Jemari Mbah Rasimah

 Karya : Lely Rosyidah

 

Ini sebuah kisah nyata, dari seorang Ibu paruh baya yang bertempat tinggal di daerah Sidoarjo. Sebut saja namanya Mbak Nur.

***

            Suara mesin jahit yang berisik, memenuhi ruang tamu Mbak Nur, ia sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya membuat tali untuk sandal. Tatkala beradu dengan lantunan azan isya yang syahdu, Mbak Nur segera menghentikan aktivitasnya. Mematikan mesin yang menemani hari-harinya mengais rezeki, kemudian bersiap wudu untuk melaksanakan salat jemaah di masjid.

Ia memang sudah terbiasa melaksanakan salat dengan berjemaah,  jarak dengan masjid yang tak begitu jauh, menjadikan alasannya. Ditambah didikan dari keluarga yang religius, membuatnya menjadi seorang ahli ibadah dan santun. Ia selalu ingat bahwa pahala orang yang yang berjemaah adalah 27 derajat, sungguh sayang jika sampai ia meninggalkan.

Gemuruh suara petir mulai bersahutan, pertanda akan turunnya hujan. Mbak Nur telah memakai mukena lengkap lalu berdiri di luar rumah, memandang ke atas langit. Kilatan cahaya petir menghiasi mendungnya angkasa malam itu.

"Buk, bawa payung," ujar Udin, anak bungsu Mbak Nur, remaja 16 tahun. Ketika mendapati sang Ibu akan beranjak pergi.

"Nggak usah, Nak. Paling cuma 15-20 menit saja, kan. Insya Allah masih aman," elaknya sembari menggunakan sandal jepit.

Udin adalah anak yang sedikit bandel, selalu malas jika disuruh berjemaah. Namun, ia begitu sayang dengan ibunya. Seperti saat ini, ketika mbak Nur mengajaknya ke masjid. Ia malah beringsut masuk ke dalam rumah tak memedulikan. Mbak Nur hanya berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Angin mulai terasa dingin berembus, bau tawar air sudah terasa ingin turun. Sebenarnya, jika melewati jalur selatan dari rumahnya, Mbak Nur hanya memerlukan jarak kurang lebih 50 meter saja. Namun, jalur itu harus melalui gang selebar satu meter, kemudian di dalamnya ada tanah kosong luas yang hanya bercahayakan beberapa lampu penerang kekuningan yang begitu redup.

Jika siang hari, tempat itu begitu ramai oleh anak-anak yang bermain hingga sore. Banyak sekali pepohonan tumbuh dan berbuah, beberapa anak senang memanjat dan bergelantungan di pohon-pohon besar yang ada di sana. Ada mangga, belimbing, jambu, srikaya, juwet, juga beberapa tanaman sayuran dan cabe yang biasa dipetik ibu-ibu untuk dimasak.

Namun, ketika menjelang senja, kebun kosong itu berubah menjadi tempat yang mencekam. Tak ada suara dan pergerakan apa pun yang akan ditemukan di sana. Kisah dan cerita orang-orang tentang sosok Mbah Rasimah, menjadikan kebun itu tempat yang paling dihindari ketika beralihnya waktu hingga menjelang pagi.

Di pojok tanah, tepatnya di belakang masjid. Terdapat sebuah rumah kosong yang hampir rubuh, rumah milik Mbah Rasimah, seorang dukun pijat. Dulu, Ia hidup sebatang kara, rumah itu pun dibangun atas kerelaan sang pemilik tanah sebab rasa kasihan. Dengan bantuan warga, didirikanlah sepetak rumah semi permanen. Setengah temboknya terbuat dari bata, bagian atasnya berupa dinding dari anyaman bambu.

Kala itu, beberapa hari ia tak nampak batang hidungnya, ada yang bilang ia memang sakit-sakitan. Tak pernah ada yang menjenguknya. Anak-anak yang bermain di sekitar rumahnya, sudah mencium aroma busuk bangkai, tetapi tidak ada yang menggubris.

Hingga suatu sore, saat seorang ibu mencari Mbah Rasimah untuk memijatkan anaknya. Barulah ketahuan dari mana asal aroma tak sedap itu, ibu itu berteriak tatkala menemukan tubuh Mbah Rasimah tergeletak di lantai dengan bau yang begitu menyengat. Entah, sudah berapa hari ia meninggal, tak ada yang tahu. Warga pun melakukan kewajibannya untuk memakamkan jasadnya secara layak.

***

Mbak Nur selalu memilih jalur timur saat jemaah subuh, magrib dan isya. Menghindari rumah Mbah Rasimah, melewati rumah-rumah warga. Meski jaraknya menjadi tiga kali lipat dari jalur selatan tadi, tak mengapa baginya. Daripada harus dihadapkan dengan tanah kosong yang mengerikan itu.

 

Sesampainya di masjid, imam sudah mengucap takbir, pertanda salat sudah dimulai. Bergegas ia menggelar sajadah dan mengikuti gerakan imam.

Ketika bacaan zikir sudah hampir selesai, hujan mulai bergemericik turun. Angin bertiup kencang menggoyangkan kelambu-kelambu masjid. Semua menoleh ke arah luar, sedikit cemas takut semakin deras. Ada beberapa makmum yang segera meninggalkan masjid, tanpa menunggu doa dari sang imam.

Ibu-ibu masih setia duduk mengangkat kedua tangan, mengamini doa imam, tanpa ada yang beranjak pergi. Sedang barisan makmum laki-laki hanya tinggal deretan saf depan saja.

Setelah imam membaca solawat, beberapa ibu mulai membubarkan diri. Menyisakan Mbak Nur, Lina, Mbak Lasmi dan Mbah Ijah saja.

"Mbak Nur, kita lewat selatan saja, ya! Biar cepet, takut tambah deras," tutur Lina, ibu muda tetangga sebelah rumahnya.

"Eh, nggak takut apa? Kalau aku sih ogah, kebayang tangannya Mbah Rasimah yang keriput dan lembut saat mijat aku dulu bikin merinding ... hiiihh!" sahut Mbak Lasmi menanggapi Lina sembari bergidik.

Mbak Nur terlihat sedikit bimbang, antara takut dan setuju, tetapi melihat keadaan hujan yang bertambah deras, membuatnya berpikir ulang.

"Mending lewat timur saja, Nur. Cari selamat, wong hujan air saja, kog. Basah dikit nggak papa, daripada uji nyali." Mbah Ijah berbicara sembari melipat mukenah dan sajadahnya, bersiap pulang.

Keempatnya sudah berdiri di ambang pagar, menutup kepala dengan sajadah. Rumah Mbak Lasmi dan Mbah Ijah yang berada di depan masjid, membuat mereka pamit berjalan duluan.

Mbak Nur merentangkan tangannya ke depan, merasakan seberapa deras air yang turun. Lina sudah memakai sandalnya, Mbak Nur pun mengikuti.

"Mbak, aku kepikiran anakku kuatir nangis. Aku lewat selatan saja, ya. Kalo sampean mau bareng ya, ayo! Tapi agak cepet ya!" ujar Lina yang diterima anggukan oleh Mbak Nur.

 

"Aku juga lupa punya jemuran yang belum kuangkat, Lin. Udin pasti nggak mau tahu," jawabnya cepat.

Lina mulai berjalan dengan langkah cepat, Mbak Nur yang usianya tak lagi muda, agak kewalahan mengikuti jejak Lina. Bahkan, Lina seakan tak mau tahu dan tak menoleh sedikit pun ke belakang.

Mukena Mbak Nur melorot, membuatnya terjungkal ke depan. Ia jatuh, berteriak memanggil nama Lina. Namun, sepertinya Lina sudah terlalu jauh dan tak mendengarnya.

Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, tubuhnya berjingkat, menemukan dirinya terduduk tepat di samping rumah Mbah Rasimah. Badannya mulai gemetar hebat, perlahan ia mencoba berdiri, mukenanya sudah kotor dan basah oleh hujan dan tanah. Mbak Nur mengibas-ibaskan sajadah di kakinya untuk membersihkan tanah yang menempel.

"Mbak Nur ...."

Sontak ia menoleh ke belakang, mencari sumber suara. Tak ada siapa pun, hanya kegelapan yang menyelimuti tempatnya berdiri saat itu. Napasnya mulai memburu, ia bergerak cepat melangkah. Akan tetapi, terjerembab tersandung akar pohon.

Isakkan mulai terdengar dari bibirnya, ketika melihat kakinya mengucurkan darah, sekali lagi ia terdiam. Mendengarkan suara seseorang memanggil namanya lagi.

Ia menoleh ke samping kanan, tepat di tembok bagian atas, ditemukannya jari jemari menempel dalam lubang-lubang dinding bambu. Dari ujungnya terlihat tetesan darah mengucur membuatnya semakin lemas. Ia berteriak kencang saat itu juga. Kemudian jatuh pingsan di bawah guyuran hujan yang semakin deras.

***

Hampir satu jam, Udin mulai celingukan di teras rumahnya menanti kedatangan Ibunya. Ia mulai cemas, berkali-kali melirik jam dinding di ruang tamunya. Hujan sudah mulai mereda, tetapi sang ibu belum juga muncul.

Deru motor terasa mendekat, berhenti di depan rumahnya. Bergegas Udin mendekat pada sosok di atas motor yang ternyata adalah Kakaknya, Syafik. Baru pulang dari bekerja.

"Mas, susulin Ibu, dong! Udah satu jam tapi belum pulang juga dari masjid!" tuturnya menjelaskan.

 

Tanpa menjawab, Syafik segera melajukan motornya menuju masjid. Ia terlihat celingukan melihat keadaan masjid yang sudah gelap bagian dalamnya. Hanya lampu-lampu depan yang menyala mengitari masjid.

Mbak Lasmi yang melihat sosok Syafik, ke luar rumah dan menanyainya.

"Fik, cari apa?"

"Ibuk, Mbak Las. Katanya Udin belum pulang dari masjid."

"Loh, kog, bisa? Sudah pulang bareng saya tadi. Coba kamu tanya Lina, dia tadi yang mengajak ibukmu pulang bareng."

Syafik berterima kasih dan berpamit setelah mendapat penjelasan dari Mbak Lasmi, kemudian bergegas pulang menemui Lina.

Udin melihat Kakaknya pulang, bergegas berdiri dari kursi kayu di teras rumahnya. Akan tetapi, sang kakak malah berbelok ke rumah sebelah. Segera ia berlari kecil mendekatinya.

"Ibu mana, Mas?"

Lina dan suaminya yang mendengar suara orang di depan rumah, ke luar untuk mencari tahu.

"Mbak Lina, ngapunten. Ibu di mana? Kog, belum pulang?"

Lina terlihat celingukan sambil menggendong bayinya.

"Loh, masak? Tadi berjalan di belakang saya, kog! Lewat rumah Mbah Rasimah," jelasnya yang membuat suami dan kedua lelaki bujang di depannya tercengang.

"Astaghfirullah ... kenapa lewat situ, sih, Buk?" tanya suaminya, Lina terlihat merasa bersalah, menunduk dan mengembuskan napas pelan.

"Maaf banget, loh, Mas. Tadi hujannya makin deras, aku buru-buru tanpa melihat belakang, takut anakku bangun."

Udin dan Syafik hanya mengangguk, ada siratan kecewa di wajah keduanya. Kemudian tanpa mengucap kata apa pun, keduanya berjalan cepat menyusuri jalur selatan rumahnya.

 

Betapa terkejutnya kedua pemuda itu, tatkala menemukan Ibunya tergeletak dengan luka di kaki yang menganga, darahnya merembes. Mukenanya sudah tak lagi putih, bercampur dengan lumpur. Wajahnya pucat membiru, sebab terlalu lama terguyur hujan.

Tubuh Mbak Nur segera dibopong kedua anaknya pulang, para tetangga yang mengetahui, mulai bergerumun memenuhi rumahnya, ingin tahu apa yang terjadi.

Setelah dibersihkan dan diganti baju. Udin segera membalurkan kayu putih di sekujur tubuhnya. Beberapa menit kemudian ia tersadar, semua orang berucap hamdalah.

Mbak Nur celingukan, ditanyai beribu pertanyaan oleh kedua anaknya. Ia menjelaskan segala apa yang terjadi dengan mulut gemetar. Semua terlihat bergidik menerima penjelasannya. Detik itu juga, ia berjanji tak akan pernah melewati jalanan itu lagi saat malam hari.

 

Tamat

0 Komentar