding, sudah lewat tengah
malam, dan aku masih harus jalan kaki sendirian pulang ke kos. Jujur saja, kejadian
telepon tadi berhasil membuatku semakin jengkel dengan hal-hal tidak menyenangkan
yang harus kualami malam ini. Aku juga penasaran, siapa yang menginap di kamar
itu?
Kuambil
tas dan jaket dari loker karyawan di dekat pantry. Kulihat Pak Taman
tengah membaca buku daftar tamu yang menginap malam ini di hotel. Saat aku
berpamitan, dia hanya menoleh sekilas. Dasar sok senior! Apa susahnya
mengucapkan terima kasih karena sudah menggantikan shift-nya selama satu
jam lebih?
Saat
keluar dari pintu samping restoran, aku bertemu Mas Tulus. Sepertinya dia baru
saja berkeliling hotel untuk memeriksa keamanan.
“Lho,
kok baru pulang, Na?” tanya Mas Tulus.
“Iya,
Pak Taman telat. Tuh, baru datang.” Aku menunjuk pintu kaca dengan dagu. Dari
luar, terlihat Pak Taman masih serius menatap buku tamu.
“Mana?
Saya nggak lihat Pak Taman datang.” Mas Tulus celingak-celinguk sambil
menyorotkan senternya ke dinding kaca restoran yang kini lampunya sudah mati
sebagian. Mulai jam sebelas malam, lampu di dining hall memang
dimatikan, sementara lampu meja counter tetap menyala.
“Itu,
lagi baca buku tamu di meja counter.”
Mas
Tulus beralih menatapku. Matanya memindai dari atas ke bawah, dari bawah ke
atas lagi. Seperti ingin memastikan sesuatu. “Kamu pulangnya gimana? Saya nggak
bisa antar, soalnya si.bos lagi nginep di sini. Nanti saya dimarahi kalau nggak
ada di pos jaga.”
Aku
terdiam sejenak. Sebenarnya, aku juga tidak berani pulang sendiri. Namun,
bagaimana lagi? Tidak mungkin kalau aku aku harus menginap di hotel, bukan?
“Kamu
naik motor saya aja, biar cepat sampai kos. Ini kuncinya. Ambil sendiri di
parkiran.” Mas Tulus menyodorkan kunci motor dengan gantungan bola basket
sebesar jeruk nipis kecil. “Besok pagi-pagi anterin ke sini, ya.”
Aku
tersenyum lega. Oh, akhirnya ada yang peduli denganku. “Siap, Mas!”
Setelah
berpamitan, aku langsung berjalan menuju parkiran. Namun, langkahku terhenti
ketika melewati kamar 705. Entah kenapa, muncul rasa penasaran. Kejengkelan
yang tadi sempat terlupakan, sekarang muncul lagi.
Alu
berjalan mendekati teras kamar 705. Aneh, pikirku, kenapa lampunya mati
sementara pintunya dibiarkan sedikit terbuka? Atau jangan-jangan ... ada maling
masuk kamar tamu?
Masih
dengan rasa penasaran yang tinggi, aku mengendap-endap mendekati pintu kamar. Tiba-tiba
aku merasakan angin berembus menerpa wajahku, meninggalkan bau anyir di hidung.
“Bau apa ini?”
“Ratna,
kamu ngapain di sini?”
Sebuah
suara membuatku terlonjak, jantungku seperti mau meledak. Lagi-lagi Pak Taman
membuatku terkejut. Sial! Apa lagi kali ini?
“Maaf
ya, sudah bikin kamu telat pulang. Saya tadi muter-muter cari penjual nasgor
yang masih buka. Ketemunya agak jauh. Nih!” Pak Taman menyodorkan kresek putih
kepadaku.
Aku
menatapnya, bingung. Bukannya tadi .... “Pak, tadi Pak Taman udah ngasih
bungkusan lho, ke saya. Ini?” Aku mengangkat kresek putih yang kubawa.
Pak
Taman mengernyitkan dahi. “Itu dari siapa?”
“Dari
Bapak lah! Tadi, kan, Pak Taman sendiri yang kasih ini buat saya.”
“Lho,
saya baru datang, kok.”
Perasaanku
mulai tidak enak. Jantungku semakin berdegup kencang. Tanpa sadar, kresek putih
di tanganku terjatuh begitu saja ke lantai. “Pak Taman ... serius?” tanyaku
terbata-bata.
Pak
Taman hanya menatapku. Ekspresinya terlihat sama bingungnya. “Kamu ngomong apa,
sih?”
Aku
tak ingin menjawab, melainkan langsung berlari menuju restoran, untuk
memastikan: siapa yang tadi datang menemuiku di sana? Terdengar suara Pak Taman
memanggil, tetapi tak kuhiraukan. Sepertinya, dia juga tengah berlari
menyusulku.
Sampai
di depan pintu samping restoran yang terbuat dari kaca, aku berhenti. Sambil
mengatur napas, kupandangi area restoran dari balik pintu kaca. Dining hall yang
gelap, meja counter, dan ... seorang laki-laki setengah baya masih
berdiri sambil memegang buku tamu.
Lututku
terasa gemetar. Kakiku kebas, rasanya seperti tak menapak bumi. Laki-laki yang
semula menunduk itu, kini mendongakkan kepala. Dari balik pintu kaca, aku bisa
melihat wajahnya yang pucat, juga ... mata yang menatap kosong. Benar-benar
kosong! Tanpa bola mata!
*
Kamar
705, dulunya adalah TKP pembunuhan seorang pegawai hotel oleh rekan kerjanya
sendiri. Aku tidak tahu, juga tidak ingin tahu sebab apa dia dibunuh. Yang aku
tahu dari mulut teman-teman senior hotel, di malam-malam tertentu, kamar 705
akan menelepon ke room service departement pada tengah malam. Menurut
mereka, laki-laki itu berusaha meminta pertolongan ketika hendak dibunuh. Namun
sayangnya, nasib baik tak berpihak kepadanya. Pegawai restoran yang tengah
berjaga malam itu sudah bekerja sama dengan si pembunuh. Pegawai itu hanya
mengangkat gagang telepon, lalu menaruhnya di atas meja.
Paginya,
aku baru sadar bahwa tidak ada yang menginap di kamar 705. Padahal sebelumnya
aku juga melihat buku tamu. Namun, entah kenapa malam itu tidak sedikit pun
terlintas di pikiranku tentang hal itu.
Sejak
malam sialan itu, aku bersumpah, tidak sudi menggantikan shift ketiga
lagi meskipun hanya semenit! Yang lebih membuatku takut adalah: bungkusan
kresek putih yang diberikan laki-laki—aku tidak mau menyebutnya hantu, arwah,
setan, atau semacamnya—itu, ternyata benar-benar berisi terang bulan dan nasi
goreng, tapi ... dalam keadaan bercampur tanah dan belatung.
Tamat
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.