Oleh: Ani karmila
Aku terlahir dengan kepekaan terhadap
mahluk tak kasat mata yang lebih dari orang lain, melihat mereka dalam berbagai
bentuk sudah tak aneh bagiku. Dulu aku pernah mengalami dua kali mati suri,
setelah lahir dan saat usiaku menginjak lima tahunan.
Sedari bayi aku dirawat dan
dibesarkan oleh kakek dari pihak ibu, beliau mantan kuncen sebuah tempat
pesugihan di suatu daerah di Jawa Barat. Beliau insyaf melakukan hal tersebut
karena terdapat banyak mudharat, apalagi jika berhubungan dengan pesugihan.
Pocong, kuntilanak, genderewo dan
sebagainya sudah menjadi hal biasa bagiku. Bahkan seringkali penampakkan yang
ada terlihat lumrahnya seperti manusia biasa, mereka kadang berbaur di antara
manusia. Jika sudah begitu aku pun sering salah mengira, disangka manusia
ternyata setan, hahaha.
Pernah suatu kali ada kejadian,
tentang kematian seseorang yang mati digigit ular di sawah dekat rumah. Aku
tinggal di jalan Lebak Bandung, kala itu masih banyak persawahan warga.
Gedung-gedung belum menjamah daerahku. Banyak warga yang ketakutan jika harus
melewati jalan melalui persawahan. Konon, ada beberapa orang yang bertemu sosok
hantu orang yang meninggal digigit ular tersebut.
Jalan tersebut merupakan jalan pintas
menuju tajuk tempatku mengaji, pulang pergi selalu melewatinya. Malam itu hanya
diriku seorang diri yang pulang melewati jalan persawahan, sementara
teman-temanku tak berani pulang melalui jalan yang sama denganku akibat rumor
yang beredar. Aku tak peduli, malas jika harus berkeliling jauh ke jalan
alternatif. Aku ingin segera sampai di rumah.
Hingga aku sendiri pulang berjalan
melewati jalur petakan sawah, ditemani sinar bulan yang memancar terang
cahayanya. Beberapa ratus meter di depan dekat sepetak sawah kulihat seseorang
berdiri, perawakannya dari jauh terlihat gempal.
Semakin dekat kumenuju jalan di mana
ada seseorang yang berdiri, terlihat sosok itu menunduk. Saat semakin dekat,
ternyata sosok itu mengerikan. Wajahnya membengkak memar biru kehijauan, begitu
pula badannya. Mata yang tinggal warna putih menatapku datar, bukannya
ketakutan aku melewatinya dengan santai. Seketika aku berbalik, lalu mengejek
sosok tersebut.
"Gak takut weee!" sorakku
sambil meleletkan lidah, tak lama sosok itu hilang.
Cerita awal memang tak seram, tapi
yang aku akan ceritakan kali ini benar-benar menguji nyali. Mengenai pesugihan
dan tumbal. Apakah kau tahu jika penumbalan pun ternyata bisa gagal?
Ya, aku merasakan sendiri, pernah ada
yang ingin menumbalkanku pada mahluk mengerikan yang kuhadapi langsung.
Pulang bermain, aku menemukan
lembaran uang yang tercecer di perempatan jalan. Senang melihat banyak uang
yang bisa kujajankan, maka uang itu kuambil semuanya. Tanpa tahu bahwa itu
umpan tumbal pesugihan.
Uang itu kugunakan untuk membeli
mainan dan jajanan kesukaan, semua kubelanjakan tanpa sisa. Hingga saat malam
tiba ketika hendak melelapkan mata, aku merasakan hawa yang tak biasa di
kamarku yang terletak di lantai dua rumah kakek. Dinding di samping kiri
ranjang, terdengar seperti dicakar-cakar oleh kuku yang tajam.
Aku yang hendak memejamkan mata,
mengurungkan niat. Kuedar mata di sekeliling kamar yang bercahaya remang, ada
sesuatu yang mengawasi di ruangan 3 x 3 meter ini. Benar saja di depan
ranjangku, muncul sesosok bayangan tinggi besar hendak menerkam. Ia kemudian
menampakkan diri, sosok hitam dengan mata menyala nyalang menatapku. Taring
mencuat dari bibir atas dan bawah, ia menggeram. Menjulurkan tangan yang
berkuku hitam panjang hendak mencekikku.
"Rek naon maneh?(mau apa
kamu?'bentakku, membuat sosok itu tertegun.
" Silaing geus nyokot duit
tumbal kawula, ayeuana ku kawula silaing rek dibawa ka alam kawula,(kamu sudah
mengambil uang tumbalku sekarang aku akan membawamu ke alamku),"ancam
sosok itu suaranya berat dan serak.
"Sok we ari bisa mah!(silakan
saja kalau bisa!)" gertakku menyeringai.
Mahluk itu maju, saat akan
mencengkram leher tiba-tiba gerakannya terhenti. Kemudian ia menjerit ketakutan
dan menghilang entah kemana. Padahal aku tak melakukan apapun hanya menggertak
saja.
Walau tak melawan anehnya badanku
terasa lemas, karena lelah aku berteriak memanggil kakek dan nenek yang waktu
itu belum tertidur. Mendengar cucunya berteriak, sigap mereka datang ke kamar.
Kakekku langsung sadar saat membuka kamar, bahwa ada sesuatu yang masuk hendak
menyerang cucunya.
"Aya naon Jang?(ada apa,
Jang?)" tanya nenek panik.
"Keun weh teu nanaon budak mah
Ni, jung pangnyandakkeun cai. Urang ubaran ku Aki,(sudah gak apa-apa anak mah
Nek, sana ambilin air. Diobati sama
Kakek)" tegur Kakek melihat kepanikkan nenek padaku.
"Apa yang datang tadi?"
tanya kakek tanpa basa-basi.
"Ada buta(raksasa) hitam Ki,
yang mau nyulik aku buat dibawa ke alamnya." Aku berujar sembari mengelap
peluh yang membanjiri setelah mahluk itu menghilang.
"Memangnya kamu mengambil
sesuatu di jalan?"
Kakekku tahu aku telah mengambil
sesuatu hingga membuat mahluk itu datang. Dengan kata lain, uang tumbal itu
sebagai penanda bahwa aku korban untuk pesugihan seseorang di wilayahku.
"Iya, tadi siang aku mengambil
uang di perempatan jalan dan kuhabiskan buat jajan," jawabku santai. Kakek
hanya tertawa bukannya menasehati atau memarahiku. Padahal aku sudah ditandai
sebagai calon tumbal pesugihan.
"Kok bisa ya Ki, mahluk itu
tiba-tiba mencelat kabur menghilang. Bahkan sampai berteriak ketakutan?"
Aku penasaran dengan kelakuan buta tadi.
"Wajar, dalam dirimu ada sosok
kuat bahkan sekali serang, buta itu bisa lebur oleh kekuatannya," jawab
kakek. Aku hanya melongo tak mengerti maksudnya waktu itu.
Selain menjadi korban tumbal, aku pun
pernah menjadi pelaku pesugihan, maksudku calon pelaku pesugihan. Karena
upayaku untuk kaya raya dengan jalan pintas menyugih ternyata gagal total.
Aku sudah dewasa, mulai mengenal
dunia malam. Sering mabuk, memalak, berkelahi bahkan pernah menginap di hotel
prodeo gara-gara kelakuanku. Hingga suatu hari aku melihat banyak mahluk-mahluk
aneh di rumah orang-orang kaya. Mereka melakukan pesugihan demi kekayaan
instan, mudah sekali mereka mendapatkan harta. Pikirku waktu itu.
Timbullah rasa ingin mencoba,
bagaimana rasanya menjadi kaya dengan cara tersebut. Kuputuskan pergi ke gunung
di daerah Sumedang yang biasa dijadikan tempat pesugihan. Ingin menyugih pada
siluman monyet, kuncen menunjukkan jalan menuju sebuah kerjaan siluman monyet
yang berada di tengah hutan di gunung tersebut.
Kuncen hanya mengantar sampai tempat
yang disebutnya gerbang kerajaan, hanya terlihat oleh orang tertentu seperti
kuncen dan juga aku. Orang biasa akan melihatnya sebagai dua buah pohon besar
yang tumbuh berdampingan. Namun aku melihatnya sebuah gerbang dengan hiasan
kepala manusia, masih bergerak-gerak. Sesekali merintih meminta tolong.
Tanpa ragu aku melangkah masuk ke
dalam gerbang, bukan sambutan hangat dari para siluman monyet sebagaimana
menyambut penyugih lainnya. Mereka bersiaga hendak menyerang, saat aku datang.
Mereka menjerit, mencelat-celat
kesana kemari, menyeringai dan mengancam memperlihatkan taring-taringnya yang
tajam, mulai dari monyet berukuran kecil hingga seukuran gorila semua memasang
kuda-kuda waspada untuk menyerang.
"Nyingkah manusaaa!(Pergi
manusiaaa!)" Lantang mereka,"teu sudi kami narima silaing! Ingkah!
Ingkah.(tak sudi kami menerima kau! Pergi! Pergi)"
Aku keheranan belum juga menyampaikan
keinginan pada raja siluman monyet, baru melangkah masuk saja sudah diusir.
Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak, aku menoleh. Ternyata sang
kuncen, ia menarik lenganku. Menyeret badanku keluar dari kerajaan monyet
tersebut.
"Aduuuh Jang, naha teu
ngawartosan yen Ujang gaduh ceupeungan dugi ka ngageunjleungkeun kerajaan
siluman monyet?(Aduuuh Jang, kenapa tidak memberitahu kalau Ujang punya
pegangan yang sampai membuat gaduh kerajaan siluman monyet?)" todong sang
kuncen gelebah.
"Har, duka bah da abdi mah teu
nyeupeung nanaon (Lah, gak tau bah aku gak megang apa-apa)" elakku
pura-pura polos.
"Mangga Ujang mah uih deui weh,
teu sanggeum Abah mah nganter komo dugi ka kieu,(Silakan Ujang pulang lagi
saja, gak sanggup Abah mengantar apa lagi sampai seperti ini)"
Aku pun kembali diusir, kali ini oleh
kuncen. Namun, aku tak kapok dengan ambisiku menyugih pada siluman. Kembali
datang pada sebuah gunung, di mana tempat itu terkenal dengan menyugih pada
Ipri ular. Seperti biasa kuncen mengantarku menuju sebuah gua tempat para
kerajaan Ipri ular berada.
Berbeda dengan siluman monyet, aku
bisa masuk dengan mudah ke dalam kerajaan. Sepanjang perjalanan menuju tahta
tempat sang ratu ipri berada, aku disuguhkan dengan pemandangan luar biasa
membangkitkan birahi,
perempuan-perempuan tak berbusana, meliuk-liukkan badan erotis melambaikan
tangan tersenyum menggoda. Mereka cantik, mulus sempurna bak bidadari. Namun,
aku tahu mereka memakai wujud semu sebagai manusia, aslinya mereka adalah ular.
"Aa, jadikan aku istri,"
rayu mereka melambai-lambai tangan, menatap manja dengan suara mendayu-dayu
menggairahkan.
Sayang, saat bertemu ratu mereka,
yang berwujud manusia setengah ular dengan sosok sempurna serta amat memesona.
Untuk kedua kalinya aku ditolak.
"Mangga, silakan angkat kaki
dari sini. Kami tak mau ambil resiko oleh bawaan anda, yang bisa menghancurkan
kerajaan kami!" tolak sang ratu.
'Tak jadi orang kaya lagi,'gerutu
batinku, kenapa sulit sekali ya bagiku untuk mahluk jadi pelaku penyugihan.
Padahal melihat tetangga atau orang-orang malah mudah sekali pesugihan.
Tak gentar, aku masih mau melakukan
sebuah pesugihan kali ini terakhir kalinya aku mencoba. Diakhir pencarian ini
jugalah diriku tersadar bahwa ternyata pesugihan itu bukanlah hal yang mudah
dijalani.
Sebelum memutuskan untuk menyugih aku
menemui seorang kuncen, ia memperlihatkan sebuah bejana berisi air yang akan
memperlihatkan sebuah syarat untuk pesugihan selanjutnya yang akan aku coba
lakukan.
"Sok mangga lihat dulu dalam
bejana, jika muncul sosok seseorang yang kau kenal itulah yang harus kau
tumbalkan," ucap kuncen tersebut.
Pesugihan ini langsung meminta tumbal
dengan cara memperlihatkan korbannya terlebih dulu, aku menatap dalam becana
berisi air itu. Riak air yang semula perlahan, mendadak kencang gelombangnya
perlahan memperlihatkan wajah orang-orang yang kukenal. Alu terbeliak, lalu
memutuskan menolak tawaran sang kuncen.
"Ah, gak jadi Bah. Gak mungkin
saya harus menumbalkan mereka. Salah satu alasan aku ingin cepat kaya adalah
untuk mereka. Jika mereka ditumbalkan untuk apa kekayaanku itu?" tolakku
seketika langsung pamit pulang.
Teringat wajah yang timbul di bejana
tadi, wajah dari kedua orang tua dan saudara-saudaraku seketika menyadarkan
sanubari. Selain itu kemungkinan ditolak mahluk yang akan kujadikan sesembahan
penyugih akan terjadi kembali. Sosok pendamping yang berusia tua dalam diri ini
menjadi salah satu penghalangnya, kesaktian yang dimilikinya mampu meluluh
lantakan kerajaan siluman apapun yang akan kutemui.
Itulah sekelumit kisah yang
kuceritakan pada istriku saat ini. Ia yang sangat penasaran dengan kelebihanku,
membuatnya kecanduan mendengarkan pengalaman-pengalaman gaib yang diri ini
alami. Tak semua aku ceritakan karena beberapa bisa berdampak pada orang yang
memiliki kepekaan seperti diriku.
0 Komentar
Untuk fast respon silahkan langsung menghubungi nomor yang sudah tertera.
Terima kasih.